Sentimen Tarif 19% Tak Guncang IHSG, Analis Sarankan Investor Pilih Saham Liquid

Sentimen pemberlakuan tarif impor 19 persen dari Amerika Serikat terhadap Indonesia belum sepenuhnya mengguncang kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Diterbitkan 16 Juli 2025, 16:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Sentimen pemberlakuan tarif impor 19 persen dari Amerika Serikat terhadap Indonesia belum sepenuhnya mengguncang kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurut analis pasar, IHSG saat ini masih menunjukkan ketahanan, meski dinamika kebijakan dagang global mulai meningkat tensinya.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan bahwa selain isu tarif impor AS, pelaku pasar juga menantikan arah kebijakan Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga acuannya. Penurunan BI rate diproyeksikan bisa menjadi katalis positif untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

"Nah, kalau terkait dengan kinerja pergerakan IHSG, so far masih relatively sustainable. Namun, daripada dinamika penetapan tarif Trump khususnya. Bisa jadi kita juga mengatakan terkait dengan hasil BI rate seperti apa, karena konsensus memproyeksikan BI akan menurunkan BI rate di sekitar 25 basis point menjadi 5,25 persen,” kepada Liputan6.com, Rabu (16/7/2025).

Pilih Saham Liquid

Terkait dengan dinamika kerja sama dagang dan sektor strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat, Nafan juga menyinggung soal kesepakatan pembelian energi, produk pertanian, serta pesawat Boeing oleh Indonesia. 

Ia menilai, meskipun kerja sama itu membawa manfaat di sisi modernisasi dan kepentingan pertahanan, investor tetap perlu memperhatikan aspek likuiditas saham. Meskipun ada kesepakatan pembelian Boeing, Nafan menilai saham Garuda Indonesia tak terlalu liquid meskipun benefit.

 

Mitigasi Risiko

Menurutnya jika investor memilih saham yang kurang kurang liquid yang dikhawatirkan akan mempengaruhi mitigasi risiko. Ini berarti akan membuat investor kesulitan dalam manajemen risiko.

"Kalau saya untuk Garuda Indonesia sebenarnya benefit ya, benefit dalam rangka pembaruan armada aviasinya ya. Modernisasi aviasinya, itu sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan Garuda Indonesia pada para pelaku pasar,” ujarnya.

 

Lonjakan Impor

Lebih jauh, Nafan juga mengingatkan bahwa lonjakan impor dari AS, terutama jika nilainya mendekati USD 20 miliar, bisa membuka potensi tekanan pada neraca perdagangan Indonesia. Meski demikian, selama tidak ada aksi balasan tarif dari Indonesia, pasar masih relatif tenang.

Ia menambahkan, ke depan Indonesia perlu memperkuat posisi dalam kerja sama ekonomi global seperti BRICS, OECD, maupun CPTPP guna mengoptimalkan potensi surplus perdagangan, terutama di tengah ketegangan dagang dengan negara-negara besar.