Perkuat Konservasi Orangutan Lewat Beasiswa Mahasiswa di Kalimantan

Enam mahasiswa Universitas Palangka Raya menerima beasiswa konservasi untuk mendukung regenerasi pelestari orangutan dan keberlanjutan hutan Kalimantan.

Diterbitkan 30 Juni 2026, 18:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Enam mahasiswa UPR menerima beasiswa OCS 2026 untuk pelestarian orangutan dan lingkungan Kalimantan.
  • Beasiswa ini diinisiasi OURF dan YBNI, dengan turis AS/Australia hadir menyaksikan penyerahan.
  • Seleksi ketat mempertimbangkan rekam jejak sosial, visi, dan keaktifan mahasiswa dalam konservasi.

Liputan6.com, Palangka Raya - Komitmen pelestarian orangutan dan lingkungan di Kalimantan mendapat suntikan energi baru dari generasi muda. Sebanyak enam mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR) berhasil terpilih sebagai penerima beasiswa Orangutan Caring Scholarship (OCS) 2026.

Para penerima program bantuan pendidikan ini berasal dari dua lini keilmuan yang krusial bagi masa depan hutan Kalimantan, yaitu Jurusan Kehutanan dan Jurusan Biologi. Program ini diinisiasi oleh Orangutan Republik Foundation (OURF) yang berkolaborasi dengan Yayasan Borneo Nature Indonesia (YBNI).

Ada yang unik dan spesial dalam gelaran OCS tahun ini. Pasalnya, rombongan turis dari Amerika Serikat dan Australia turut hadir menyaksikan langsung ke mana dedikasi dan bantuan finansial mereka disalurkan. Para donatur yang datang juga diajak untuk menikmati keindahan alam Kalimantan.

"Tahun ini lebih spesial karena ada rombongan turis dari Amerika Serikat dan Australia yang hadir menyaksikan penyerahan beasiswa. Mereka lihat sendiri, apa yang mereka berikan sudah diterima," ujar Chairman OURF Gary Saphiro, Senin 29 Juni 2026.

Gary berharap agar para mahasiswa ini tidak hanya fokus di dalam ruang kelas. Dengan pengetahuan tinggi, lanjut dia, mereka diharapkan mampu menjadi jembatan antara masyarakat lokal dan pembuat kebijakan dalam melindungi primata endemik Kalimantan tersebut.

 

Proses Seleksi

Gary mengatakan, proses seleksi tahun ini terbilang kompetitif. Dari 13 kandidat kuat yang mendaftar, panitia akhirnya mengerucutkan pilihan menjadi enam mahasiswa terbaik.

Sementara itu, Head of Operational YBNI Tjatur Basuki membeberkan, penilaian tidak melulu soal angka di atas kertas (IPK), melainkan juga rekam jejak sosial dan visi masa depan sang mahasiswa.

"Mereka dipilih berdasarkan keaktifan di organisasi, latar belakang keluarga, sampai hasil wawancara motivasi dan pandangan di masa depan tentang studi ini, mau ngapain," jelas Tjatur.

Dukungan penuh juga datang dari pihak birokrasi kampus. Wakil Rektor UPR Bidang Akademik, Natalina Asi mengungkapkan, kemitraan dengan lembaga internasional seperti OURF memberikan dampak ganda bagi mahasiswa: jaminan finansial dan perluasan cakrawala berpikir global.

"Kemitraan dengan OURF sangat penting bagi kami karena ini kesempatan untuk mahasiswa mendapatkan pengalaman dan peluang belajar dari orang luar," tutur Natalina.

Bagi para penerima, beasiswa ini bukan sekadar bantuan dana kuliah, melainkan sebuah amanah besar. Anastasya, salah satu mahasiswi Jurusan Kehutanan UPR yang lolos seleksi, mengaku termotivasi untuk segera mengaplikasikan ilmu teoritisnya ke dunia nyata.

"Ilmu yang saya dapat selama proses kuliah nantinya akan saya diterapkan untuk lingkungan terutama masyarakat," ungkap Anastasya.

Sejak pertama kali digulirkan pada tahun 2018, program OCS tercatat telah melahirkan 36 alumni yang kini tersebar dan bergerak di berbagai lini konservasi.

Kehadiran enam mahasiswa baru di tahun 2026 ini diharapkan mampu memperpanjang napas perjuangan dalam menjaga paru-paru dunia dan melindungi habitat orangutan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6