Sukses

Bank Jago dan BRIS Masuk Emiten Kapitalisasi Besar di Atas Rp 100 T

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Jago Tbk (ARTO) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) masuk jajaran 10 emiten berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pekan 22-26 Februari 2021.

Kapitalisasi pasar saham dua emiten bank ini mampu menggeser posisi emiten kapitalisasi besar sebelumnya seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bank Jago Tbk masuk jajaran 10 emiten kapitalisasi besar di BEI pada Senin, 22 Februari 2021. Saat itu, saham ARTO naik 16,27 persen menjadi Rp 10.900 per saham. Kapitalisasi pasar saham mencapai Rp 117 triliun.

Kapitalisasi pasar saham ARTO ini menyalip PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Gudang Garam Tbk. Pada penutupan sesi pertama perdagangan Senin, 22 Februari 2021, kapitalisasi pasar saham  ICBP mencapai Rp 101,75 triliun dan GGRM Rp 72,2 triliun.

Pada penutupan perdagangan saham Jumat, 26 Februari 2021, saham ARTO melemah 3,38 persen menjadi 10.000 per saham. Kapitalisasi pasar saham ARTO tercatat Rp 108,56 triliun. Kapitalisasi pasar saham Bank Jagodigeser oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk pada 26 Februari 2021. BNI catat kapitalisasi pasar saham Rp 110,95 triliun.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 5 halaman

Bank Syariah Indonesia Masuk Jajaran Emiten Kapitalisasi Terbesar di BEI

Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatat kapitalisasi pasar saham Rp 113 triliun pada 23 Februari 2021. BRIS catat kenaikan kapitalisasi pasar saham dipicu harga saham naik tipis 0,72 persen ke posisi Rp 2.790 per saham. Saham BRIS sempat di level tertinggi 2.820 dan terendah 2.740 per saham pada 23 Februari 2021.

Sejak 23 Februari 2020 hingga perdagangan Jumat, 26 Februari 2021, BRIS masuk jajaran 10 besar emiten kapitalisasi terbesar di BEI.

Pada Jumat, 26 Februari 2021, kapitalisasi pasar saham BRIS tercatat Rp 120,62 triliun. Saham BRIS melemah tipis 0,68 persen ke posisi Rp 2.940 per saham di tengah tekanan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

BRIS merupakan hasil penggabungan tiga bank syariah BUMN, yakni PT BRI Syariah Tbk (BRIS), PT Bank Negara Indonesia Syariah (BNIS) dan PT Bank Mandiri Syariah (BMS).

Bank merger ini disebut-sebut  akan hadir menjadi bank syariah terbesar di tanah air dengan total aset sekitar Rp 239,56 triliun. Dana pihak ketiga mencapai sebesar Rp 209,98 triliun.

Sampai Desember 2020, aset perbankan syariah mampu tumbuh 14,96 persen (yoy) dan dana pihak ketiga tumbuh 11,56 persen (yoy). Hanya penyaluran pembiayaan yang tumbuh satu digit, yakni 9,5 persen (yoy).

Berdasarkan laba bersih per Desember 2020, PT Bank Syariah Mandiri membukukan perolehan laba bersih perusahaan senilai Rp 1,43 triliun, atau naik 12,51 persen yoy.

PT Bank BNI Syariah mencatat laba bersih tahun berjalan senilai Rp 505,11 miliar per 31 Desember 2020. Jumlah tersebut turun 16,25 persen yoy. Kemudian PT Bank BRIsyariah Tbk mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 235,14 persen secara yoy menjadi Rp 248 miliar per kuartal IV-2020. 

 

3 dari 5 halaman

Gerak Saham BRIS dan ARTO Sepanjang 2021

Kalau melihat laju saham sepanjang tahun berjalan 2021, berdasarkan data RTI, saham BRIS sudah naik 30,67 persen ke posisi Rp 2.940 per saham. Saham BRIS sempat di level tertinggi Rp 3.980 dan terendah Rp 2.230 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 2.142.961 kali dengan nilai transaksi Rp 26,7 triliun.

Sementara itu, saham ARTO melonjak 132,56 persen ke posisi Rp 10.000 per saham. Saham ARTO berada di level tertinggi 11.225 dan terendah 4.140 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 151.193 kali dengan nilai transaksi Rp 2,7 triliun.

4 dari 5 halaman

Sentimen Dorong Harga Saham BRIS dan ARTO

Seiring pergerakan saham emiten BRIS dan ARTO,  Mantan Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia (BEI), Hamdi Hassyarbaini menuturkan, kedua emiten tersebut sama-sama memiliki sentimen positif. Sehingga diburu oleh investor.

"Di pasar ada orang yang optimis dan pesimis. Orang yang optimis akan membeli kedua saham tersebut karena ada aksi korporasi,” ujar dia kepada Liputan6.com, Sabtu, (27/2/2021).

Hamdi menuturkan, sentimen BRIS berasal dari merger bank syariah milik BUMN. Sedangkan ARTO dipengaruhi ada pemegang saham baru dan pengurus yang salah satunya merupakan bankir terkenal di Indonesia.

Baru-baru ini, Bank Jago akan menggelar rights issue atan penawaran umum terbatas dengan menawarkan 3 miliar saham. Target dana dari rights issue Rp 7,05 triliun.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini