Antisipasi Macet Horor Nataru, 3 Pelabuhan Alternatif Disiapkan

Ketiga pelabuhan tersebut akan mengurangi beban lintasan utama Ketapang-Gilimanuk.

Diterbitkan 05 November 2026, 05:27 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah menyiapkan tiga pelabuhan alternatif untuk mengurai kepadatan arus kendaraan pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026-2027. Ketiga pelabuhan tersebut akan menjadi jalur penyeberangan tambahan guna mengurangi beban lintasan utama Ketapang-Gilimanuk.

Rencana tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang dipimpin Asisten Deputi Konektivitas Maritim dan Udara Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan bersama Kepala KSOP Kelas III Tanjungwangi.

Rapat turut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Perhubungan di tingkat pusat hingga balai, Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Bali, pemerintah kabupaten, PT Pelindo, hingga PT ASDP Indonesia Ferry.

"Rapat ini membahas alternatif layanan pelabuhan di masa Natal dan Tahun Baru," kata Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi, I Komang Sudira Atmaja, Kamis (5/11/2026).

 

Berdasarkan hasil survei kondisi pelabuhan, tiga lokasi disiapkan sebagai jalur alternatif, yakni Pelabuhan Jangkar di Situbondo, Pelabuhan Tanjungwangi di Banyuwangi, serta Pelabuhan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng, Bali.

"Jadi pelabuhan di sisi Jawa disiapkan Pelabuhan Jangkar dan Pelabuhan Tanjungwangi. Sementara di sisi Bali disiapkan Pelabuhan Celukan Bawang, yang masing-masing diproyeksikan mengangkut hingga 500 kendaraan," jelasnya.

Untuk mendukung operasional ketiga pelabuhan tersebut, pemerintah menyiapkan 13 kapal penyeberangan. Sebanyak delapan kapal akan beroperasi melalui Pelabuhan Jangkar, sedangkan lima kapal lainnya melayani Pelabuhan Tanjungwangi.

 

Dari hasil rapat, diperkirakan terdapat sekitar 1.000 kendaraan kelas Vb per hari yang akan melintas melalui Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk. Pengalihan sebagian kendaraan ke pelabuhan alternatif dinilai perlu dilakukan untuk mencegah antrean panjang dan kemacetan.

"Potensi peningkatan kendaraan ini perlu diantisipasi sejak awal. Karena itu, pemerintah menyiapkan alternatif layanan penyeberangan agar arus kendaraan tidak seluruhnya bertumpu di Ketapang-Gilimanuk," ujar Komang.

Selain armada, kesiapan fasilitas penunjang di masing-masing pelabuhan juga menjadi perhatian. Sejumlah pembenahan akan dilakukan, terutama penambahan penerangan, toilet, serta kamera pengawas atau CCTV.

"Kesiapan fasilitas harus dipastikan sebelum pelayanan dimulai. Kami juga akan berkoordinasi dengan seluruh pihak agar operasional pelabuhan berjalan lancar dan memberikan kenyamanan bagi pengguna jasa," jelasnya.

 

Dalam rapat tersebut, juga muncul usulan agar biaya penyeberangan melalui pelabuhan alternatif mendapat subsidi penuh sebesar 100 persen atau gratis selama periode Nataru. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat memanfaatkan jalur alternatif sehingga kepadatan kendaraan di lintasan Ketapang-Gilimanuk dapat ditekan.

Layanan penyeberangan alternatif tersebut direncanakan berlangsung pada 18-30 Desember 2026. Jadwal tersebut disusun dengan mempertimbangkan agenda kedatangan kapal pesiar di Pelabuhan Celukan Bawang pada 31 Desember 2026.

 

Komang menambahkan, Pemkab Banyuwangi mendukung rencana pengoperasian pelabuhan alternatif tersebut. Pihaknya akan segera berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan, khususnya untuk menyiapkan manajemen dan rekayasa lalu lintas di sekitar kawasan pelabuhan.

"Prinsipnya, kami mendukung langkah ini sebagai upaya mengurai kepadatan saat Nataru. Dishub Banyuwangi akan berkoordinasi dengan kepolisian, pengelola pelabuhan, dan instansi terkait untuk menyiapkan pengaturan lalu lintas," ujar dia.