Fakta Mengejutkan Kasus Gagal Ginjal di Banyuwangi

Pasien cuci darah kini tidak hanya lansia.

Diterbitkan 15 September 2026, 17:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ancaman penyakit gagal ginjal kronis di Kabupaten Banyuwangi kian mengkhawatirkan dan tidak lagi didominasi kelompok lansia. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyuwangi mencatat sedikitnya 300 warga kini bergantung pada layanan hemodialisis (cuci darah). Dari angka tersebut, 28 pasien di antaranya merupakan anak muda berusia di bawah 30 tahun.

​Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat, mengonfirmasi bahwa lonjakan kasus penyakit metabolik seperti hipertensi, jantung, stroke, hingga gagal ginjal—menjadi ancaman serius sepanjang 2026. Menurutnya, pergeseran usia penderita ke kelompok produktif ini dipicu langsung oleh perburukan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat.

"Anak-anak dan remaja cenderung minim aktivitas fisik akibat durasi penggunaan gawai (screen time) yang terlalu tinggi," ujar Amir, Selasa (15/9/2026).

Amir melanjutkan, maraknya konsumsi minuman manis instan, boba, soda, serta junk food tanpa diimbangi asupan nutrisi seimbang, juga menjadi penyebab utama. Hal itu diikuti dengan rendahnya kesadaran penuhan cairan tubuh harian (minimal 2 liter atau 8 gelas per hari) yang berimbas langsung pada penurunan fungsi ginjal.

"Rendahnya angka konsumsi serat dari buah dan sayur di kalangan generasi muda. Sudah asupan nutrisinya kurang, aktivitas fisiknya kurang juga. Nah, ini sangat berisiko," tegas Amir.

​Menanggapi krisis kesehatan ini, Dinkes Banyuwangi memperketat edukasi dan sosialisasi pola hidup sehat, baik melalui jaringan fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) maupun penetrasi langsung ke sekolah-sekolah.

"​Pemerintah mengimbau generasi muda untuk segera memangkas konsumsi gula tinggi, mencukupi kebutuhan air putih, rutin berolahraga, dan memperbaiki pola makan guna mencegah kerusakan ginjal permanen sejak dini," paparnya.