Demo di DPRD Salatiga Memanas, Mahasiswa-Aparat Saling Dorong

Demo yang digelar Aliansi Mahasiswa Salatiga Menggugat di gedung DPRD setempat, Rabu (17/6/2026), berujung ricuh.

Diterbitkan 17 Juni 2026, 15:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Salatiga - Aksi unjuk rasa yang digelar Aliansi Mahasiswa Salatiga Menggugat di gedung DPRD setempat, Rabu (17/6/2026), berujung ricuh. Aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat pecah saat mahasiswa memaksa masuk gedung wakil rakyat tersebut.

Situasi memanas saat Aliansi Salatiga Menggugat membakar ban di depan pintu gerbang gedung wakil rakyat yang dijaga ratusan polisi dan TNI.

Aksi jalan kaki para mahasiswa ini dimulai dari Bundaran Jam sebagai titik kumpul awal, kemudian menyusuri Jalan Jendral Sudirman - Jalan Sukowati dan berakhir di gedung DPRD Kota Salatiga.

Yang menarik, aksi jalan kaki mahasiswa itu diselingi dengan menuntun sepeda motor hingga menuju depan kantor DPRD Salatiga.

Aksi menuntun sepeda motor, sebagai bentuk sindiran bahwa rakyat tak mampu membeli bahan bakar minyak yang harganya melambung.

Setibanya di depan gedung DPRD Kota Salatiga, ribuan mahasiswa yang membawa replika keranda mayat ini secara bergantian berorasi menyuarakan tuntutan aspirasi mereka.

Situasi di tengah unjuk rasa pun mulai memanas. Kondisi itu dipicu saat sejumlah mahasiswa memaksa dan merangsek masuk menerobos pintu gerbang DPRD setempat.

Namun aksi mereka diadang dan dibendung puluhan anggota Polres Salatiga yang berjaga di depan pintu. Karena tak bisa masuk, para demonstran mendorong polisi yang berjaga.

Situasi semakin memanas, saat sejumlah demonstran membakar ban dengan mengeluarkan asap hitam tebal. Untuk menjaga situasi tetap kondusif, polisi langsung menyemprotkan alat pemadam api ringan.

Keinginan Aliansi Mahasiswa Salatiga Menggugat hanya satu: bisa bertemu Ketua DPRD Kota Salatiga Dance Ishak Palit. Selain itu, beraudiensi dengan Wali Kota Robby Hernawan serta Wakil Wali Kota Nina Agustin.

Kondisi yang sempat tegang mulai berangsur tenang, usai pihak Polres Salatiga berkenan menghadirkan Dance, Robby, dan Nina.

Ketiga pejabat Kota Salatiga ini akhirnya menemui ribuan mahasiswa. Kedua belah pihak pun menggelar diskusi pun di depan gerbang gedung DPRD Kota Salatiga.

 

Tuntutan Mahasiswa

Di depan Ketua DPRD Kota Salatiga Dance Ishak Palit, Wali Kota Robby Hernawan, serta Wakil Wali Kota Nina Agustin, demonstran menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain:

  • Penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Koordinator aksi, Memogunawan Gea mengatakan tuntutan mahasiswa adalah penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

"Program (MBG dan KDMP itu merupakan pemborosan anggaran. Apalagi ditambah adanya kasus korupsi dari pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN), ini malah makin menyengsarakan rakyat," ujar koordinator aksi, Memogunawan Gea.

  • Tolak Militerisme di Ranah Sipil

Tidak hanya itu, Aliansi Mahasiswa Salatiga Menggugat, juga menyoroti militerisme yang dinilai terlalu dalam masuk ke ranah sipil.

"Kondisi Ini tentu berbahaya dan sangat tidak adil bagi masyarakat," tukas Memogunawan Gea berapi api.

  • Persoalan Sampah TPA Ngronggo

Sedangkan terkait isu lokal Salatiga, Aliansi Mahasiswa Salatiga Menggugat juga mendesak Pemerintah Kota Salatiga segera mencari jalan keluar untuk penanganan persoalan sampah TPA Ngronggo.

"Harus ada solusi kongkret untuk penanganan sampah di Salatiga. Apalagi daya tampung di TPA Ngronggo sudah hampir penuh dan tidak bisa menampung lagi," tandasnya.

Jika sejumlah tuntutan mereka tidak segera direspon oleh pemerintah daerah setempat, Aliansi Salatiga Menggugat mengancam melakukan aksi lanjutan yang lebih besar lagi.

"Penjelasan yang disampaikan Wali Kota dan Ketua DPRD muter-muter dan tidak menyentuh subtansi," tukas ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum UKSW Salatiga ini.