Tanah Bergerak di Jampangtengah Sukabumi Ancam Rumah Warga, Satu Keluarga Mengungsi

Ancaman bencana pergerakan tanah di Desa Bantaragung, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Jabar) menghantui warga.

Diterbitkan 20 April 2026, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ancaman bencana pergerakan tanah menghantui warga di Desa Bantaragung, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Jabar).

Satu unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan setelah muncul retakan tanah yang cukup dalam menyusul hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut pada Sabtu malam 18 April 2026.

Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Jampangtengah, Dadi Supardi, mengonfirmasi bahwa retakan tanah terjadi di Kampung Bojongduren RT 30/09.

Fenomena ini menyebabkan penghuni rumah harus segera dievakuasi demi keselamatan jiwa.

"Ditemukan retakan sepanjang 8 meter dengan kedalaman sekitar 50 sentimeter. Akibatnya, rumah milik Bapak Kamaludin (59) mengalami rusak ringan. Saat ini, satu keluarga yang terdiri dari dua jiwa tersebut sudah mengungsi ke rumah kerabat terdekat," kata Dadi dalam keterangan tertulisnya, Senin (20/4/2026).

Di balik ancaman pergerakan tanah tersebut, warga Desa Bantaragung kini juga harus menghadapi tantangan berat akibat putusnya akses transportasi.

Hujan lebat yang terjadi secara bersamaan memicu luapan Sungai Cimapag yang menghancurkan infrastruktur desa.

 

Jembatan Putus Total

Jembatan gantung sepanjang 20 meter yang menghubungkan Kampung Cimanggu dan Kampung Cimapag dilaporkan putus total.

Akibatnya, aktivitas ekonomi dan sosial warga kini terhambat karena urat nadi penyeberangan tersebut tidak lagi bisa dilalui.

"Dampaknya cukup signifikan bagi mobilitas warga. Untuk sementara, masyarakat harus memutar arah melewati Kampung Tegal Datar dengan jarak tempuh tambahan sejauh 2 kilometer," tambah Dadi.

Tak hanya jembatan, derasnya aliran banjir juga merobohkan Tembok Penahan Tanah (TPT) jalan lingkungan sepanjang 30 meter di RT 03/01.

Hingga saat ini, pihak P2BK bersama unsur TNI, Polri, dan relawan Tagana masih bersiaga di lokasi untuk memantau situasi dan memberikan imbauan waspada kepada warga sekitar.

Berdasarkan hasil asesmen di lapangan, kebutuhan mendesak yang diperlukan saat ini meliputi pembangunan jembatan darurat, pengadaan 300 buah kawat bronjong untuk penguatan tebing, serta bantuan kebutuhan dasar bagi warga yang mengungsi.