Pelukan Terakhir Sertu Rio dan Anaknya, Tubuh Terkubur dalam Lumpur: Saya Ikhlas dengan Nyawa Saya

Sertu Rio terpisah dari istri dan anaknya. Terhantam lumpur banjir bandang. Napas Rio terasa sesak. Pandangannya gelap. Tubuhnya terkubur hidup-hidup. Di tengah kegelapan dan keputusasaan, dia hanya bisa berdoa dan ikhlas menerima semuanya.

Diterbitkan 04 Desember 2025, 05:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Malam tak biasa di Adian Koting, Tapanuli Utara, pada Selasa (24/11/2025). Malam yang dipenuhi keikhlasan dan drama kemanusiaan. Ketika banjir bandang Sumatra merenggut nyawa orang tercinta.

Di tengah kelelahan usai menempuh perjalanan panjang dari Medan, Sertu Rio Prasaja (42), anggota Kodim 0212/Tapsel, harus menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya. Ketika orang tercinta direnggut hidupnya.

Malam itu, Rio bersama istri serta putra bungsunya yang berusia 1,5 tahun, dan tiga saudaranya, mencari perlindungan. Karena jalan pulang menuju Sidempuan terputus total. Beruntung, pemilik warung di Adian Koting memberinya tempat berlindung.

“Pemilik warung minta ya sudah istirahatlah di sini dulu,” kenang Rio saat berbincang dengan wartawan, Rabu (3/12/2025).

Sekitar pukul 23.00 WIB, saat sebagian besar orang telah tertidur, teriakan minta tolong membangunkannya. Dia spontan keluar warung dan bergegas membantu. Berbekal lampu mobil sebagai penerangan untuk evakuasi awal. Beberapa saat kemudian, Rio kembali untuk berganti pakaian. Ternyata alam mulai mengirimkan sinyal bahaya yang mematikan.

“Saya mendengar lima kali gemuruh, tapi tidak ada longsor saat dilihat keluar,” ujar Rio. 

Firasat yang kuat membuatnya segera membangunkan semua orang di rumah itu. Gemuruh keenam datang tanpa kompromi. Rio, dengan sigap meraih putra bungsunya. Momen itu adalah pelukan terakhir ayah dan anak.

“Saya pegang anak, terus gemuruh ke-6 langsung datang. Anak saya yang saya pegang tidak tahu terlempar ke mana. Saya juga terhempas, tahu-tahu sudah setinggi leherlah tanah menimbun saya,” kenangnya dengan suara lirih.

Doa dan Kepasrahan Terkubur dalam Lumpur

Napas Rio terasa sesak. Pandangannya gelap. Tubuhnya terkubur hidup-hidup. Di tengah kegelapan dan keputusasaan, dia hanya bisa berdoa.

“Saya berdoa, ya Tuhan kalau ada kekuatan saya tolong kuatkan saya, jika tidak saya ikhlas dengan nyawa saya,” bisiknya dalam hati. 

Dengan sisa tenaga, prajurit ini mulai menggali tanah yang mengubur tubuhnya. Kedua tangannya sekuat tenaga membuka jalan. Seketika bantuan datang. Dia ditarik keluar dari timbunan lumpur. Namun, tragedi lain menghantam jiwanya.

“Kaki saya ada tertimpa satu tangan, mungkin itu istri saya atau kakak atau adik saya,” ujarnya pilu. 

Dalam kondisi lemas, ia tidak tahu apakah pemilik tangan itu masih bernapas. Dia segera dilarikan ke gereja terdekat untuk pertolongan.

“Saya Ikhlas”

Sertu Rio Prasaja selamat dari malam menekam. Namun hatinya hancur. Dia kehilangan istri, putra bungsunya, tiga saudaranya, dan pemilik rumah yang berbaik hati menolong mereka. 

“Saya ikhlas, tapi kalau bisa dapatlah jenazah keluarga saya dan orang yang rumahnya kami tumpangi semoga juga dapat,” harapnya.

Pencarian terhadap semua korban, termasuk keluarga kecil Sertu Rio, kini menjadi fokus utama tim SAR di lokasi bencana Adian Koting. 

Kisah Sertu Rio Prasaja menjadi pengingat pedih tentang kekuatan cinta keluarga di tengah bencana, serta keikhlasan seorang prajurit yang nyawanya terselamatkan, namun jiwanya tertinggal di tumpukan tanah longsor.