Dahsyatnya Banjir dan Longsor di Sumatera: Aspal Retak, Jalan Terbelah hingga Jembatan Putus

Bencana alam di Sumatera ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa tapi juga meluluhlantakkan rumah warga hingga fasilitas umum.

Diterbitkan 29 November 2025, 07:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banjir dan longsor melanda tiga provinsi di Sumatera yakni Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh. Bencana alam ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa tapi juga meluluhlantakkan rumah warga hingga fasilitas umum.

Seperti 250 meter ruas jalan provinsi di lintas barat Aceh di kawasan Desa Panton Pange, Kecamatan Tripa Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh putus total akibat terjangan banjir. Aspal di badan jalan terkelupas dan rusak parah.

“Saat ini akses transportasi masih putus total,” kata Koordinator Pusdalops BPBD Nagan Raya Agussalim, Jumat (28/11/2025). Dikutip dari Antara.

Selain itu, satu unit jembatan kecil yang penghubung antarkecamatan juga rusak sehingga mengakibatkan akses transportasi putus total.

Agussalim mengatakan dampak dari putusnya akses jalan tersebut mengakibatkan ratusan kepala keluarga di kawasan ini terisolasi dan terkurung.

Sebanyak 799 site komunikasi di Provinsi Aceh juga lumpuh akibat banjir dan longsor yang terjadi sejak 18 November 2025. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat setidaknya 799 site atau sekitar 1,42 persen mati, dari total 34.600 site eksisting.

Sementara di Sumatera Barat, banjir juga menyebabkan masalah air. Fasilitas air bersih milik perusahaan air milik daerah (PDAM) di sana mengalami kerusakan.

"Air (bersih) mungkin tidak bisa berfungsi lagi," kata Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumawati dalam keterangannya.

Diana juga melaporkan, sejumlah jembatan rusak akibat bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Aceh, Provinsi Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir.

Kerusakan Akibat Bencana di Sumbar dan Sumut

Sementara itu di Sumatera Barat, dampak bencana tercatat lebih meluas hingga mencakup 13–14 kabupaten/kota. Daerah terdampak meliputi Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, Solok, Kota Pariaman, Pasaman Barat, Bukittinggi, serta beberapa kota/kabupaten lain yang juga mengalami banjir, longsor, hingga kerusakan infrastruktur.

Banyak rumah warga terendam, akses jalan terputus, dan sejumlah fasilitas publik rusak akibat intensitas hujan ekstrem. Pemerintah Provinsi Sumbar telah menetapkan status tanggap darurat mengingat cakupan bencana yang sangat luas.

Terpisah, Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy juga menyampaikan beberapa tantangan yang dihadapi di antaranya pembersihan material, akses komunikasi dan perbaikan darurat infrastrutkur vital.

"Titik longsor di badan jalan yang amblas, pohon tumbang di beberapa kabupaten dan kota," terang Vasko.

Di Sumatera Utara, bencana terjadi serentak di sejumlah wilayah seperti Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

Derasnya hujan memicu banjir bandang hingga longsor yang merusak jembatan, menghambat akses jalan, dan menyebabkan ribuan warga harus mengungsi. Pemerintah Provinsi Sumut juga telah menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat penanganan.

 

Data Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyampaikan bahwa hingga Jumat (28/11), jumlah korban meninggal akibat bencana di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mencapai 116 orang, sementara 42 lainnya masih dalam proses pencarian.

"Rinciannya Tapanuli Utara meninggal 11, Tapanuli Tengah meninggal 47, Tapanuli Selatan 32 meninggal dunia, Kota Sibolga ada 17 yang meninggal dunia, Humbang Hasundutan ada 6 meninggal dunia, kemudian Kota Padang Sidempuan ada 1, Pakpak Bharat ada 2," katanya dalam konferensi pers di Jakarta, (28/11/2025).

Sementara itu di Sumatera Barat, sebanyak 23 korban meninggal dunia, 12 hilang, dan 4 orang terluka karena bencana serta sebanyak 3.900 KK mengungsi. Dua daerah Sumatera Barat yang terdampak paling parah yakni Kota Solok dan Padang. 

Berikutnya Aceh, 35 korban jiwa, 25 yang hilang, dan delapan yang terluka dalam bencana banjir dan longsor. Kemudian, sebanyak 4.846 keluarga yang mengungsi akibat bencana tersebut.

Untuk membuka akses jalan yang terputus, berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum, serta menggunakan alat berat oleh satgas gabungan.

"Sekali lagi Aceh baru kemarin ini terjadinya banjir yang besar sehingga tentu saja kami butuh waktu untuk mengembalikan dalam kondisi semula," katanya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6