6 Orang Sebarkan Ajaran Sesat di Aceh Utara, Bolehkan Pengikutnya Tinggalkan Salat

Kelompok tersebut memiliki puluhan anggota yang tersebar di Provinsi Aceh. Aktivitas kelompok tersebut berlangsung sejak 2012 serta aktif merekrut anggota baru.

Diperbarui 08 Agustus 2025, 00:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Polisi mengungkap penyebaran ajaran diduga sesat yang tidak sesuai aqidah Islam di Kabupaten Aceh Utara. Kapolres Aceh Utara AKBP Tri Aprianto mengatakan, sebanyak enam anggota kelompok penyebaran ajaran diduga sesat tersebut ditangkap.

"Ada enam orang diduga dari kelompok ajaran menyimpang yang diamankan. Tiga diantaranya diamankan di sebuah masjid di Kabupaten Aceh Utara pada 25 Juli 2025," katanya.

Kelompok tersebut menyebarkan ajaran menyimpang dari Ahlussunah Wal Jamaah, di antaranya ada mesias setelah Nabi Muhammad SAW.

Kemudian tidak mengakui mukjizat Nabi Isa dan Nabi Musa. Mereka juga tidak mewajibkan salat lima waktu serta tidak mengakui ayat Alquran.

Enam orang tersebut yakni berinisial AA (33) dan RB (39), keduanya warga Sumatera Utara. Kemudian, HA (60) dan ME, keduanya warga Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Serta NZ (53), warga Kabupaten Aceh Utara, dan ES (38), warga Jakarta Barat.

Kasus tersebut berawal ketika warga melihat pengajian di sebuah masjid di Lhoksukon, pada 25 Juli 2025. Warga menghentikan pengajian tersebut karena diduga menyimpang dari Islam.

Selanjutnya, warga melaporkan ke Polres Aceh Utara. Dari laporan tersebut, polisi mengamankan tiga orang. Setelah dilakukan pengembangan, petugas kemudian mengamankan tiga orang lainnya.

"Tiga orang lainnya tersebut diamankan di kawasan Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Pidie. Sedangkan barang bukti yang diamankan yakni kertas berisi potongan ayat, laptop, dan sejumlah buku ajaran kelompok tersebut," bebernya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, kelompok tersebut memiliki puluhan anggota yang tersebar di Provinsi Aceh. Aktivitas kelompok tersebut berlangsung sejak 2012 serta aktif merekrut anggota baru.

Mereka disangkakan melanggar Pasal 18 Ayat (1) dan Ayat (2) jo Pasal 7 Ayat (1), Ayat (2), Ayat (3), dan Ayat (4) Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2015 tentang pembinaan dan perlindungan aqidah.

"Ancaman hukumannya, cambuk di depan umum paling banyak 60 kali dan paling sedikit 30 kali, atau pidana penjara paling lama 60 bulan dan paling singkat 30 bulan," kata Tri Aprianto.