Pakaian Adat Saibatin, Simbol Status dan Identitas Budaya Lampung Pesisir

Pengantin pria mengenakan jas beludru dengan berbagai motif tradisional. Kopiah tungkus menjadi penutup kepala wajib.

Diterbitkan 30 Juni 2025, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Lampung - Warna merah mendominasi pakaian adat Saibatin dari Lampung pesisir. Busana tradisional ini berfungsi sebagai penanda status sosial sekaligus media penyampaian nilai-nilai budaya melalui motif dan ornamen yang khas.

Mengutip dari berbagai sumber, pakaian adat Saibatin menggunakan kain beludru berwarna merah sebagai warna utama. Warna ini melambangkan keberanian dan kekuatan dalam budaya masyarakat Lampung pesisir.

Pengantin pria mengenakan jas beludru dengan berbagai motif tradisional. Kopiah tungkus menjadi penutup kepala wajib.

Sementara kain songket diselempangkan di bahu sebagai simbol kehormatan. Perhiasan seperti gelang dan kalung melengkapi penampilan.

Sedangkan, busana wanita terdiri dari pakaian panjang hingga lutut dari bahan beludru. Siger dengan tujuh lekukan menjadi mahkota khas (mewakili tujuh gelar adat masyarakat pesisir), beserta selempang jungsarat dari kain songket melengkapi tampilan.

Motif bunga tabur pada Saibatin melambangkan kemakmuran, sedangkan pucuk rebung berarti pertumbuhan positif. Garis salur yang berkesinambungan menggambarkan ikatan kekeluargaan yang kuat dalam masyarakat.

 

Kain Beludru

Pembuatan pakaian ini memerlukan kain beludru yang dipotong sesuai pola. Sementara songket ditenun secara manual menggunakan benang emas atau perak.

Selain untuk pernikahan, pakaian adat ini juga digunakan dalam berbagai upacara adat penting seperti acara khitanan. Berbagai desa di pesisir Lampung juga menggunakan pakaian adat Saibatin untuk penyambutan tamu.

Pakaian adat Saibatin berbeda dengan busana Pepadun yang didominasi warna putih. Siger Saibatin bercirikan tujuh lekuk, sementara Pepadun yang memiliki sembilan lekuk.

Penulis: Ade Yofi Faidzun