Fakta Unik Ce Hun Tiau, Minuman Tradisional Kalimantan Populer

Kombinasi inilah yang menjadikan Ce Hun Tiau begitu spesial dan dicintai oleh banyak kalangan, baik masyarakat lokal maupun wisatawan yang datang

Diterbitkan 28 April 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ce Hun Tiau merupakan salah satu minuman khas yang sangat populer di Pontianak Kalimantan Barat. Minuman ini kerap kali disamakan dengan es campur, namun sebenarnya memiliki cita rasa dan komposisi yang cukup unik serta mencerminkan kekayaan budaya kuliner masyarakat Tionghoa peranakan di daerah tersebut.

Nama Ce Hun Tiau sendiri berasal dari dialek Hakka atau Hokkien yang berarti cendol dari tepung hun kwe (tepung kacang hijau). Meski dalam penyajiannya tidak selalu menggunakan cendol sebagaimana dalam es dawet atau es cendol khas Jawa, Ce Hun Tiau tetap mempertahankan keunikan tekstur dan rasa yang khas.

Biasanya, minuman ini terdiri dari campuran kacang merah yang manis dan empuk, potongan cincau hitam yang kenyal dan memberi sensasi dingin yang menyegarkan. Potongan jelly berwarna-warni yang lembut, ketan hitam yang legit dan pulen, serta tambahan kue bongko yang memberikan rasa gurih dan tekstur lembut mirip bubur, semuanya disiram dengan es serut dan sirup gula merah atau sirup pandan, serta santan gurih.

Kombinasi inilah yang menjadikan Ce Hun Tiau begitu spesial dan dicintai oleh banyak kalangan, baik masyarakat lokal maupun wisatawan yang datang ke Pontianak.

Kehadiran Ce Hun Tiau tak hanya sekadar pelepas dahaga di tengah cuaca panas Pontianak, tetapi juga membawa nilai sejarah dan identitas budaya yang mendalam. Minuman ini biasanya dijual di gerobak pinggir jalan, pasar tradisional, hingga kedai-kedai tua yang telah beroperasi sejak puluhan tahun lalu.

Salah satu ciri khas dari Ce Hun Tiau Pontianak adalah penggunaan bahan-bahan yang dibuat secara tradisional dan segar, seperti santan yang diambil langsung dari kelapa segar dan direbus sendiri, bukan santan instan. Kacang merah yang digunakan pun direbus hingga benar-benar empuk tanpa menggunakan bahan kimia tambahan, begitu pula dengan ketan hitam dan jelly-nya yang dibuat manual.

Kue bongko yang menjadi pelengkap utama biasanya terbuat dari campuran tepung beras, santan, dan pisang atau nangka, yang dikukus di dalam daun pisang sehingga aroma khasnya menambah cita rasa keseluruhan dari minuman ini.

Ce Hun Tiau menjadi simbol bagaimana kuliner bisa menjadi penghubung lintas budaya, karena meskipun berasal dari masyarakat Tionghoa, minuman ini telah melebur dalam keseharian masyarakat Pontianak secara umum, baik Melayu, Dayak, maupun suku lainnya yang tinggal di kota itu.

 

Simak Video Pilihan Ini:

Warisan Leluhur

Menariknya lagi, Ce Hun Tiau juga menggambarkan bagaimana masyarakat Pontianak mampu menjaga warisan kuliner dengan cara yang sangat alami dan membumi. Tidak banyak perubahan yang dilakukan terhadap resep asli dari minuman ini, bahkan di tengah maraknya inovasi minuman kekinian.

Meski sekarang ada beberapa penjual yang mencoba menambahkan topping seperti nata de coco, selasih, atau susu evaporasi demi menarik minat generasi muda, inti dari Ce Hun Tiau tetap dipertahankan rasa manis-gurih yang berasal dari perpaduan santan dan gula, tekstur beragam yang memberikan sensasi mengunyah yang kompleks, dan tentunya kesegaran maksimal dari es serut yang melimpah.

Minuman ini umumnya disajikan dalam mangkuk besar atau gelas tinggi, dan sering kali dinikmati sebagai pencuci mulut setelah makan siang atau sekadar cemilan sore hari.

Dalam berbagai festival atau perayaan budaya Tionghoa di Pontianak seperti Cap Go Meh atau Imlek, Ce Hun Tiau seringkali disajikan sebagai hidangan pelengkap, menunjukkan betapa dalamnya keterkaitan antara makanan, tradisi, dan identitas dalam kehidupan masyarakat lokal.

Ketika seseorang menikmati Ce Hun Tiau, ia tidak hanya menikmati sensasi segar dan rasa manis yang menggoda, tetapi juga sedang meneguk jejak-jejak akulturasi budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun di tanah Borneo ini.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya minuman ini terus dijaga, dikenalkan lebih luas, dan diapresiasi sebagai bagian dari kekayaan kuliner Indonesia yang tak ternilai.

Ce Hun Tiau bukan hanya minuman, melainkan cerita hidup yang dibekukan dalam es, dilarutkan dalam santan, dan dituturkan dalam setiap sendok yang disantap dengan rasa penuh cinta terhadap tradisi dan warisan leluhur.

Penulis: Belvana Fasya Saad