Liputan6.com, Singapura - Singapura mencatat salah satu momen paling penting dalam sejarahnya pada 9 Agustus 1965. Pada tanggal tersebut, Singapura resmi keluar dari Federasi Malaysia dan menjadi negara berdaulat.
Dikutip dari Global Politics, Minggu (9/8/2026), perjalanan Singapura menuju kemerdekaan tidak terlepas dari sejarah panjangnya sebagai wilayah strategis di Asia Tenggara. Singapura sebelumnya berada di bawah kekuasaan Inggris dan didirikan sebagai pusat perdagangan oleh Sir Stamford Raffles pada 1819.
Letaknya yang strategis menjadikan Singapura berkembang sebagai salah satu pusat perdagangan dan bisnis penting di kawasan. Singapura kemudian menjadi bagian dari Straits Settlements atau Pemukiman Selat Inggris hingga Perang Dunia II, sebelum diduduki Jepang.
Advertisement
Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, Singapura kembali berada di bawah pemerintahan Inggris. Namun, tuntutan untuk memperoleh pemerintahan sendiri semakin menguat.
Pada 1963, Singapura bergabung dengan Federasi Malaysia bersama Malaya, Sabah, dan Sarawak. Penyatuan tersebut diharapkan dapat mempercepat dekolonisasi, mendorong pertumbuhan ekonomi, sekaligus membendung pengaruh komunisme di kawasan Asia Tenggara.
Namun, persatuan tersebut tidak berlangsung mulus. Perbedaan politik, ekonomi, dan sosial antara Singapura dan pemerintah federal Malaysia memicu ketegangan yang semakin tajam.
Salah satu persoalan utama adalah perbedaan pandangan antara United Malays National Organisation (UMNO), partai utama dalam pemerintahan Malaysia, dan People’s Action Party (PAP) yang dipimpin Lee Kuan Yew di Singapura.
UMNO mendukung sejumlah kebijakan yang memberikan keistimewaan kepada mayoritas etnis Melayu. Sebaliknya, PAP mendorong konsep “Malaysian Malaysia” yang menekankan meritokrasi dan kesetaraan bagi seluruh kelompok etnis.
Perbedaan tersebut semakin sensitif karena komposisi demografis kedua wilayah. Mayoritas penduduk Malaysia merupakan etnis Melayu, sementara masyarakat Singapura didominasi etnis Tionghoa. Sejumlah warga Tionghoa di Singapura memandang kebijakan berbasis Bumiputera sebagai bentuk diskriminasi.
Perselisihan juga terjadi dalam bidang ekonomi. Singapura berkembang pesat sebagai pusat perdagangan, sementara sejumlah wilayah lain dalam federasi masih tertinggal. Perbedaan pandangan mengenai kebijakan ekonomi, pembagian pendapatan, dan pembentukan pasar bersama turut memperburuk hubungan antara pemerintah Singapura dan pemerintah federal.
Ketegangan politik dan sosial kemudian berkembang menjadi konflik antarras. Salah satu peristiwa paling serius terjadi dalam kerusuhan rasial di Singapura pada 1964 yang menyebabkan sejumlah orang tewas dan memperdalam ketegangan antara komunitas Melayu dan Tionghoa.
Situasi tersebut akhirnya mendorong keputusan untuk mengakhiri persatuan.
Pada 7 Agustus 1965, Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman mengumumkan di Parlemen Malaysia bahwa Singapura akan dikeluarkan dari federasi. Keputusan tersebut disebut sebagai langkah untuk menjaga ketertiban dan keamanan di Malaysia.
Dua hari kemudian, pada 9 Agustus 1965, Singapura resmi menjadi negara berdaulat. Lee Kuan Yew mengumumkan pemisahan tersebut kepada publik dalam sebuah pernyataan yang berlangsung emosional.
Pemisahan Singapura dan Malaysia berlangsung relatif damai dan kemudian disahkan melalui Perjanjian Pemisahan antara kedua negara.
Setelah merdeka, Singapura menjalankan strategi pembangunan yang berorientasi pada industrialisasi dan menjadikannya sebagai pusat ekonomi global. Pemerintah Singapura memprioritaskan pembangunan infrastruktur, pengembangan industri, serta menarik investasi asing.
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong multikulturalisme, persatuan sosial, dan pembentukan identitas nasional sebagai fondasi negara baru tersebut.
Singapura kemudian memperluas hubungan diplomatik dengan berbagai negara dan bergabung dengan organisasi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Singapura juga menjadi salah satu negara pendiri ASEAN pada 1967 bersama Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand.
Kemerdekaan Singapura pada 9 Agustus 1965 menjadi titik balik penting dalam sejarah Asia Tenggara. Dari sebuah wilayah yang baru keluar dari federasi, Singapura kemudian berkembang menjadi negara-kota dengan perekonomian maju dan pengaruh yang besar di kawasan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5566966/original/026954400_1777262107-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-27T105347.703.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4012159/original/035865800_1651313935-20220430-_Gerbang_Tol_Cikampek-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4735963/original/007571800_1707195858-20230203_215104.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412025/original/093491300_1479719891-Singapura.jpg)