Helikopter Bawa CEO PT KPN Dikabarkan Hilang Kontak Saat Menuju Pontianak

Helikopter yang membawa CEO PT KPN bersama lima penumpang lain dilaporkan hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Menukung menuju Pontianak.

Diterbitkan 16 April 2026, 14:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Helikopter yang diduga membawa CEO PT Karunia Prima Nastari (KPN), perusahaan perkebunan sawit bersama lima penumpang lain dilaporkan hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Menukung, Kabupaten Melawi, menuju Pontianak, Kamis (16/4/2026) pagi.

Pelaksana tugas Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sanggau, Sigit Purnomo, mengaku baru mengetahui kabar tersebut dari grup komunikasi internal.

“Tapi belum ada pihak berwenang yang menghubungi, kami dapat informasinya dari group WhatApps,” ujar Sigit saat dikonfirmasi wartawan.

Berdasarkan informasi yang dirangkum, helikopter berangkat dari wilayah Menukung pada pagi hari dengan tujuan akhir Pontianak. Total penumpang berjumlah enam orang, termasuk pilot dan kopilot.

Namun dalam perjalanan, helikopter tersebut diduga hilang kontak. Waktu pasti terakhir terhubung belum disampaikan secara resmi.

BPBD Sanggau belum mengerahkan tim pencarian karena belum menerima laporan resmi dari instansi berwenang. Sigit menegaskan bahwa langkah operasional harus berbasis data valid, terutama koordinat terakhir.

“Kan kita harus tahu juga titik koordinatnya, maka kami masih menunggu. Nanti kalau ada perkembangan selanjutnya kami sampaikan,” katanya.

Ia menambahkan, tanpa titik lokasi yang jelas, pencarian akan sulit dilakukan mengingat luas wilayah serta kondisi geografis Kalimantan Barat yang didominasi hutan dan sungai.

 

Dugaan Lokasi Hilang

Informasi mengenai dugaan titik hilang kontak muncul dari koordinasi awal di lapangan. Kepala Desa Inggis, Kecamatan Mukok, Kabupaten Sanggau, Sunardi, mengaku telah dihubungi BPBD untuk membantu pemantauan wilayah.

“Saya sudah dihubungi BPBD Sanggau, informasinya berdasarkan titik koordinatnya hilang kontak diantara perbatasan Nanga Taman, Meliau dan Kapuas,” ujar Sunardi.

Wilayah tersebut dikenal memiliki kontur alam yang sulit dijangkau, dengan akses terbatas dan jaringan komunikasi yang tidak merata.

 

Potensi Kendala Pencarian

Jika informasi koordinat tersebut akurat, proses pencarian diperkirakan menghadapi sejumlah kendala. Selain medan hutan lebat, kondisi cuaca serta keterbatasan akses darat dapat memperlambat mobilisasi tim.

Selain itu, belum adanya sinyal darurat atau laporan distress call dari helikopter menambah kompleksitas situasi.

Hingga siang hari, belum ada pernyataan resmi dari otoritas penerbangan maupun Basarnas terkait status hilangnya helikopter tersebut.

Seluruh informasi yang beredar masih bersifat awal dan memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Pihak BPBD serta aparat terkait menyatakan akan segera bergerak setelah menerima data valid, terutama terkait titik koordinat terakhir.