Pemerhati Sejarah hingga Budayawan Cirebon Respons Pergantian Nama Gedung Negara Menjadi Bale Jaya Dewata

Chaidir mengatakan, sebelumnya gedung yang didirikan tahun 1808 dijadikan sebagai markas pasukan kolonial Belanda yang anggotanya berasal dari kaum pribumi

Diterbitkan 28 April 2025, 05:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Cirebon - Sejumlah pemerhati sejarah hingga budayawan Cirebon heboh dengan adanya pergantian nama gedung negara Cirebon yang semula menjadi Kantor Gubernur Bale Jaya Dewata. Mereka mengaku tidak mengetahui perjalanan penggantian nama gedung bersejarah itu sejak Gubernur Dedi Mulyadi memimpin Jawa Barat.

Seperti disampaikan salah seorang pemerhati sejarah Cirebon, Chaidir, mengaku baru mengetahui pergantian nama tersebut dari grup perpesanan digital yang berisi para seniman, budayawan, dan pemerhati sejarah Cirebon. Saat Ridwan Kamil menjadi Gubernur Jawa Barat, gedung tersebut bernama Creative Center Ahmad Juhara.

Ia menjelaskan, gedung yang didirikan tahun 1808 dijadikan sebagai markas pasukan kolonial Belanda yang anggotanya berasal dari kaum pribumi. Bangunan yang dikenal sebagai Gedung Karesidenan atau gedung negara itu dari masa ke masa kerap mengalami perubahan baik struktur bangunan, nama, dan fungsinya.

Setelah dihapuskan dari fungsi pemerintahan di tingkat karesidenan yang bernama Bakorwil atau Badan Koordinasi Wilayah III Cirebon, oleh Gubernur Ridwan Kamil dijadikan Creative Center Ahmad Juhara. Di masa pemerintahan Dedi Mulyadi saat ini gedung tersebut berganti nama Bale Jaya Dewata.

Ia mengaku belum mengetahui apa alasan Gubernur Dedi Mulyadi mengganti nama gedung bersejarah di Cirebon itu. Namun, ia mengaku menyayangkan atas keputusan Dedi Mulyadi yang dianggap sepihak mengubah nama gedung negara tanpa melibatkan stakeholder kebudayaan.

"Penamaan gedung bersejarah mestinya dimusyawarahkan dengan semua pihak terkait dalam hal ini stakeholder kebudayaan. Mengingat misi penamaan gadung itu tentunya berkaitan dengan upaya pelestarian warisan budaya bangsa," ujar Chaidir, Kamis (24/4/2025).

Ia mengatakan, tokoh masyarakat, budayawan hingga pegiat seni budaya di Cirebon perlu dilibatkan agar mendapat hasil yang maksimal. Ia menyebutkan, meski berubah nama, fungsi Bale Jaya Dewata tidak ada perubahan signifikan.

Chaidir mengungkapkan, gedung bersejarah tersebut diketahui sudah lebih dari dua kali ganti nama.

 

Simak Video Pilihan Ini:

Lebih dari Dua Kali

"Peresmian nama baru pun saya tidak dengar ada acara khusus," ujar Chaidir.

Sementara itu, Budayawan Cirebon Mustakim Asteja mengatakan, gedung negara sudah lebih dari dua kali ganti nama. Sebelumnya pada zaman kolonial Belanda, gedung tersebut bernama Residentwoning Tangkil Cheribon.

Saat Indonesia sudah merdeka, gedung tersebut berubah nama menjadi Gedong Karesidenan Cirebon, kemudian berganti lagi menjadi Gedung Negara Karesidenan Cirebon.

Pada zaman Gubernur Ridwan Kamil, gedung tersebut berganti nama menjadi Creative Center Ahmad Juhara. Kemudian di era Gubernur Dedi Mulyadi saat ini berganti nama Kantor Gubernur Bale Jaya Dewata.

"Mantep ceritae sejarahe nambah dawa (mantap ceritanya sejarahnya semakin panjang)," ujar Mustakim.

Pustakawan Kasultanan Kanoman Cirebon Farihin menilai adanya miskomunikasi antara pemimpin daerah dengan sebagian seniman dan budayawan Cirebon. Namun, kata dia, dilihat dari penamaan gedung tersebut, ia mencoba memahami alasan Dedi Mulyadi mengganti nama.

Diperkirakan, pergantian nama gedung creative center menjadi Bale Jaya Dewata karena penyesuaian dengan nama Jalan Siliwangi yang juga terdapat tempat bersejarah yakni Balai Kota Cirebon. Ia menjelaskan, Jaya Dewata adalah nama lain dari Prabu Siliwangi selain Raden Pamanah Rasa, Rajasunu dan nama lainnya berdasarkan catatan sejarah.

"Kalau gelar resminya Prabu Guru Dewataprana, nama ayahnya Dewa Niskala. Kalau dari asal usul penamaan, sepertinya nama Bale Jaya Dewata ini ide langsung dari Pak Gubernur yang memahami tentang sosok Prabu Siliwangi," ujarnmya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menetapkan lima kantor gubernur di berbagai wilayah di Jawa Barat. Keputusan ini didasarkan pada lima karakter budaya yang ada di provinsi tersebut, yaitu Priangan Garut, Priangan Bandung Raya, Cirebon, Purwakarta, dan Wilayah Bogor (Sunda Betawi).

"Jawa Barat memiliki lima karakter budaya, yaitu Priangan Garut, Priangan Bandung Raya, Cirebon, Purwakarta, dan Wilayah Bogor (Sunda Betawi)," ujar Dedi Mulyadi mengutip jabarprov.go.id.

Kelima wilayah ini pada masa lalu dikenal sebagai wilayah karesidenan atau wilayah administratif di bawah gubernur. Untuk memperkuat pelayanan dan akses masyarakat, eks kantor karesidenan tersebut kini diaktifkan kembali sebagai kantor wilayah gubernur.

Adapun sebutan untuk kantor gubernur di lima wilayah tersebut adalah Bale Pakuan Padjadjaran di Wilayah Bogor, Bale Sri Baduga di Wilayah Purwakarta, Bale Jaya Dewata di Wilayah Cirebon, Bale Dewa Niskala di Wilayah Priangan Garut, dan Bale Pakuan di Wilayah Bandung Raya.

Masing-masing kantor wilayah ini melayani sedikitnya tiga hingga lima kabupaten/kota yang berdekatan, guna memastikan pelayanan pemerintahan lebih merata dan mudah diakses oleh masyarakat.