Sukses

Ampas Kopi Jadi Sabun dan Lulur Kopi

Liputan6.com, Yogyakarta - Maraknya kedai kopi di Yogyakarta membuat Sabrina Le Oktafia berpikir kreatif. Ratusan kafe itu setiap harinya menghasilkan sampah kopi yang hanya dibuang begitu saja, sehingga ia berpikir untuk membuat produk Coffee For Body yaitu Body Scrub kopi.

"Ide itu muncul ketika saya resah karna terlalu banyak coffee shop di Jogja, limbah kopinya (ampas) hanya di buang. Dari situlah saya mempunyai inovasi untuk membuat body scrub dari limbah kopi," katanya kepada Liputan6.com Selasa (6/8/2019).

Sabrina mengatakan setidaknya sudah tiga bulan ini memulai usaha dari ampas kopi. Hasil dari ujicobanya berhasil menjadi produk yang bernilai ekonomi.

"Cepat kok karena yang saya pakai bahan pure 100 persen organik," katanya.

Proses pembuatan body Scrub kopi ini melalui beberapa tahap salah satunya pengeringan. Ampas kopi dijemur terlebih dahulu 2-3 hari sampai kandungan airnya mencapai 0.

"Karna kopi jika tercampur air terlalu lama bisa timbul jamur mikrobacteri," katanya.

Ia menjelaskan ia hanya mengambil ampas kopi yang masih basah dan langsung menjemurnya. Jika dibiarkan terlalu lama maka muncul mikrobakteri itu.

"Ini ampas kopinya. Saya ambil ampas Esspreso yang dari mesin kan memang masih basah jadi perlu di jemur. Jadi, malam saya ambil ampas malam itu pun langsung saya jemur," katanya.

Sabrina mengaku untuk menemukan bahan baku ampas kopi sangat banyak ditemukan. Sebab, di Yogyakarta memiliki ratusan coffe shop yang setiap hari memproduksi ampas kopi.

"Kalo di Jogja limbah kopi terlalu banyak untuk di dapat. Gak tentu, kadang 2-3 tempat sudah cukup ya saya stop cari ampas untuk body scrub kopi," katanya.

2 dari 3 halaman

Ditujukan Para Laki-Laki

Coffee For Body memproduksi dua produk yaitu Body Scrub atau lulur dan sabun kopi. Dua produknya ini ditujukan kepada para laki-laki yang senang minum kopi di Coffee Shop Jogja.

"Target saya adalah laki-laki agar sedikit banyak tahu manfaat kopi yang biasa diminum karna peminat kopi biasanya laki-laki," katanya.

Menurutnya para laki-laki lebih bertanggung jawab terhadap ampas kopi yang diminumnya. Sehingga dengan produk yang dibuatnya setidaknya ada tanggung jawab untuk membelinya.

"Peminum kopi ada sampahmu yang menambah volume sampah di Yogya," katanya.

Namun karena belum semua orang mengetahui produk yang dibuatnya saat ini baru beberapa kalangan yang memesan sabun maupun luluran kopi. Namun ia berharap para lelaki dapat menjangkau produknya.

"Iya untuk peminat masih wanita. Padaha targetnya laki-laki," katanya.

Saat ini pun produksinya masih terbatas karena masih menunggu syarat adminitrasi usaha. Namun jika sudah selesai maka usahanya akan lebih besar lagi.

"Kami setelah persyaratan selesai mungkin akan saya pasarkan ke luar negri, Insya Allah," katanya.

Sabrina mengatakan jika sudah selesai dalam waktu dekat persyaraatan usahanya maka ia akan perbanyak jumlah produksinya. Namun saat ini ia masih dalam skala kecil.

"Belum sebanyak itu. Masih tergantung pesanan. Siang ini pesan malam dah bisa saya antar. Biasanya seminggu bisa sampai 50 pcs," katanya.

3 dari 3 halaman

Kendala Usaha

 Sabrina mengatakan usaha yang sedang dilakukannya saat ini memiliki kendala dengan cuaca. Saat ini cuaca masih mendukung untuk memproduksi produknya.

"Kendala ya mungkin nanti saat musim hujan. Karena susah dapat cahaya matahari," katanya.

Ia pun kini mencari cara bagaimana agar ampas kopinya dapat kering sesuai standar. Sehingga produknya dapat digunakan walaupun tidak ada cahaya matahari.

"Mungkin dari sekarang kita langsung stok banyak sih ampas-ampas," katanya.

Sabrina lulusan SUPM Tegal ini mengaku akan terus mengembangkan produk yang dibuatnya. Walaupun berawal dari melihat ampas kopi yang terbuang sia-sia.

"Dulu marketing di sebuah coffee shop trus mencoba membuat produknya. Dibikin sendiri dipakai sendiri,"katanya.

Saat ini produknya bisa ditemui di berbagai platform media sosial yang ada. Produknya dijual dengan harga yang bersaing.

"Semuanya sama Rp30 ribu. Semuanya sama saja sabun dan lulur Rp30 ribu," katanya

Loading
Artikel Selanjutnya
Air Sungai Progo untuk Kulon Progo dan Bantul
Artikel Selanjutnya
Kapas Amerika Serikat Serbu Industri Tekstil Indonesia, Efek Perang Dagang?