Sukses

Tiba-Tiba Jalan Ambles 20 Meter di Musim Kemarau, Ada Apa?

Liputan6.com, Banjarnegara - Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah teridentifikasi sebagai salah satu daerah paling rawan longsor di Jawa Tengah. Gerakan tanah menghantui sebagian wilayah, terutama yang berada di pegunungan dengan tingkat elevasi tinggi.

Akan tetapi, pada musim kemarau ini, ancaman longsor berkurang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara lebih berkonsentrasi menanggulangi dampak kemarau panjang, seperti kekeringan dan krisis air bersih.

Sebabnya, pergerakan tanah seperti longsor lazimnya memang terjadi di musim penghujan. Kondisi tanah basah dengan kandungan air yang tinggi menyebabkan material lebih mudah terlepas dari ikatannya. Ancaman longsor pun tinggi di musim ini.

Namun, saat warga di wilayah lain kembang kempis terdampak kekeringan, tiba-tiba warga Limbangan, Banjarnegara justru dikejutkan oleh gerakan tanah di Dukuh Munggang, Senin 27 Agustus 2018. Ruas jalan berstatus milik kabupaten Banjarnegara antara Limbangan-Plipir ini ambles.

Dimensinya cukup besar, berkedalaman dua meter dan panjang 20 meter. Selain itu, jalan juga retak-retak. Tak main-main, retakan mengular sepanjang 50 meter.

"Jalan Limbangan-Plipiran di bawah Dukuh Munggang jarak 300 meter dari Limbangan, retak dan ambles tidak bisa dilewati kendaraan," ucap Ketua Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Banjarnegara, Tejo Sumarno, Selasa, 28 Agustus 2018.

Gerakan tanah yang terjadi di Dukuh Munggang ini menunjukkan meski risiko longsor berkurang pada kemarau, namun tak berarti risiko gerakan tanah sama sekali tidak ada. Sebab, pemicu longsor bisa dipicu penyebab lainnya.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Banjarnegara, Arif Rachman menerangkan, dari hasil Assesment sementara, longsor yang menyebabkan badan jalan ambles itu dipicu oleh bocornya saluran irigasi yang berada di atas area longsoran.

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini

2 dari 2 halaman

Gerakan Tanah Lain di Batas Desa

"Bagian talut pengaman tidak mampu menahan beban di atasnya karena di bawah longsoran terdapat aliran drainase," ucap Arif.

Bencana longsor di musim kemarau ini pun membuat lalu lintas warga terhambat. Sebab, mobil tak bisa melintas. Aktivitas warga pun terganggu.

Pasalnya, jalan tersebut merupakan akses satu satunya menuju dusun-dusun atau desa lain. Petugas memasang palang dan papan larangan melintas bagi kendaraan roda empat yang hendak melalui jalan ini.

"Kami mengimbau warga atau pengguna jalan agar hati hati ketika melintas jalan yang ambles," Arif menegaskan.

Dia menerangkan, warga Limbangan sebenarnya sempat mendapati gejala longsor pada kemarau tahun lalu. Namun, saat musim penghujan, retakan itu hilang atau kembali menutup.

Warga mengira retakan sudah tertutup secara alami. Tetapi, secara tiba-tiba, pada musim kemarau ini, rekahan kembali muncul dan merusak infrastruktur dengan skala besar.

Arif memastikan pergerakan tanah ini tidak mengancam pemukiman warga sekitar. Sebab, rumah penduduk berada di luar jangkauan longsoran. Meski begitu, ia mengimbau agar warga mengantisipasi datangnya musim penghujan yang berpotensi mempeburuk kondisi area longsoran.

Pasalnya, selain di Dukuh Munggang, petugas BPBD juga menemukan retakan jalan di batas desa sisi barat. Retakan yang menandakan terjadinya pergeseran tanah itu diduga juga disebabkan bocornya saluran irigasi.

"Karena bencana ini menimpa infrastruktur jalan kabupaten, penanganan lebih lanjut diserahkan kepada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banjarnegara," Arif menerangkan.

Kecelakaan Speedboat Bebas dari Proses Hukum, Kenapa?
Loading
Artikel Selanjutnya
Selain Gempa, Longsor Juga Terjadi di Lombok Utara Diduga Timbun 4 Orang
Artikel Selanjutnya
Longsor, Jalur Padang Pariaman - Agam Terputus