Produsen Diminta Serius Garap Truk Listrik di Indonesia, Ini Alasannya

Di tengah perkembangan pasar mobil listrik yang terus masif, sektor niaga atau komersial, khususnya truk dinilai masih terabaikan

Diterbitkan 03 Agustus 2026, 20:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah perkembangan pasar mobil listrik yang terus masif, sektor niaga atau komersial, khususnya truk dinilai masih terabaikan. Padahal, data dari kajian IESR, menunjukan bahwa populasi kendaraan berat yang hanya sebesar 4 persen dari total kendaraan sebanyak 6 juta unit di jalan raya, mampu menyumbang 30 persen dari total emisi sektor transportasi di Tanah Air.

Melihat kondisi tersebut, muncul sebuah kampanye, "Janji Jangan Ngebul" di sela-sela ajang Indonesia Net Zero Summit 2026, yang mendorong produsen otomotif mengambil peran aktif dan memimpin transisi elektrifikasi untuk armada truk nasional.

"Walau produsen otomotif telah menunjukkan komitmen dukungan kepada ekosistem kendaraan listrik yang semakin baik, namun fokusnya masih sangat dominan di kendaraan penumpang," ujar Campaign Lead, Rafaela Xaviera, dalam keterangan resmi, Minggu (2/8/2026).

"Kami ingin memastikan segmen truk, yang juga memberikan dampak lingkungan nyata berdasarkan kajian yang sudah ada, juga mendapatkan perhatian yang setara. Kami ingin mendorong kesadaran bahwa produsen memiliki kapabilitas teknis dan kapital untuk mempercepat transisi ini," tegasnya lagi.

Dari sisi teknis, kelayakan truk listrik telah teruji secara global, seperti yang ditunjukkan oleh adopsi masif di Tiongkok dan Eropa.

Tantangan utama di Indonesia saat ini berada pada sisi pasokan (supply-side), kesiapan infrastruktur pengisian daya (charging infrastructure), hingga rantai pasok komponen lokal.

Dengan begitu, peran aktif dan keberanian investasi awal dari pabrikan untuk mendukung ekosistem truk listrik sangat dibutuhkan guna menciptakan skala ekonomi dan mempercepat terwujudnya armada logistik bebas emisi.

Balqist Aroma Bunga, Project Lead Just EV dari Enter Nusantara menekankan bahwa elektrifikasi sektor logistik berkaitan erat dengan ketahanan ekonomi dan energi nasional.

"Ketergantungan pada BBM impor membuat perekonomian dan rantai pasok kita sangat rentan, padahal truk adalah tulang punggung logistik nasional," tegas Balqist.

Transformasi Truk Listrik

Sementara itu, transformasi ke truk listrik bukan sekadar isu lingkungan, melainkan strategi ketahanan energi.

"Produsen otomotif yang jeli melihat dinamika pasar, seharusnya menangkap ini sebagai peluang bisnis masa depan, bukan sekadar hambatan regulasi," tambah Balqist.

Senada dengan hal tersebut, Kiara Putri Mulia, Climate Program Manager dari Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) menekankan, pentingnya membawa isu truk listrik ke dalam diskusi elektrifikasi nasional.

"Melalui ajang Indonesia Net Zero Summit 2026, kami juga ingin memastikan bahwa percakapan tentang transisi EV di Indonesia tidak berhenti di ranah kendaraan penumpang. Mengangkat isu truk listrik di forum ini sangat krusial agar para pembuat kebijakan dan produsen otomotif sadar bahwa dekarbonisasi sektor transportasi tidak bisa tuntas tanpa elektrifikasi armada logistik," pungkasnya.