Pasar Gelap Baterai EV Makin Besar, China Mulai Waspada

Keberadaan pasar gelap baterai mobil listrik ini menjadi perhatian serius setelah berbagai laporan mengungkap masih tingginya peredaran baterai pensiun

Diterbitkan 16 Juni 2026, 18:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) China tengah menghadapi tantangan baru di balik pesatnya pertumbuhan pasar. Ambisi besar Negeri Tirai Bambu dalam mendorong elektrifikasi transportasi kini dibayangi maraknya praktik perdagangan baterai bekas ilegal yang beroperasi di luar pengawasan regulator.

Keberadaan pasar gelap baterai mobil listrik ini menjadi perhatian serius setelah berbagai laporan mengungkap masih tingginya peredaran baterai pensiun dan sel baterai bekas yang tidak tersertifikasi. Praktik tersebut dinilai berpotensi menimbulkan risiko keselamatan, pencemaran lingkungan, hingga mengganggu rantai pasok industri daur ulang resmi yang sedang dikembangkan pemerintah China.

Dilansir CarNewsChina, tingginya nilai ekonomi yang terkandung dalam baterai kendaraan listrik menjadi salah satu faktor utama yang mendorong berkembangnya bisnis ilegal tersebut. Seiring bertambahnya jumlah mobil listrik yang memasuki usia akhir penggunaan baterai, volume limbah baterai juga meningkat signifikan setiap tahun.

Pasar daur ulang baterai kendaraan listrik di China diperkirakan telah mencapai nilai sekitar 558 miliar yuan atau setara Rp 1.462 triliun. Besarnya potensi bisnis ini membuat persaingan antara perusahaan resmi dan jaringan pengumpul ilegal semakin ketat.

Sayangnya, tidak semua baterai bekas masuk ke jalur daur ulang resmi. Sebagian baterai justru diperjualbelikan melalui bengkel maupun jaringan pengumpul tidak berizin yang tidak memiliki standar pengolahan dan keselamatan memadai.

Dalam sejumlah kasus, sel baterai yang telah mengalami degradasi bahkan digunakan kembali untuk berbagai kebutuhan tanpa melalui proses sertifikasi yang sesuai. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran, korsleting listrik, hingga penurunan performa perangkat yang menggunakan baterai tersebut.

Menyadari ancaman yang semakin besar, pemerintah China mulai memperketat regulasi pengelolaan baterai kendaraan listrik.

Mulai tahun 2026, otoritas setempat akan mewajibkan pelacakan baterai sepanjang siklus hidupnya. Sistem ini mencakup proses produksi, penjualan, penggunaan, penggantian, hingga tahap daur ulang.

Melalui sistem pelacakan nasional tersebut, setiap baterai akan memiliki identitas yang dapat ditelusuri sehingga pergerakannya lebih mudah diawasi regulator. Kebijakan ini diharapkan mampu menutup celah distribusi baterai bekas ke pasar gelap.

Tak hanya itu, produsen mobil listrik dan produsen baterai juga diwajibkan menyediakan jaringan pengumpulan baterai bekas serta bertanggung jawab terhadap proses daur ulang produk yang mereka pasarkan.

 

Risiko Keselamatan dan Lingkungan Jadi Sorotan

Keberadaan jaringan daur ulang ilegal dinilai tidak hanya merugikan industri resmi, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap keselamatan publik dan lingkungan.

Baterai lithium-ion mengandung sejumlah material bernilai tinggi seperti lithium, nikel, kobalt, dan mangan. Namun, jika dibongkar tanpa prosedur yang benar, baterai dapat memicu kebakaran, ledakan, hingga pencemaran lingkungan akibat limbah berbahaya.

Sejumlah bengkel tidak berizin disebut masih mendominasi sebagian aktivitas daur ulang baterai kendaraan listrik di China.

Kondisi ini mendorong pemerintah untuk meningkatkan pengawasan terhadap perdagangan baterai bekas dan aktivitas pengolahan yang tidak memenuhi standar keselamatan.

Tantangan pengelolaan limbah baterai diperkirakan akan semakin besar dalam beberapa tahun mendatang. Lembaga riset di China memproyeksikan volume baterai kendaraan listrik yang memasuki masa pensiun dapat mencapai 1 juta ton pada 2030.

Dengan populasi kendaraan listrik yang terus bertambah, kebutuhan terhadap sistem daur ulang yang aman, transparan, dan terstandarisasi menjadi semakin penting.

Regulasi baru yang diterapkan pemerintah China diharapkan dapat memastikan material berharga dari baterai bekas kembali dimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan aspek keselamatan, keberlanjutan lingkungan, maupun stabilitas industri kendaraan listrik nasional.