Kisah Thelma dan Andre: Dari Rumah Reyot dan Kontrakan hingga Diundang ke Sidang Tahunan

Keduanya sama-sama menjadi warga yang menerima program bantuan Presiden.

Diterbitkan 14 Agustus 2026, 15:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Thelma Humena tak pernah membayangkan rumah reyot tempatnya berteduh bersama keluarga justru membawanya ke Jakarta.

Dari Kota Manado, Sulawesi Utara, ia hadir di hadapan peserta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI 2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Thelma adalah penerima manfaat program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

Namanya disebut Presiden Prabowo Subianto dalam sidang tersebut.

“Hadir bersama kita hari ini Bu Thelma Humena dari Kota Manado,” kata Prabowo.

Thelma sebelumnya tinggal di rumah dengan pondasi yang rapuh. Dinding, lantai, dan atap rumahnya juga rusak. Kondisi itu berubah setelah Balai BSPS bersama RW mendatangi rumahnya dan memberitahu bahwa ia mendapat bantuan perbaikan rumah.

“Pada awalnya sih dari Balai BSPS yang datang ke rumah sama RW, kasih tahu bahwa saya dapat bantuan rumah swadaya,” kata Thelma.

Thelma senang bukan main saat mendengar kabar tersebut.

“Kalau untuk bermanfaat, sangat bermanfaat sekali dan juga sangat bagus sekali untuk keluarga saya,” ujarnya.

Ketika ditanya mengenai kondisi rumahnya, jawabannya sederhana.

"Sudah nyaman. Sudah nyaman dan aman."

 

Tak Sangka Diundang ke Sidang Tahunan MPR

Cerita bahagia Thelma tak pernah berhenti setelah rumahnya diperbaiki. Ia mendapat informasi dari Balai BSPS akan dihubungi Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman melalui video call. Dari komunikasi itulah ia mengetahui akan berangkat ke Jakarta.

"Otomatis saya senang sekali dan bangga, terus kaget juga enggak sangka saya bisa datang ke sini," kata Thelma.

Ia datang ke forum kenegaraan sebagai salah satu penerima manfaat program pemerintah. Bagi Thelma, kesempatan itu sekaligus mempertemukan pengalaman berharga untuknya dan keluarga.

Thelma berharap semakin banyak warga mendapat bantuan seperti dirinya.

"Harapan saya bukan hanya saya saja yang bisa merasakan program dari Bapak Presiden ini. Saya harap seluruh masyarakat Indonesia bisa merasakan program ini,” ujarnya.

 

Impian Hunian Lewat Bantuan Cicilan

Jika Thelma datang dengan cerita rumah yang diperbaiki, Andre Kawaru membawa cerita berbeda dari Samarinda.

Andre adalah pedagang kelinci. Ia tidak memiliki gaji bulanan. Penghasilannya berasal dari berdagang, sementara tempat tinggalnya hanya rumah kontrakan yang beberapa kali ia tinggalkan karena kondisi rumah yang menurutnya tidak bagus.

Sampai akhirnya ia memiliki rumah sendiri melalui KPR Subsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Rumah itu memang belum lunas. Cicilan masih berjalan. Tetapi bagi Andre, ia tidak lagi sekadar menyewa tempat tinggal.

"Oh kalau buat saya bermanfaat banget ya mas, karena yang awalnya saya cuma ngontrak rumah, pindah-pindah kan karena kontrakan juga nggak bagus juga kan, akhirnya punya rumah sendiri walaupun masih nyicil,” katanya.

Andre mengetahui program FLPP dari istrinya setelah seorang teman memberi informasi mengenai program tersebut. Di lingkungannya, program perumahan itu sempat dikenal dengan sebutan “Perumahan Jokowi”.

“Jadi kalau zaman dulu di tempat kami itu ngomongnya ‘Perumahan Jokowi’, karena dari zaman Jokowi kan, ini dilanjut lagi sama Bapak Prabowo,” katanya.

Ketika mendengar program perumahan kembali dibuka, Andre mencoba mendaftar.“Jadi katanya ada ‘Rumah Jokowi’ lagi dibuka, ternyata programnya Pak Prabowo,” ujarnya.

Ia kemudian mengajukan permohonan dan disetujui.

“Dari situ saya coba booking, terus daftar, ternyata disetujui, akhirnya ya saya dapet rumahnya.”

Rasa lega tak sampai di situ. Andre masih dibuat bingung dengan uang muka. Sebagai pedagang, Andre tidak memiliki penghasilan tetap yang diterima setiap bulan.

“Memang susah kalau jujur aja berat di awal untuk ngumpulin DP-nya karena kita harus ngumpulin dari sana dari sini gitu kan,” ujarnya.

Bagi Andre, keberadaan FLPP membuat rumah bersubsidi itu lebih mungkin dijangkau.

"Tapi dengan adanya FLPP seperti ini jadi lebih mudah kan, iya lebih mudah dan apa ya, lebih terjangkau juga sih kalau saya," kata Andre.

Ia masih melihat satu persoalan di daerahnya, yakni sosialisasi. “Cuma mungkin kalau di daerah saya itu kurang sosialisasi aja sih, jadi pedagang kurang ngerti gitu,” ujarnya.

Pertemuan Andre dengan Presiden, Menteri, DPR RI dan DPD berawal dari kunjungan Menteri ke perumahan subsidi tempat ia tinggal. Saat itu Andre sedang bersiap berjualan.

“Kebetulan ada saya, terus saya lagi mau jualan,” katanya.

Dalam kunjungan tersebut, Andre ditanya mengenai pekerjaannya sebagai pelaku UMKM di pasar malam dan pedagang kelinci. Percakapan itu kemudian berlanjut hingga ia dihubungi Badan Komunikasi dan Sekretariat Negara.

“Jadi berawal dari situ terus ditelepon dari BAKOM (Badan Komunikasi) terus dari Sekretariat Negara juga ngehubungin juga,” ujarnya.

 

Senang Hadiri Sidang Tahunan

Undangan itu akhirnya membawa Andre ke Sidang Tahunan MPR RI. Di forum tersebut, Presiden Prabowo menyapanya.

“Seneng banget,” kata Andre.

Ketika ditanya bagaimana rasanya disapa Presiden, jawabannya lebih singkat lagi.

“Seneng banget presiden yang nyapa gitu kan kapan lagi.”

Thelma dan Andre hanya dua dari penerima manfaat yang hadir dalam Sidang Tahunan. Di tempat yang sama, ada pula Joko Puro, Ketua Kelompok Tani Sri Makmur dari Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, penerima bantuan pertanian pemerintah.

Dari Merauke, Papua Selatan, hadir Kristina Beno, siswi kelas 6 sekolah dasar yang menerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis.

Ada pula Muhammad Risky Pratama, 12 tahun, siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama 2 Medan, serta Citra Nur Ramadhani dari Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, yang merupakan murid Sekolah Rakyat.

Penerima manfaat dari program perlindungan sosial juga hadir. Susanah dari Kabupaten Bogor menerima manfaat Program Keluarga Harapan dan Program Sembako. Sementara Margarelitha Rohi dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, tercatat sebagai penerima Bantuan Sosial ATENSI.

Delapan nama itu datang dengan kebutuhan yang berbeda. Ada petani yang mendapat bantuan pertanian, anak sekolah yang menerima program pendidikan dan pangan, keluarga penerima bantuan sosial, serta warga yang memperoleh dukungan untuk memperbaiki atau memiliki rumah.

Jarak mereka pun jauh. Dari Ngawi ke Merauke, Medan, Manado, Samarinda hingga Kupang dan Pangkajene dan Kepulauan.

Namun pada Sidang Tahunan itu, mereka berada dalam satu ruang sebagai penerima manfaat yang disebut langsung dalam agenda kenegaraan.

Bagi Thelma, perubahan itu dimulai dari rumah dengan pondasi, dinding, lantai, dan atap yang membutuhkan perbaikan.

Bagi Andre, perubahan dimulai dari kontrakan yang berpindah-pindah hingga sebuah rumah yang kini masih dicicil.

Keduanya datang ke Jakarta dengan cerita yang berbeda. Tetapi keduanya membawa pengalaman menerima program pemerintah hingga sampai pada kehidupan mereka sendiri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6