9 Jenis Kopi Lokal Indonesia, Berikut Masing-Masing Karakter Rasanya yang Perlu Diketahui

Kenali 9 jenis kopi lokal Indonesia dan karakter rasanya sebelum mencicipi.

Diterbitkan 30 September 2026, 13:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setiap 1 Oktober, pecinta kopi di berbagai negara memperingati Hari Kopi Internasional. Merujuk situs resmi International Coffe Organization (ICO) momentum ini menjadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh jenis dan karakter rasanya yang di tiap wilayah asalnya memiliki rasa dan aroma yang khas.

Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki keragaman kopi dengan karakter berbeda dari satu daerah ke daerah lain. Kondisi wilayah, varietas tanaman, proses pengolahan, hingga cara sangrai dan seduh dapat memengaruhi cita rasa yang muncul dalam secangkir kopi.

Sejumlah kopi Indonesia juga telah memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis, termasuk Gayo, Kintamani, Flores Bajawa beberapa jenis lainnya. Perbedaan tersebut membuat kopi lokal tidak selalu memiliki rasa yang identik meskipun sama-sama berasal dari Indonesia. Jadi, apa saja jenis kopi lokal Indonesia yang perlu diketahui dan bagaimana karakter rasa masing-masing? Simak selengkapnya, dihadirkan Liputan6, Rabu (30/9).

1. Kopi Gayo dari Aceh

Merujuk laman resmi ditjenbun.pertanian.go.id, Kopi Gayo berasal dari kawasan dataran tinggi Gayo di Aceh dan menjadi salah satu kopi Arabika Indonesia yang dikenal luas. Kopi ini juga telah memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis sejak 2010. Wilayah produksinya mencakup Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.

Dari sisi cita rasa, profil Kopi Arabika Gayo dapat menghadirkan karamel, cokelat, kacang, dan buah. Dokumen profil Indikasi Geografis Kementerian Pertanian juga mencatat tingkat keasaman yang bersih dengan intensitas sedang hingga tinggi serta aroma yang kuat. Kopi ini memiliki body yang kuat dan rasa yang dapat bertahan cukup lama setelah diminum.

Karakter tersebut membuat Gayo memiliki profil rasa yang cukup beragam dalam satu seduhan. Perbedaan proses pengolahan dan penyeduhan juga bisa menghasilkan pengalaman rasa yang berbeda sehingga kopi dari wilayah yang sama tidak selalu terasa persis sama.

2. Kopi Mandailing dari Sumatera Utara

Kopi Mandailing berasal dari Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Kopi Arabika Sumatera Mandailing tercatat sebagai salah satu produk perkebunan Indonesia yang telah mendapatkan sertifikasi Indikasi Geografis pada 2016.

Kopi Mandailing dikenal dengan karakter rasa yang cenderung kuat dan memiliki kesan manis serta rempah. Profil tersebut membuatnya memiliki karakter tersendiri ketika dibandingkan dengan kopi dari wilayah Indonesia lainnya.

Cita rasa yang muncul juga dapat dipengaruhi proses pascapanen dan tingkat sangrai. Karena itu, rasa yang dirasakan dalam satu produk Kopi Mandailing bisa berbeda dengan produk lain meskipun sama-sama menggunakan biji dari wilayah Mandailing Natal.

3. Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan

Kopi Toraja menjadi salah satu kopi Arabika Indonesia yang memiliki identitas wilayah yang kuat. Kopi Arabika Toraja tercatat memperoleh Indikasi Geografis pada 2013 dengan wilayah asal Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Menurut Kementerian Pertanian, Kopi Toraja memiliki karakter yang kaya akan aroma gula merah dan cokelat susu. Profilnya juga digambarkan lembut sehingga menghasilkan perpaduan rasa yang dapat dinikmati tanpa dominasi satu karakter saja.

Karakter gula merah dan cokelat tersebut membuat Kopi Toraja memiliki profil yang berbeda dari kopi yang lebih menonjolkan rasa buah atau citrus. Namun, hasil akhir dalam cangkir tetap dipengaruhi metode pengolahan biji, sangrai, serta teknik penyeduhan.

4. Kopi Kintamani dari Bali

Kopi Kintamani berasal dari kawasan Kintamani, Bali, dan menjadi salah satu kopi Arabika Indonesia yang memiliki sertifikasi Indikasi Geografis. Produk tersebut tercatat memperoleh sertifikasi pada 2008.

Kementerian Pertanian menggambarkan Kopi Kintamani dengan perpaduan karakter cokelat, kacang, dan lemon. Nuansa lemon memberikan kesan citrus yang membuat profil kopi ini terasa berbeda dibandingkan kopi yang lebih dominan menghadirkan cokelat atau rempah.

Karakter citrus tersebut menjadi salah satu ciri yang menarik untuk diperhatikan ketika mencicipi Kopi Kintamani. Tingkat sangrai dan metode seduh tetap dapat memengaruhi rasa akhir, sehingga karakter yang muncul dalam cangkir bisa memiliki intensitas berbeda.

5. Kopi Flores Bajawa dari Nusa Tenggara Timur

Kopi Flores Bajawa berasal dari Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kopi Arabika Flores Bajawa tercatat memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis pada 2012 dan menjadi salah satu produk kopi daerah yang memiliki identitas asal yang kuat.

Kopi ini dikenal sebagai salah satu kopi Arabika dari dataran tinggi Flores. Dalam pengembangan dan pengenalan kopi nusantara, Kementerian Pertanian juga memasukkan Flores Bajawa sebagai salah satu kopi khas Indonesia yang digunakan dalam kegiatan edukasi kopi.

Karakter rasa Flores Bajawa dapat berbeda sesuai varietas, proses pascapanen, dan tingkat sangrai yang digunakan. Karena itu, ketika mencicipinya, pembaca dapat menemukan profil rasa yang tidak selalu sama pada setiap produk meskipun berasal dari kawasan Bajawa.

6. Kopi Java Preanger dari Jawa Barat

Java Preanger merupakan salah satu kopi Arabika dari Jawa Barat yang telah memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis pada 2013. Nama tersebut merujuk pada kawasan penghasil kopi di wilayah Jawa Barat.

Salah satu karakter yang dapat ditemukan pada kopi ini adalah nuansa citrus atau jeruk. Karakter tersebut memberikan kesan rasa yang lebih segar ketika dibandingkan dengan kopi yang memiliki dominasi cokelat, karamel, atau rempah.

Namun, rasa kopi tidak hanya ditentukan oleh daerah asal. Varietas, kondisi tanaman, proses pengolahan setelah panen, tingkat sangrai, hingga metode seduh ikut menentukan karakter akhir. Karena itu, Java Preanger dapat memiliki variasi profil rasa dari satu produk ke produk lainnya.

7. Kopi Wamena dari Papua

Kopi Wamena menjadi salah satu kopi Indonesia yang berasal dari kawasan Papua. Kopi ini dikenal memiliki karakter manis alami dengan tingkat keasaman yang relatif rendah. Kementerian Pertanian memasukkan Wamena sebagai salah satu kopi Indonesia dengan profil rasa yang khas.

Karakter manis alami dan keasaman rendah membuat kopi Wamena memiliki profil yang berbeda dari kopi dengan rasa citrus yang lebih menonjol. Perbedaan tersebut juga menunjukkan bagaimana kondisi wilayah penghasil dapat menghasilkan pengalaman rasa yang beragam.

Seperti kopi lainnya, karakter Wamena yang dirasakan dalam cangkir dapat berubah sesuai proses pengolahan dan penyeduhan. Cara biji disangrai juga memiliki pengaruh terhadap aroma dan rasa yang akhirnya muncul ketika kopi diminum.

8. Kopi Liberika Tungkal dari Jambi

Liberika Tungkal memiliki karakter yang berbeda karena berasal dari jenis kopi Liberika. Kopi ini berasal dari wilayah Tungkal, Jambi, dan tercatat memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis pada 2015.

Kementerian Pertanian menyebut Liberika memiliki aroma khas yang memadukan rempah, buah nangka, dan sentuhan kayu. Jenis kopi ini juga memiliki kemampuan tumbuh di wilayah dengan kondisi lahan yang memiliki keasaman dan kadar air tinggi, termasuk kawasan gambut.

Karakter aroma tersebut membuat Liberika Tungkal mudah dibedakan dari beberapa kopi Arabika yang lebih sering menghadirkan karakter citrus, cokelat, atau floral. Keunikan profilnya juga membuat kopi Liberika menarik untuk dikenal ketika membicarakan keragaman kopi lokal Indonesia.

9. Kopi Ekselsa Temanggung

Kopi Ekselsa Temanggung merupakan salah satu jenis kopi yang dibudidayakan di wilayah Temanggung, Jawa Tengah. Kopi ini berasal dari spesies Coffea liberica var. dewevrei yang dalam perdagangan kopi Indonesia kerap disebut Ekselsa.

Dari sisi karakter rasa, Kopi Ekselsa Temanggung dapat menghadirkan perpaduan rasa buah, rempah, dan sedikit nuansa kayu. Profil tersebut membuatnya memiliki karakter yang berbeda dari kopi Arabika yang lebih sering dikaitkan dengan cita rasa citrus, floral, atau cokelat.

Karakter rasa Ekselsa juga dapat berubah sesuai proses pascapanen, tingkat sangrai, dan metode penyeduhan. Karena itu, pengalaman mencicipi kopi Ekselsa dari Temanggung bisa berbeda antara satu produk dan produk lainnya.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kopi Lokal Indonesia

1. Kapan Hari Kopi Internasional diperingati?

Hari Kopi Internasional diperingati setiap 1 Oktober. International Coffee Organization menetapkan tanggal tersebut sebagai momentum untuk merayakan kopi dan menghargai berbagai pihak yang terlibat dalam rantai produksi kopi.

2. Apa kopi lokal Indonesia yang memiliki rasa citrus?

Kopi Kintamani dari Bali dikenal memiliki perpaduan rasa cokelat, kacang, dan lemon. Java Preanger dari Jawa Barat juga dapat menghadirkan nuansa citrus atau jeruk.

3. Apa kopi Indonesia yang memiliki rasa cokelat?

Beberapa kopi lokal memiliki karakter cokelat, termasuk Gayo dan Toraja. Profil Gayo mencakup cokelat dan karamel, sedangkan Toraja memiliki karakter gula merah dan cokelat susu.

4. Apa kopi lokal Indonesia yang memiliki aroma buah?

Liberika Tungkal dari Jambi memiliki aroma yang dapat memadukan rempah, buah nangka, dan sentuhan kayu. Gayo juga memiliki profil yang mencakup karakter fruity atau buah.

5. Mengapa rasa kopi dari daerah yang sama bisa berbeda?

Karakter kopi dipengaruhi banyak faktor, termasuk varietas, kondisi wilayah, proses pascapanen, tingkat sangrai, dan metode penyeduhan. Karena itu, kopi dari satu daerah tidak selalu menghasilkan rasa yang sama pada setiap produk.