Banjir OTT, Partai Diminta 'Sekolahkan' Calon Kepala Daerah Sebelum Pilkada

Merespons maraknya OTT di daerah, Mendagri meminta partai untuk menyekolahkan calon kepada daerah sebelum bertarung di Pilkada.

Diterbitkan 30 Juli 2026, 20:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Mendagri Tito usul parpol latih calon kepala daerah cegah OTT KPK.
  • Kemendagri siap bantu pelatihan birokrasi dan keuangan bagi calon.
  • Pembinaan berkala pasca-jabatan penting bagi kepala daerah non-birokrat.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta setiap partai politik untuk 'menyekolahkan' calon kepala daerah sebelum bertarung di Pilkada. Usulan tersebut disampaikan Tito menyusul maraknya kepala daerah terjerat operasi tangkap tangan (OTT) KPK.

"Mungkin perlu dipertimbangkan pendapat saya, ini partai-partai yang betul-betul sekolah partainya diperkuat. Untuk begitu dia mendorong calon ya, sebelum mendorong calon tolonglah dibuat pelatihan dulu," ujar Tito di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta,Kamis (30/7/2026).

 Tito memastikan Kemendagri siap dilibatkan apabila partai politik ingin menyelenggarakan pelatihan atau sekolah bagi calon kepala daerah.

 "Mungkin bimbingan teknis, kami siap untuk diundang, Kemendagri, KPK atau yang lain-lain supaya dia ngerti mengenai birokrasi, bagaimana mengatur keuangan, membuat APBD, bisa kita sampaikan. Supaya enggak dibohongin sama stafnya," kata Tito.

Selain sekolah sebelum menjabat, Tito  mengusulkan kepala daerah memperoleh pembinaan secara berkala setelah dilantik.

Pembinaan dapat dilakukan setiap enam bulan melalui Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), maupun lembaga lain.

"Setelah itu mungkin bisa juga kami siap juga kalau seandainya per enam bulan sekali mereka ada penyegaran, entah di IPDN atau BPSDM, kami punya lembaga-lembaga itu," kata dia.

Menurut Tito, penguatan kapasitas kepala daerah sangat penting karena tidak semua kepala daerah memiliki latar belakang birokrat.

"Karena latar belakangnya berbeda, enggak semuanya ngerti birokrasi. Bisa mungkin mohon maaf, dari artis, dari pengusaha, swasta. Yang dia begitu masuk jadi kepala daerah dia harus ngerti birokrasi. Nah ini yang perlu sangat teknis," pungkasnya.                 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6