Apa Itu Semboyan 35, Isyarat Darurat dari Masinis Argo Anggrek Sebelum Tabrak KRL

Prosedur itu dilakukan setelah masinis menerima informasi dari pusat pengendali operasi bahwa terdapat “temperan” atau tabrakan di jalur depan.

Diterbitkan 22 Mei 2026, 06:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Masinis KA Argo Bromo Anggrek mengerem dan membunyikan Semboyan 35 sebelum tabrakan.
  • Tindakan ini dilakukan setelah masinis menerima info "temperan" di jalur depan.
  • KNKT masih investigasi penyebab kecelakaan; hasil akhir diperkirakan 2-3 bulan lagi.

Liputan6.com, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap masinis KA Argo Bromo Anggrek sempat melakukan pengereman dan memperbanyak penggunaan “Semboyan 35” sebelum insiden tabrakan dengan KRL di Bekasi Timur, Jawa Barat, (27/4/2026).

Prosedur itu dilakukan setelah masinis menerima informasi dari pusat pengendali operasi bahwa terdapat “temperan” atau tabrakan di jalur depan. Setelah itu, masinis diminta mengurangi kecepatan sekaligus memperbanyak penggunaan Semboyan 35 sebagai langkah kewaspadaan.

"Jadi kondisi lapangannya seperti apa dia enggak tahu, cuman memberitahu bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit. Terus kemudian banyak-banyak melakukan semboyan 35," kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono usai menghadiri rapat kerja dengan Komisi V DPR RI di Jakarta, Kamis (22/5/2026).

Lalu, apa sebenarnya Semboyan 35?

Dalam dunia perkeretaapian Indonesia, Semboyan 35 merupakan sinyal suara berupa bunyi klakson atau suling lokomotif yang dibunyikan panjang oleh masinis.

Biasanya, semboyan 35 dibunyikan untuk menjawab kepada kondektur kereta api dan PPKA bahwa kereta api sudah siap untuk diberangkatkan.

Masinis juga kerap membunyikan semboyan 35 saat melintas di perlintasan jalan raya atau tempat-tempat tertentu agar orang atau hewan bisa menyingkir dari rel kereta api.

Dalam aturan persinyalan kereta api Indonesia, Semboyan 35 termasuk kategori semboyan suara yang menjadi bagian penting sistem keselamatan perjalanan kereta.

Bahkan terdapat marka khusus bernama Semboyan 8K berupa papan bertuliskan “S.35” yang menandakan masinis wajib membunyikan klakson di titik tersebut.

Masinis Rem Kereta 1,3 Km dari Stasiun

Selain itu, masinis Kereta Api Argo Bromo Anggrek telah melakukan pengereman pelan sekitar 1,3 kilometer sebelum insiden tabrakan dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat pada 27 April 2026.

Soerjanto mengatakan pengereman dilakukan masinis kereta api jarak jauh itu setelah menerima informasi adanya temperan (tabrakan) kereta di depan.

"Tadi saya sampaikan bahwa dari jarak 1.300 meter setelah menerima berita bahwa di depan ada temperan, masinis sudah melakukan pengereman," kata Soerjanto

Meski masinis telah melakukan pengereman dan prosedur kewaspadaan, KNKT menegaskan penyebab utama kecelakaan masih dalam proses investigasi.

Saat ini tim investigasi masih mengumpulkan dan menganalisis berbagai data teknis maupun operasional untuk mengetahui rangkaian pasti penyebab kecelakaan tersebut.

KNKT memperkirakan hasil akhir investigasi baru dapat disimpulkan dalam dua hingga tiga bulan ke depan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6