Partisipasi Pilah Sampah Rumah Tangga Warga Jakarta Pusat Terus Meningkat

Sebanyak 20.209 rumah tangga di Jakarta Pusat telah menerapkan pemilahan sampah dari sumber hingga awal Juli 2026.

Diterbitkan 05 Juli 2026, 13:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Partisipasi pilah sampah di Jakarta Pusat meningkat, mencapai 20.209 rumah tangga per Juli 2026.
  • Peningkatan didorong sosialisasi dan edukasi intensif hingga tingkat RT/RW dan horeka.
  • Bank sampah dan pengolahan organik berhasil mengurangi ratusan ton sampah di Jakarta Pusat.

Liputan6.com, Jakarta - Partisipasi masyarakat Jakarta Pusat dalam Gerakan Pilah Sampah dari Sumber terus menunjukkan peningkatan seiring intensifikasi sosialisasi dan edukasi yang dilakukan.

Menurut Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat Slamet Riyadi, hingga 1 Juli 2026, tercatat sebanyak 20.209 rumah tangga atau 16,23 persen dari total 124.519 rumah di Jakarta Pusat telah menerapkan pemilahan sampah.

"Jumlah rumah yang melakukan pemilahan sampah terus meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan ini didorong melalui sosialisasi dan edukasi yang kami lakukan secara langsung," ujar Slamet, melansir Antara.

Dia menyampaikan, pada Mei 2026, jumlah rumah tangga di Jakarta Pusat yang melakukan pemilahan sampah tercatat sebanyak 12.948 rumah. Hingga 22 Juni 2026, jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 14.330 rumah.

"Adapun hingga 1 Juli 2026, sebanyak 20.209 rumah yang tersebar di delapan kecamatan telah turut menerapkan pemilahan sampah," ucap Slamet.

Dia juga menyebut, sosialisasi dan edukasi dilakukan hingga tingkat rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), kelurahan, kecamatan, serta sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) untuk memperluas cakupan rumah tangga yang memilah sampah.

 

Optimalkan Pengurangan Sampah

Menurut Slamet, selain memperluas partisipasi masyarakat, Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat juga mengoptimalkan pengurangan sampah melalui penguatan bank sampah dan pengolahan sampah organik di sumber.

"Bank sampah unit berhasil mengurangi timbulan sampah sebanyak 1.176.32 ton sepanjang Januari hingga Juni 2026 atau rata-rata 6,21 ton per hari," kata dia.

Sementara itu, lanjut Slamet, pengolahan sampah organik menggunakan berbagai metode, seperti biokonversi larva Black Soldier Fly (BSF), pengomposan, dan metode lainnya telah mereduksi sekitar 200 ton sampah organik sepanjang Januari hingga Juni 2026.

Menurut Slamet, pemilahan sampah sejak dari rumah menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, sekaligus meningkatkan pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai ekonomis maupun dapat diolah kembali.

Karena itu, pihaknya akan terus memperluas edukasi dan pendampingan kepada masyarakat agar semakin banyak rumah tangga yang menerapkan kebiasaan memilah sampah dari sumber sebagai bagian dari pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

"Kunci utama keberhasilan program ini yakni perubahan perilaku masyarakat. Selain itu, dunia usaha dan pasar juga melakukan upaya pemilahan dan pengurangan sampah dari sumber," jelas Slamet.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6