Cuaca Hari Ini Sabtu 11 April 2026: Awan Tebal Selimuti Jakarta Pagi, Siang Hujan

Cuaca hari ini pada Sabtu (11/4/2026) didominasi awan tebal, dengan potensi hujan sedang terjadi di Jakarta Selatan dan Timur pada siang hari.

Diterbitkan 11 April 2026, 06:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wilayah Jakarta dan sekitarnya diperkirakan akan didominasi cuaca berawan tebal dengan potensi hujan ringan hingga sedang pada Sabtu (11/4/2026). Demikian prakiraan cuaca hari ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, pada pagi hari seluruh wilayah Jakarta diprediksi berawan tebal, sementara hujan ringan berpotensi terjadi di Kepulauan Seribu. Memasuki siang hari, hujan sedang diprakirakan turun di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, sementara Jakarta Utara berpotensi mengalami hujan ringan.

Adapun Jakarta Barat tetap berawan tebal dan Jakarta Pusat diperkirakan cerah berawan. Pada malam hari, seluruh wilayah Jakarta kembali didominasi cuaca berawan tebal.

Untuk wilayah penyangga Jakarta seperti Bekasi, Depok, dan Kota Bogor, cuaca berawan tebal diprakirakan terjadi pada pagi hari. Hujan sedang berpotensi turun pada siang hari, sebelum kembali berawan tebal pada malam hari.

Sedangkan di Tangerang, Banten, cuaca berawan tebal diperkirakan terjadi sepanjang hari.  

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan, terutama pada siang hari di sejumlah wilayah, serta menyesuaikan aktivitas harian dengan kondisi cuaca yang berlaku.

Berikut informasi cuaca Jabodetabek selengkapnya dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG www.bmkg.co.id:

 Kota  Pagi  Siang   Malam 
 Jakarta Barat  Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal 
 Jakarta Pusat   Berawan Tebal  Cerah Berawan  Berawan Tebal 
 Jakarta Selatan  Berawan Tebal  Hujan Sedang  Berawan Tebal 
 Jakarta Timur   Berawan Tebal  Hujan Sedang  Berawan Tebal 
 Jakarta Utara   Berawan Tebal  Hujan Ringan  Berawan Tebal 
 Kepulauan Seribu   Hujan Ringan  Berawan Tebal  Berawan Tebal 
 Bekasi   Berawan Tebal  Hujan Sedang  Berawan Tebal 
 Depok   Berawan Tebal  Hujan Sedang  Berawan Tebal 
 Kota Bogor   Berawan Tebal  Hujan Sedang  Berawan Tebal 
 Tangerang  Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal 

BMKG Ingatkan Kemarau 2026 Berpotensi Lebih Kering

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan, kondisi iklim tahun 2026 berpotensi lebih kering dibandingkan normal, sehingga ada indikasi musim kemarau akan datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang.

Karena itu, dia menekankan pentingnya kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2026.

Hal ini disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Karhutla yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta, Selasa 7 April 2026.

Faizal menuturkan, saat ini kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) masih berada pada fase netral, namun pada semester kedua 2026 diprediksi berkembang menuju El Nino lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50–80 persen.

"Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering," kata dia seperti dalam keterangannya.

Sejalan dengan kondisi tersebut, hingga awal April 2026 jumlah titik panas (hotspot) di Indonesia tercatat mencapai 1.601 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, Faisal menjelaskan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diperkirakan mulai meningkat di wilayah Riau pada Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, serta berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.

Langkah Mitigasi

Sebagai upaya mitigasi, BMKG memperkuat langkah preventif melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan metode pembasahan lahan (rewetting). Faisal menjelaskan, modifikasi cuaca dilakukan ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun untuk menjaga kelembapan agar tidak mudah terbakar.

BMKG juga melakukan pemantauan dan prediksi iklim secara berkala, memanfaatkan Fire Danger Rating System (FDRS) untuk memetakan tingkat kerawanan kebakaran, serta memantau hotspot, sebaran asap, dan potensi pertumbuhan awan hujan sebagai dasar intervensi di lapangan. Pihaknya juga memperkuat diseminasi informasi peringatan dini serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap efektivitas operasi yang telah dilaksanakan.

Saat ini, operasi modifikasi cuaca berlangsung di sejumlah wilayah prioritas dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Di Riau, operasi yang dimulai pada 28 Maret 2026 hingga 11 April 2026 menunjukkan hasil signifikan, sementara operasi di Natuna pada 1–5 April 2026 juga meningkatkan curah hujan.

"Di Posko Riau, dari 23 sorti penerbangan, kita berhasil menambah curah hujan hingga 33 persen dengan volume air lebih dari 100 juta meter kubik. Di Natuna, tiga sorti penerbangan meningkatkan curah hujan sebesar 36 persen atau sekitar 1,4 juta meter kubik," jelas Faizal.

Ia menegaskan, BMKG mendapat arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat operasi modifikasi cuaca dalam strategi nasional pengendalian karhutla.

"Semoga kita semua dapat bersinergi dalam langkah yang sama untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tahun 2026," kata Faizal.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6