Kasus Campak Melonjak, DPR Minta Kemenkes Pastikan Stok Vaksin

Salah satu penyebab meningkatnya kasus campak adalah masalah ketersediaan vaksin di sejumlah daerah. Dalam beberapa kunjungan kerja, Pulung menemukan stok vaksin campak kosong atau sangat terbatas.

Diterbitkan 01 April 2026, 11:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Kasus campak di Indonesia meningkat tajam, memicu kekhawatiran DPR dan masyarakat.
  • Ketersediaan vaksin campak yang terbatas menjadi penyebab utama lonjakan kasus di berbagai daerah.
  • Kurangnya edukasi publik dan penolakan vaksinasi turut memperparah penyebaran campak.

Liputan6.com, Jakarta - Meningkatnya kasus campak di Indonesia memicu kekhawatiran berbagai pihak. Anggota Komisi IX DPR RI Pulung Agustanto mengingatkan masyarakat dan Kementerian Kesehatan mewaspadai penyebaran penyakit tersebut.

Berdasarkan data Kemenkes, hingga saat ini tercatat 59 kejadian luar biasa (KLB) campak yang mencakup 39 kabupaten/kota di 14 provinsi. Sepanjang 2026, jumlah kasus campak telah mencapai 2.740 kasus.

Salah satu kasus terbaru menimpa seorang dokter internship di RSUD Pagelaran, Cianjur, yang meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Pulung mengaku heran karena imunisasi campak telah lama menjadi program nasional, namun kasusnya kembali meningkat.

"Kenapa sekarang merebak lagi? Ini adalah alarm bahaya yang mesti diwaspadai," ucap Pulung. 

Menurut dia, salah satu penyebab meningkatnya kasus campak adalah masalah ketersediaan vaksin di sejumlah daerah. Dalam beberapa kunjungan kerja, ia menemukan stok vaksin campak kosong atau sangat terbatas.

“Begitu vaksin tidak tersedia, kasus ini merebak. Karena itu saya meminta Kemenkes untuk memastikan keberadaan vaksin campak sampai ke seluruh pelosok.”

Ia juga menyoroti posisi Indonesia yang saat ini berada di peringkat kedua kasus campak tertinggi di dunia, setelah Yaman.

“Yang memalukan, Yaman itu negara yang terus menerus dilanda konflik. Sementara Indonesia kan, baik-baik saja. Kalau kasus campaknya meledak, ini disebabkan karena kita gak serius menangani,” ujarnya kesal.

 

Bergantung Cakupan Imunisasi

Selain persoalan vaksin, Pulung menilai kurangnya edukasi publik turut berkontribusi terhadap meningkatnya kasus campak. Ia menyebut masih ada sebagian masyarakat yang menolak vaksinasi karena terpengaruh informasi yang tidak tepat.

“Nah, fenomena ini harus didekati dengan bijak. Kemenkes harus terus melakukan edukasi sesuai dengan kultur dan latar belakang keyakinan masyarakat," kata dia. 

Menurutnya, keberhasilan program vaksinasi sangat bergantung pada cakupan imunisasi yang tinggi di masyarakat.

“Jika masih ada anggota masyarakat yang punya pandangan negative terhadap vaksin, ya, wajib didekati dengan serius. Jangan dibiarkan begitu saja. Karena akan menganggu keberhasilan program vaksin ini," Pulung menandaskan 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6