Usai Minta Maaf ke Jokowi, Rismon Sianipar Sowan ke Gibran di Istana Wapres dan Dapat Parsel

Kedatangan Rismon disambut langsung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dengan senyum dan rangkulan hangat, keduanya pun bertukar sapa.

Diterbitkan 13 Maret 2026, 11:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Rismon Sianipar, tersangka kasus ijazah palsu Jokowi, meminta maaf setelah mengoreksi penelitiannya.
  • Setelah kajian ulang, Rismon menyatakan ijazah Jokowi asli, tidak ada kejanggalan.
  • Rismon mengubah keyakinan setelah membandingkan ijazah Jokowi dengan ijazah UGM lain.

Liputan6.com, Jakarta - Tersangka kasus dugaan pencemaran nama baik ijazah palsu Jokowi, Rismon Sianipar mendatangi Istana Wakil Presiden, Jumat (13/3/2026). Kedatangan ini sehari setelah pertemuannya dengan Presiden RI ke-7 Joko Widodo di Solo, Kamis (12/3/2026) sore.

Kedatangan Rismon disambut langsung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dengan senyum dan rangkulan hangat, keduanya pun bertukar sapa.

Momen keakraban tersebut dibalut hadiah parsel dari Gibran kepada Rismon. Usai memberikan parsel, Gibran langsung pamit untuk masuk lagi ke dalam Istana. Tak ada pernyataan pers atau pesan dari Gibran atas kedatangan Rismon.

Rismon Minta Maaf ke Jokowi

Saat menyambangi rumah Jokowi di Solo kemarin, Rismon menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Kedatangan Rismon didampingi kuasa hukumnya menjadi tindak lanjut dari koreksi mandiri yang dilakukannya terhadap hasil penelitiannya sendiri.

Rismon mengaku telah melakukan kajian ulang mendalam selama dua bulan terakhir, meninjau kembali metodologi dalam bukunya, Jokowi’s White Paper, untuk memastikan keakuratan dan integritas penelitiannya.

“Sebagai peneliti independen yang bertanggung jawab, saya harus menyatakan kesalahan dan mengoreksi hasil penelitian saya sendiri jika memang ditemukan kekeliruan. Berdasarkan temuan baru ini, saya menyatakan tidak ada kejanggalan terhadap keaslian ijazah Pak Jokowi,” kata Rismon kepada awak media usai pertemuan dengan Jokowi.

Rismon menjelaskan bahwa titik balik keyakinannya muncul setelah dia mengamati langsung dokumen ijazah analog saat gelar perkara. Dia melakukan studi komparatif dengan ijazah lain dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diterbitkan pada periode yang sama.

Hasilnya, dia menemukan bahwa standar pengamanan ijazah UGM kala itu memang konsisten dengan apa yang dimiliki Jokowi.

“Saya dapati memang ada emboss dan watermark. Setelah saya bandingkan dengan beberapa objek ijazah lain pada tahun yang sama dari UGM, memang pada saat itu belum menggunakan hologram sebagai pengaman. Yang ada hanya watermark dan emboss,” jelasnya.

Pertemuan Tertutup

Meski secara pribadi merasa berat, Rismon menekankan bahwa validitas ilmiah dan objektivitas adalah prioritas utamanya sebagai peneliti. Dia merasa perlu meluruskan polemik yang sempat memanas di masyarakat dan secara terbuka meminta maaf kepada publik serta kepada Joko Widodo secara khusus.

Pertemuan antara Jokowi dam Rismon berlangsung secara tertutup. Kemudian, tak berselang lama pengacara Rismon tampak ikut menyusul masuk ke dalam rumah. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar 50 menit.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6