Pemanasan Laut Ancam Ekosistem Kehidupan Perairan

Pemanasan laut menyebabkan pemutihan terumbu karang dan mengancam kelestarian ekosistem laut.

Diterbitkan 29 Januari 2026, 18:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perubahan iklim telah memengaruhi kandungan panas yang ada di laut sejak puluhan tahun lalu. Akibatnya, kandungan panas laut bagian atas telah meningkat secara signifikan selama beberapa dekade terakhir, dan terjadilah fenomena yang disebut dengan pemanasan laut.

Berdasarkan data dari laman resmi National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) www.climate.gov, lautan menyimpan sekitar 90 persen energi panas berlebih yang terperangkap dalam sistem iklim bumi oleh kelebihan gas rumah kaca.

Menurut data tersebut, tingkat perolehan panas pada 1993-2024 adalah sekitar 0,66 hingga 0,74 Watt per meter persegi rata-rata di atas permukaan bumi.

Sementara itu, studi terbaru memperkirakan pemanasan lautan bagian atas menyumbang sekitar 63 persen dari total peningkatan jumlah panas.

Jumlah panas itu tersimpan dalam sistem iklim dari tahun 1971 hingga 2010, dan pemanasan dari 700 meter ke dasar laut menambahkan sekitar 30 persen lagi.

Akhirnya, pemanasan perairan laut mengancam mata pencaharian manusia dan ekosistem laut, seperti mengancam kehidupan terumbu karang dan penyu di laut.

Air hangat hasil pemanasan laut juga membahayakan kesehatan karang, dan pada gilirannya, komunitas kehidupan laut yang bergantung padanya untuk tempat tinggal dan makanan.

Peningkatan kandungan panas laut juga berkontribusi pada kenaikan permukaan laut, gelombang panas laut, dan pemutihan karang.

Untuk mengatasi hal tersebut, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang menggelar kegiatan bimbingan Teknis Pemantauan Pantai Peneluran Penyu di Desa Deme, Kabupaten Sabu Raijua pada Oktober 2025 lalu.

Kegiatan ini menjadi upaya untuk menjaga ekosistem laut di tengah pemanasan laut yang semakin tinggi.

“Penyu adalah satwa karismatik sekaligus indikator kesehatan ekosistem laut. Keberhasilan pelestarian penyu tidak mungkin dicapai tanpa keterlibatan masyarakat. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap ekosistem laut di sekitar mereka,” ujar Kepala BKKPN Kupang Imam Fauzi, dilansir Liputan6.com dari laman resmi Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) www.ykan.or.id, Kamis (29/1/2026).

Pemanasan Laut dari Waktu ke Waktu

Rata-rata di atas permukaan bumi, tingkat perolehan panas sejak 1993-2024 adalah 0,39±0,06 hingga 0,46±0,07 Watt per meter persegi untuk kedalaman dari 0-700 meter (turun hingga 0,4 mil).

Sementara itu, tingkat perolehan panas adalah 0,17±0,03 hingga 0,24±0,04 Watt per meter persegi untuk kedalaman 700-2.000 meter (0,4-1,2 mil). 

Untuk kedalaman antara 2.000-6.000 meter (1,2-3,7 mil), perkiraan peningkatan adalah 0,070±0,016 Watt per meter persegi untuk periode Januari 1988 hingga Oktober 2014.

Jika tingkat semua lapisan dijumlahkan, tingkat perolehan panas laut kedalaman penuh berkisar antara 0,66 hingga 0,74 Watt per meter persegi yang diterapkan ke seluruh permukaan bumi.

Akhirnya, pemanasan air laut ini mengancam ekosistem perairan dan mata pencaharian masyarakat, dan orang-orang yang bergantung pada perikanan laut untuk makanan dan pekerjaan dapat menghadapi dampak negatif dari lautan yang memanas.

Pentingnya Menjaga Ekosistem Penyu

YKAN menegaskan pentingnya menjaga kelestarian penyu di Laut Sawu, habitat penting yang menjadi tempat bertelur tiga spesies penyu, yakni Penyu Hijau, Penyu Sisik, dan Penyu Lekang.

Sejalan dengan hal itu, Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN Yusuf Fajariyanto mengatakan, kegiatan ini berupaya untuk menjaga kelestarian penyu di berbagai wilayah.

“Kami percaya bahwa pelestarian penyu tidak bisa dilakukan sendiri. Dengan pengetahuan yang dimiliki masyarakat, ditambah dukungan dari pemerintah dan mitra konservasi serta integrasi dengan teknologi, merupakan upaya untuk memastikan penyu senantiasa lestari. Tidak hanya di Laut Sawu, namun juga di wilayah lain,” ujar Yusuf. 

Konservasi ini penting karena penyu merupakan satwa sekaligus indikator kesehatan ekosistem laut yang membantu menjaga keseimbangan alam laut.

Saat ini, ancaman terhadap penyu tidak hanya berasal dari perburuan, pengambilan telur, dan degradasi habitat oleh aktivitas manusia, tetapi juga diperparah oleh perubahan iklim global. 

Selain itu, pemanasan laut sebagai akibat dari meningkatnya suhu permukaan laut dapat menyebabkan pemutihan terumbu karang (bleaching), suatu kondisi stres termal yang mengganggu simbiosis antara karang dan alga zooxanthellae.

Upaya YKAN dalam konservasi penyu di Laut Sawu tidak hanya melibatkan perlindungan langsung terhadap penyu dan sarangnya, tetapi juga upaya menjaga keseimbangan ekosistem laut yang lebih luas agar keseimbangan satwa dan manusia tetap berlangsung.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6