Fadli Zon: Buku Sejarah Baru Indonesia Jawaban dari Aspirasi Para Sejarawan

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut buku sejarah yang baru saja diluncurkan sebagai respons atas aspirasi para sejarawan. Penulisan sejarah Indonesia dinilai perlu segera diperkaya karena telah lama tidak dilakukan secara komprehensif.

Diterbitkan 15 Desember 2025, 15:29 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut buku sejarah yang baru saja diluncurkan sebagai respons atas aspirasi para sejarawan. Penulisan sejarah Indonesia dinilai perlu segera diperkaya karena telah lama tidak dilakukan secara komprehensif.

"Penyusunan buku ini merupakan respons nyata pemerintah terhadap aspirasi para sejarawan mengenai perlunya pengayaan penulisan sejarah Indonesia yang sudah cukup lama tak dilakukan secara komprehensif," kata Fadli Zon, Senin (15/12/2025).

Dia menjelaskan, dalam proses pembuatan buku tersebut, Kementerian Kebudayaan hanya sebagai fasilitator. Sementara substansi dan metodologi penulisan sepenuhnya ditentukan secara independen oleh tim penulis, editor jilid, dan editor umum.

Fadli Zon mengatakan, langkah itu dilakukan untuk menjamin otonomi akademik dan objektivitas narasi sejarah yang dibangun.

“Penulisan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global ini untuk memperkaya wawasan masyarakat tentang sejarah perjalanan bangsa Indonesia hingga mutakhir," jelasnya.

Fadli Zon melanjutkan, dalam kurun waktu dua dekade, telah lahir banyak penelitian sejarah dan arkeologi dengan temuan-temuan baru yang penting untuk dikonstruksikan kembali dalam narasi sejarah bangsa. Karena itu, buku sejarah perlu disempurnakan.

Buku Disusun 10 Jilid Utama

Fadli Zon mengatakan, buku sejarah ini disusun dalam sepuluh jilid utama dan satu jilid faktaneka serta indeks. Proses penulisan buku ini berlangsung intensif selama satu tahun penuh, melibatkan kolaborasi masif dari 123 orang yang terdiri atas penulis, editor jilid, dan editor umum, berasal dari 34 perguruan tinggi dan 11 lembaga non-perguruan tinggi hingga menghasilkan karya sebanyak 7.958 halaman.

Dia memastikan, penulisannya tidak dimaksudkan sebagai sekadar buku teks konvensional, melainkan sebagai narasi dinamika historis bangsa Indonesia. Dalam konstruksi narasinya, buku ini menempatkan Indonesia sebagai subjek utama sejarah.

Fadli Zon melanjutkan, akar peradaban bangsa Indonesia ditelusuri sejak ribuan tahun lalu melalui dinamika geososio-historis, termasuk temuan manusia purba, persebaran budaya, serta kemampuan masyarakat Nusantara bertransformasi melalui perjumpaan dengan peradaban India, Tiongkok, Timur Tengah, hingga Barat. Pendekatan ini menegaskan autonomy historis, bahwa arah sejarah Indonesia ditentukan oleh kekuatan internal bangsa itu sendiri.

Merawat Memori Kolektif Bangsa

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menjelaskan bahwa proses penyusunan buku ini dilakukan melalui tahapan panjang, ketat, dan terukur sepanjang Januari hingga November 2025. Proses tersebut melibatkan editor umum Susanto Zuhdi, Singgih Tri Sulistyono, Jajat Burhanuddin editor jilid, penulis, editor bahasa, serta melalui diskusi publik.

Peluncuran buku ini menjadi momentum penting sebagai penguatan kesadaran sejarah nasional dalam merawat memori kolektif bangsa.

“Kami memastikan setiap tahap penulisan berjalan sesuai kaidah akademik, mulai dari sinkronisasi metodologi, penyuntingan substansi, diskusi publik, hingga penyelarasan bibliografi. Ini adalah komitmen kami terhadap akurasi, kualitas, dan keterbukaan,” ujar Restu Gunawan.

Dia mengatakan, Kementerian Kebudayaan juga mendorong peningkatan kesadaran sejarah dengan penetapan Hari Sejarah melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 206/M/2025 yang ditandatangani Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada 8 Desember 2025 di Jakarta. Tanggal 14 Desember dipilih merujuk pada pelaksanaan Seminar Sejarah Indonesia pertama yang berlangsung pada 14–18 Desember 1957 di Yogyakarta, sebuah tonggak penting dalam sejarah historiografi Indonesia.

Dia menambahkan bahwa penetapan Hari Sejarah dan peluncuran buku ini memiliki makna simbolik dan substantif yang saling menguatkan.

“Soft launching buku ini pada 14 Desember bukan hanya perayaan intelektual, tetapi juga penegasan bahwa negara memiliki tanggungjawab untuk merawat ingatan kolektif bangsa. Sejarah adalah fondasi, jika kehilangan sejarah berarti kehilangan arah kebangsaan,” tegasnya.

Buku ini diharapkan menjadi sumber penting dalam membangun kesadaran tentang asal-usul bangsa, kesinambungan dan perubahan sejarah, identitas dan jati diri nasional, hingga kesadaran kritis dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6