Wamentan Sudaryono Tegaskan Korupsi Adalah Kejahatan Luar Biasa: “Ingat Anak Istri di Rumah” 

Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Mas Dar ini menyebut korupsi sebagai extraordinary crime atau kejahatan luar biasa yang berdampak sistemik dan merusak banyak sendi kehidupan masyarakat.

Diterbitkan 10 Desember 2025, 19:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono kembali mengingatkan seluruh jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) akan pentingnya membangun budaya kerja yang berintegritas tinggi. Hal ini ia sampaikan dalam peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) 2025 di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Rabu (10/12/2025).

Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Mas Dar ini menyebut korupsi sebagai extraordinary crime atau kejahatan luar biasa yang berdampak sistemik dan merusak banyak sendi kehidupan masyarakat.

“Ada lebih dari 100 negara tahun 2003, berkumpul kemudian menyempakati bahwa korupsi adalah extraordinary crime. Jadi korupsi adalah extraordinary crime yang harus disikapi oleh banyak negara,” ujar Sudaryono.

Ia menegaskan bahwa Hakordia seharusnya tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan momen reflektif untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih.

Sudaryono menyoroti bagaimana negara-negara maju kini bahkan memperingati hari antikorupsi dengan cara lebih sederhana karena indeks integritas mereka telah tinggi. Ia pun berharap Kementan bisa terus memperbaiki sistem internal agar bebas dari celah praktik korupsi.

“Kita terus pacu, baik itu dari sisi pencegahan khususnya. Kita berharap dari sisi pencegahan bisa sangat maksimal sehingga betul-betul korupsi itu tidak ada di lingkungan kita. Di lingkungan yang paling kecil, di tempat kita bekerja tidak ada lagi praktik-praktik korupsi,” ucapnya tegas.

Kementan Didorong jadi Juara Anti Korupsi Antar Kementerian 

Sudaryono mengungkapkan bahwa tren indeks antikorupsi di lingkungan Kementan menunjukkan arah yang positif. Meski demikian, ia menilai perlu percepatan agar Kementan bisa menjadi teladan antikorupsi bagi kementerian lainnya.

So far perbaikan, mengalami perbaikan yang baik. Hanya memang masih perlu untuk lebih ditingkatkan. Saya memiliki target bahwa ke depan Kementerian Pertanian harus juara anti korupsi dibanding dengan Kementerian lain,” sebutnya.

Namun ia menekankan bahwa integritas bukanlah sebatas label atau tulisan semata di dinding kantor. Menurutnya, nilai-nilai kejujuran harus terpatri di dalam hati dan perilaku sehari-hari setiap pegawai.

“Di kantor-kantor itu sering ada tulisannya ‘kawasan berintegritas’, ‘kawasan antikorupsi’. Bukan berarti kemudian di kawasan itu saja kita tidak melakukan kegiatan tercela itu, bukan kemudian pindah tempat, salah. Yang dimaksud bukan tempatnya, tapi di hatinya Bapak Ibu semua,” tutur Wamentan.

Refleksi Diri: Jangan Biarkan Godaan Merusak Masa Depan 

Sebagai anak petani asal Grobogan, Jawa Tengah, Sudaryono mengajak seluruh ASN di lingkungan Kementan untuk merenung dan belajar dari kasus-kasus hukum yang ramai di televisi. Ia mengajak seluruh jajaran agar terus memperkuat kontrol diri dan menjauhi godaan korupsi yang bisa menghancurkan kehidupan pribadi dan keluarga.

“Mari kita selalu mengelus dada manakala ada di antara kita nonton TV, lihat seseorang di pesakitan memakai rompi warna oranye atau rompi merah. Kita elus dada, semoga peristiwa itu tidak menimpa kita dan kita tidak berbuat seperti yang dilakukan,” ujarnya.

“Saya minta sekali Anda ingat anak istri di rumah. Anda ingat keluarga di rumah, sebelum Anda memutuskan melakukan sesuatu yang melanggar,” tambahnya mengingatkan.

Ia juga menekankan bahwa sering kali tindakan tercela bukan semata karena niat, melainkan karena ada peluang atau kesempatan yang dibiarkan terbuka. Oleh karena itu, penting untuk membangun sistem dan budaya yang meminimalisasi celah tersebut.

“Sekali lagi, korupsi adalah extraordinary crime. Dengan korupsi, penjara terjadi. Dengan korupsi, jalan-jalan rusak. Dengan korupsi, orang tidak bisa makan. Dengan korupsi, orang tidak bisa sekolah. Dengan korupsi, orang tidak bisa mendapatkan pelayanan yang baik,” tandas Sudaryono menutup sambutannya.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6