Liputan6.com, Jakarta - Doa agar hati tidak menyimpan iri kepada sesama Muslim merupakan amalan penting untuk membersihkan hati dari penyakit hasad. Iri hati atau dengki adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, karena ia tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga dapat menghapus amal kebaikan seorang hamba.
Imam Al-Ghazali dalam Kitab Minhaj al-Abidin menjelaskan bahwa para ulama saja tidak selamat dari serangan penyakit iri hati, terlebih orang awam dan orang bodoh.
Ustaz Salehuddin bin Abu Samah dalam Koleksi Doa dan Zikir menyebutkan bahwa memperbanyak doa untuk membersihkan hati merupakan amalan yang diajarkan Rasulullah SAW untuk menjaga keistiqamahan dan keharmonisan hubungan sesama Muslim. Doa adalah sarana ampuh untuk membersihkan hati dari penyakit spiritual.
Advertisement
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin Al-Badr dalam Doa-Doa Pilihan Terbaik menekankan bahwa doa-doa yang bersumber dari Al-Qur'an, termasuk doa dalam Surat Al-Hasyr ayat 10, merupakan doa-doa yang paling lengkap dan penuh berkah, mencakup permohonan ampunan dan pembersihan hati dari kedengkian.
Islam mengajarkan bahwa kebersihan hati dari iri dan dengki adalah fondasi persaudaraan yang kokoh, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Al-Hasyr ayat 10, yang menjadi doa generasi Muslim setelah para sahabat.
Bacaan Doa agar Hati Tidak Menyimpan Iri kepada Sesama Muslim
1. Doa dari Surat Al-Hasyr Ayat 10
Arab: رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Latin: Rabbanaghfir lanaa wa li ikhwaaninalladziina sabaquunaa bil iimaani wa laa taj'al fii quluubinaa ghillan lilladziina aamanuu rabbanaa innaka ra'uufur rahiim
Artinya: "Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang." (QS. Al-Hasyr: 10)
Doa ini merupakan doa yang dipanjatkan oleh generasi Muslim setelah para sahabat Muhajirin dan Ansar. Dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan karakter orang-orang beriman generasi sesudah mereka yang berdoa kepada Allah agar diampuni dosanya dan dosa saudara-saudara seiman yang telah mendahului mereka dalam keimanan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa kata ghill dalam ayat ini bermakna kedengkian, kebencian, dan permusuhan yang tersimpan di dalam hati. Doa ini mengajarkan bahwa seorang Muslim harus memohon kepada Allah agar hatinya bersih dari perasaan negatif terhadap saudara seiman.
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menambahkan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa kedengkian terhadap orang beriman dapat menghapuskan amal saleh, sehingga seorang hamba wajib berdoa agar dijauhkan dari sifat tersebut.
2. Doa Nabi SAW dari Hadis Ibnu Abbas
Arab: رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ، وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرِ الْهُدَى لِي، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ. رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ شَاكِرًا لَكَ ذَاكِرًا لَكَ رَاهِبًا لَكَ مِطْوَاعًا لَكَ مُخْبِتًا إِلَيْكَ أَوَّاهًا مُنِيبًا. رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي، وَأَجِبْ دَعْوَتِي، وَثَبِّتْ حُجَّتِي، وَاهْدِ قَلْبِي، وَسَدِّدْ لِسَانِي، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ صَدْرِي
Latin: Rabbi a'innii wa laa tu'in 'alayya, wanshurnii wa laa tanshur 'alayya, wamkur lii wa laa tamkur 'alayya, wahdinii wa yassiril hudaa lii, wanshurnii 'alaa man baghaa 'alayya. Rabbij'alnii laka syakkaaran laka dzakkaaran laka rahhaaban laka mithwaa'an laka mukhbitan ilaika awwaahan muniiban. Rabbi taqabbal taubatii, waghsil haubatii, wa ajib da'watii, wa tsabbit hujjatii, wahdi qalbii, wa saddid lisaanii, waslul sakhiimata shadrii
Artinya: "Ya Allah, bantulah aku dan jangan Engkau bantu (musuhku) untuk mengalahkanku, dan tolonglah aku dan jangan Engkau tolong musuhku untuk mengalahkanku, buatlah tipu daya (strategi) untuk keberhasilanku dan jangan Engkau membuat tipu daya (bagi musuhku) untuk mencelakai diriku. Berilah aku petunjuk dan mudahkanlah petunjuk untukku, dan tolonglah aku melawan orang yang melampui batas terhadapku. Wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang senantiasa bersyukur kepadaMu, senantiasa ingat kepadaMu, senantiasa takut serta taat kepadaMu, bertaubat kepadaMu, dan senantiasa kembali kepadaMu. Wahai Tuhanku, terimalah taubatku, cucilah dosaku, dan kabulkan doaku, kokohkan hujjahku, luruskan lidahku, tunjukilah hatiku, dan hilangkanlah kedengkian hatiku!" (HR. At-Tirmidzi no. 3474)
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA bahwa Nabi SAW berdoa dengan doa tersebut. Imam At-Tirmidzi menilai hadis ini sebagai hasan shahih.
Dalam kitab Syarah Doa-Doa Pilihan Terbaik, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin Al-Badr menjelaskan bahwa bagian akhir doa ini, waslul sakhiimata shadrii, mengandung permohonan agar Allah menghilangkan kedengkian dan kebencian yang tersimpan di dalam dada.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad, dan Imam Abu Hurairah, sehingga semakin menguatkan kualitas hadis tersebut.
3. Doa dari Kitab Abwabul Faraj
Arab: اَللَّهُمَّ اعْصِمْنَا مِنْ شَرِّ اْلفِتَنِ، وَعَافِنَا مِنْ جَمِيْعِ اْلبَلَايَا وَاْلمِحَنِ، وَأَصْلِحْ مِنَّا مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ، وَنَقِّ قُلُوْبَنَا مِنَ اْلغِلِّ وَاْلحِقْدِ وَاْلحَسَدِ، وَلاَ تَجْعَلْ عَلَيْنَا تَبِعَةً لَأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ يَا اَرْحَمَ اْلرَّاحِمِيْنَ
Latin: Allahumma'shimna min syarril fitani wa 'afina min jami'il balaya wal mihani wa ashlih minna ma dzahara wa ma bathana wa naqqi qulubana minal ghilli wal hiqdi wal hasadi wa laa taj'al 'alaina tabi'atan li ahadin min khalqika ya arhamar rahimin
Artinya: "Ya Allah, jagalah kami dari kejahatan segala fitnah, selamatkanlah kami dari segala bencana dan cobaan, perbaikilah dari kami apa yang lahir dan yang batin, bersihkanlah hati kami dari iri serta dengki. Dan jangan jadikan kami pengikut salah satu dari makhluk-Mu, wahai Zat yang Paling Penyayang di antara semua penyayang."
Doa ini disebutkan oleh Sayid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani dalam kitabnya Abwabul Faraj. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa doa ini mencakup permohonan perlindungan dari segala fitnah, bencana, dan cobaan, serta permohonan agar hati dibersihkan dari sifat ghill (iri hati), hiqd (dendam), dan hasad (dengki).
Doa ini mengajarkan bahwa kebersihan hati dari penyakit-penyakit spiritual adalah bagian dari perbaikan diri secara menyeluruh, baik lahir maupun batin.
Makna Mendalam Doa agar Hati Tidak Menyimpan Iri kepada Sesama Muslim
1. Iri Hati sebagai Penyakit Hati yang Membinasakan
Dalam Kitab Minhaj al-Abidin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa iri hati atau hasad adalah perbuatan buruk yang merusak amal baik seorang hamba. Sifat iri hati juga mendorong seorang hamba pada perbuatan dosa yang lebih besar. Penyakit iri hati ini membinasakan mereka dan memasukkan mereka ke dalam neraka. Doa agar hati tidak menyimpan iri adalah bentuk ikhtiar spiritual untuk membersihkan hati dari penyakit yang sangat berbahaya ini.
2. Ghill: Kedengkian yang Menghapus Amal Saleh
Kata ghill dalam Surat Al-Hasyr ayat 10 bermakna kedengkian yang tersimpan di dalam hati. Dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kedengkian terhadap orang beriman dapat menghapuskan amal saleh. Doa ini mengajarkan bahwa seorang Muslim harus memohon kepada Allah agar hatinya bersih dari perasaan negatif terhadap saudara seiman, karena kebersihan hati adalah fondasi diterimanya amal ibadah.
3. Doa sebagai Terapi Spiritual Penyakit Hati
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin Al-Badr dalam Doa-Doa Pilihan Terbaik menekankan bahwa doa adalah sarana paling ampuh untuk membersihkan hati dari penyakit spiritual. Dengan berdoa secara rutin, seorang hamba menyerahkan hatinya kepada Allah untuk dibersihkan dan dijaga dari segala penyakit yang dapat merusak keimanan. Doa bukan sekadar permohonan, melainkan juga proses penyucian jiwa yang berkelanjutan.
4. Persaudaraan Islam sebagai Fondasi Umat
Surat Al-Hasyr ayat 10 diturunkan dalam konteks pujian Allah kepada Muhajirin dan Ansar yang membangun persaudaraan sejati atas dasar iman. Doa ini kemudian menjadi pedoman bagi generasi Muslim berikutnya untuk menjaga persaudaraan tersebut dengan membersihkan hati dari kedengkian. Ini menunjukkan bahwa persaudaraan Islam hanya dapat kokoh jika hati setiap Muslim bersih dari iri dan dengki terhadap saudaranya.
5. Keseimbangan antara Memohon Ampunan dan Kebersihan Hati
Doa dalam Surat Al-Hasyr ayat 10 menggabungkan dua permohonan penting: ighfir lanaa (ampunilah kami) dan laa taj'al fii quluubinaa ghillan (jangan tanamkan kedengkian dalam hati kami). Ini mengajarkan bahwa seorang hamba tidak cukup hanya memohon ampunan atas dosa-dosanya, tetapi juga harus memohon kebersihan hati dari penyakit yang dapat merusak hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Hikmah Doa agar Hati Tidak Menyimpan Iri kepada Sesama Muslim 1. Terjaganya Persaudaraan dan Keharmonisan Umat
Hikmah pertama adalah terjaganya persaudaraan. Iri hati adalah akar dari permusuhan dan perpecahan. Dalam Kitab Minhaj al-Abidin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa rasa dengki dan dendam adalah sumber segala kejahatan dan maksiat yang mendorong orang berbuat kebinasaan dan kezaliman. Dengan berdoa agar hati bersih dari iri, seorang Muslim menjaga keharmonisan hubungan dengan saudara seimannya dan memperkuat persatuan umat.
2. Mendapatkan Ketenangan Jiwa dan Kebahagiaan Sejati
Hikmah kedua adalah ketenangan jiwa. Iri hati adalah penyakit yang menggerogoti jiwa, menimbulkan stres, kecemasan, dan depresi. Dalam kitab Abwabul Faraj, dijelaskan bahwa dengki bagaikan api yang membakar hati, memakan kebaikan, dan menjerumuskan pelakunya ke jurang kehancuran. Dengan berdoa memohon kebersihan hati, seorang hamba meraih ketenangan jiwa dan kebahagiaan sejati yang bersumber dari hati yang lapang dan penuh syukur.
3. Diterimanya Amal Saleh dan Ibadah
Hikmah ketiga adalah diterimanya amal. Dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kedengkian terhadap orang beriman dapat menghapuskan amal saleh. Dengan berdoa agar hati bersih dari iri, seorang Muslim menjaga amal ibadahnya agar tidak sia-sia dan diterima oleh Allah SWT. Ini mengajarkan bahwa kebersihan hati adalah syarat penting untuk diterimanya amal saleh.
4. Terbebas dari Azab Neraka dan Mendapatkan Rahmat Allah
Hikmah keempat adalah terbebas dari azab neraka. Dalam Kitab Minhaj al-Abidin, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa penyakit iri hati membinasakan pelakunya dan memasukkan mereka ke dalam neraka. Dengan berdoa agar dijauhkan dari sifat iri dan dengki, seorang hamba berusaha menjauhkan diri dari azab neraka dan mendekatkan diri kepada rahmat Allah SWT, sebagaimana yang dipohonkan dalam doa rabbanaa innaka ra'uufur rahiim.
5. Meneladani Akhlak Para Sahabat dan Generasi Salaf
Hikmah kelima adalah meneladani akhlak para sahabat. Doa dalam Surat Al-Hasyr ayat 10 adalah doa generasi Muslim setelah Muhajirin dan Ansar yang mengikuti jejak para sahabat dalam menjaga persaudaraan dan kebersihan hati. Dalam Tafsir As-Sa'di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa doa ini mencakup semua kaum mukminin, baik yang terdahulu maupun yang akan datang. Dengan mengamalkan doa ini, seorang Muslim meneladani akhlak mulia para sahabat dan generasi salaf yang hatinya bersih dari iri dan dengki.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353323/original/048061500_1789960533-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-21T101401.683.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346108/original/077588800_1789110397-cek_fakta_cpns_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297473/original/054602700_1784094013-cek_fakta_BRI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350433/original/029287200_1789615728-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-17T102714.549.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919191/original/040795900_1723718109-Ilustrasi_pasrah__berserah__berdoa.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352928/original/090305000_1789881427-814971286_1111142854720088_26102448649927219_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353312/original/077360500_1789959966-pembubaran_orang_ibadah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353278/original/046487800_1789958536-39bd18c4-2e15-48d2-8c68-bf1e0d00e5d7.jpg)