Tanggal 7 Desember Diperingati sebagai Hari Apa? Berikut Sederet Peringatannya!

Tanggal 7 Desember terdapat berbagai peristiwa bersejarah. Mulai dari Hari Wafatnya Tirto Adhi Soerjo hingga Peringatan Invasi Indonesia ke Timor Leste. Ada hari apa lagi?

Diterbitkan 07 Desember 2025, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tanggal 7 Desember, dunia memperingati berbagai peristiwa bersejarah. Hari ini, Minggu (7/12/2025) diperingati sebagai Hari Wafatnya Tirto Adhi Soerjo, ia adalah Bapak Pers Indonesia dan tokoh kebangkitan nasional.

Tirto merupakan orang pertama di Indonesia yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia vokal dalam mengkritik pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu melalui surat kabar Medan Prijaji.

Hari ini juga diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Dharma Wanita Persatuan (DWP) Indonesia. Saat awal didirikan, DWP beranggotakan para istri Pegawai Republik Indonesia pada masa Pemerintahan Orde Baru. Organisasi ini didirikan atas inisiatif dari mantan Ibu Negara RI ke-2, Titiek Soeharto. 

Selain itu, hari ini juga diperingati sebagai Hari Penerbangan Sipil Internasional. Peringatan hari ini ditujukan untuk membangkitkan kesadaran di seluruh dunia akan pentingnya penerbangan sipil internasional untuk membangun perekonomian negara-negara di dunia.

Kemudian, hari ini turut diperingati sebagai Hari Peringatan Nasional Pearl Harbor. Pada tanggal 7 Desember 1941, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang melakukan serangan mendadak ke unit-unit Angkatan Bersenjata Amerika Serikat yang ditugaskan di Pearl Harbor, Hawaii. Serangan ini menyebabkan 2.403 warga Amerika tewas.

Tak kalah menarik, pada hari ini terdapat peristiwa memilukan yang terjadi di tanah air. Empat belas tahun silam, seorang mahasiswa Universitas Bung Karno meninggal dunia akibat aksi bakar diri yang dilakukannya tepat di depan Istana Merdeka, Jakarta. Mahasiswa tersebut bernama Sondang Hutagalung.

Aksi nekat itu dilakukan oleh Sondang karena kekecewaannya terhadap berbagai ketidakadilan yang terjadi di tanah air. Sondang menilai lambannya penanganan kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.

Terakhir, pada tanggal 7 Desember 1975, telah terjadi Invasi Indonesia ke Timor Leste atau yang dikenal sebagai Operasi Seroja. Pada hari ini, Indonesia menginisiasi pemboman angkatan laut ibukota Dili yang dilanjutkan dengan pendaratan pasukan terjun payung udara dan laut di pantai.

Berikut sederet peringatan yang jatuh pada 7 Desember dihimpun oleh Tim News Liputan6.com dari berbagai sumber:

Hari Wafatnya Tirto Adhi Soerjo

Dilansir Liputan6.com dari website Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora pada tahun 1880 dan meninggal pada tanggal 7 Desember 1918.

Tirto diketahui pernah bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi yang kemudian berganti nama menjadi Berita Betawi. Dia juga pernah memimpin redaksi Medan Prijaji yang berkantor di Bandung.

Sebagai seorang wartawan, ia sering menulis dengan gaya yang biasa diterapkan oleh T. Pangemanan dan Razoux Kuhr. Tirto aktif dalam mengkritik pemerintahan pada saat itu. Uniknya, kritik yang diberikan oleh Tirto dituang dalam bentuk cerita pendek yang dipublikasikan di surat kabarnya.

Tirto pernah menciptakan moto yang cukup menyinggung pemerintahan Belanda pada masanya, bahkan sampai dianggap radikal.

Di bawah surat kabar Medan Prijaji, ia pernah melontarkan moto "orgaan boeat bangsa jang terperintah di Hinia Olanda, tempat memboeka soearanja".

Kemudian, di bawah surat kabar Sinar Sumatra, ia pernah menulis "Kekallah keradjaan Wolanda, sampai mati setia kepada keradjaan Wolanda".

Bukan hanya aktif dalam dunia pers, Tirto turut berkiprah dalam dunia pergerakan. Dia mendirikan Serikat Dagang Islam pada tahun 1911 di Bogor. Serikat Dagang Islam sendiri didirikan untuk memajukan ekonomi pedagang pribumi muslim yang saat itu harus bersaing dengan pedagang asing. 

Tirto adalah salah satu tokoh yang tulisannya sering disebut sebagai bacan politik atau “bacaan liar” dalam dunia sastra. Dia adalah orang yang pertama kali merintis perlunya bacaan untuk rakyat Hindia yang tidak terdidik. 

Dia memulai karya politiknya dengan menulis “Boycott” yang terbit di bawah surat kabar Medan Prijaji. Artikel ini digunakan oleh Tirto untuk membela kaum yang lemah dalam melawan pemilik perusahaan gula.

Dalam artikel ini, Tirto menyuarakan aksi boikot yang dilakukan oleh orang Tionghoa karena perusahaan Eropa yang menolak permintaan mereka untuk memperoleh barang. Akibatnya, 24 perusahaan milik Eropa di Surabaya gulung tikar.

Artikel ini merupakan bentuk penentangan terhadap pemimpin yang diktator. Artikel “Boycott” yang ditulis oleh Tirto tersebut berhasil menyadarkan banyak orang akan pentingnya bacaan-bacaan politik untuk membuka mata dan daya kritis orang pribumi pada saat itu.

Hari Ulang Tahun Dharma Wanita Persatuan

Dilansir Liputan6.com dari website Dharma Wanita Persatuan (DWP), organisasi ini mulanya bernama Dharma Wanita dan berdiri pada tanggal 5 Agustus 1974.

Namun, pada tanggal 7 Desember 1999, Dharma Wanita berganti nama menjadi Dharma Wanita Persatuan (DWP). Hari ini pun kemudian ditetapkan sebagai Hari Ulang Tahun DWP.

Atas perintah dari Titiek Soeharto, DWP didirikan oleh Ketua Dewan Pembina Korpri pada saat itu, yakni Amir Machmud.

Sebelum berganti nama, Dharma Wanita beranggotakan para istri Pegawai Republik Indonesia, anggota ABRI yang dikaryakan, dan pegawai BUMN.

Kemudian, pada era reformasi tahun 1998-an, organisasi ini mulai melakukan perubahan yang mendasar. Dharma Wanita berubah menjadi organisasi sosial kemasyarakatan yang bersifat netral dan tidak memiliki muatan politik di dalamnya. Organisasi ini menjadi lembaga yang independen dan menjunjung tinggi demokrasi.

Perubahan nama Dharma Wanita menjadi Dharma Persatuan Wanita (DWP) pada tahun 1999 bukan tanpa alasan. Hal ini didasari oleh nama kabinet pemerintahan pada saat itu. Dharma Wanita menambahkan kata “Persatuan” untuk menyesuaikan dengan nama kabinet di bawah Presiden Abdurrahman Wahid pada saat itu, yakni Kabinet Persatuan Nasional.

Perubahan nama ini juga ditetapkan melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) pada tanggal 6-7 Desember 1999. Musnalub ini bukan hanya membahas soal pergantian nama Dharma Wanita, melainkan juga mengubah istilah istri Pegawai Republik Indonesia menjadi istri Pegawai Negeri Sipil.

Hari Penerbangan Sipil Internasional

Dilansir Liputan6.com dari website Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Hari Penerbangan Sipil Internasional ditujukan untuk memperingati penandatanganan Konvensi Penerbangan Sipil Internasional atau dikenal dengan Konvensi Chicago pada tanggal 7 Desember 1944 di Chicago, Amerika Serikat .

Perjanjian internasional ini merupakan landasan bagi perkembangan sistem penerbangan sipil global yang bermanfaat bagi negara-negara di dunia. Oleh sebab itu, PBB menetapkan hari ini sebagai Hari Penerbangan Sipil Internasional.

Penetapan hari ini juga selaras dengan agenda 2030 PBB, yakni memulai era baru dalam pembangunan berkelanjutan global. Melalui penerbangan sipil internasional, konektivitas antara negara-negara di dunia akan semakin mudah terjalin tanpa ada batas ruang dan waktu.

Selain itu, peringatan hari ini juga diharapkan dapat menciptakan perdamaian global. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Konvensi Chicago. Konvensi Chicago menilai penerbangan internasional sebagai pendorong yang mendasar untuk mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan global. 

Penetapan hari ini juga bersamaan dengan perayaan Hari Jadi International Civil Aviation Program (ICAO) yang ke-50. ICAO berperan besar di balik pembangunan penerbangan global yang aman, terjamin, dan berkelanjutan. 

ICAO menetapkan standar yang membuat industri penerbangan global berkembang pesat dan mampu memberikan dampak terhadap kemajuan sosial-ekonomi, kesetaraan gender, dan budaya inovasi. 

Hari Peringatan Nasional Pearl Harbor

Dilansir Liputan6.com dari website Perpustakaan dan Museum Kepresidenan Ronald Reagan, pada hari ini, tepatnya tanggal 7 Desember 1941 telah terjadi peristiwa yang bersejarah untuk Amerika Serikat.

Saat itu, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang melakukan serangan secara tiba-tiba kepada Angkatan Bersenjata Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii. Bukan hanya merenggut 2.403 nyawa warga Amerika, serangan ini juga menyebabkan 1.178 orang luka-luka.

Peristiwa ini tentu membekas di ingatan warga Amerika. Peringatan ini menjadi momentum untuk selalu mempertahankan hak-hak mereka atas kebebasan bangsanya tanpa harus dihantui rasa takut.

Tak hanya itu, peringatan ini juga ditujukan untuk menghargai jasa-jasa para pahlawan Amerika yang gugur pada saat kejadian. Pengorbanan mereka untuk menciptakan dunia yang aman bagi generasi mendatang tidak boleh dilupakan.

Pada tanggal 7 Desember 1986, Presiden Amerika Serikat ke-40, Ronald Reagan menetapkan hari ini sebagai Hari Peringatan Pearl Harbor Nasional. Dia menyerukan warga Amerika Serikat untuk memperingati hari ini dengan melakukan upacara dan sejumlah kegiatan untuk menanamkan tekad bela negara terhadap negaranya.

Peringatan Aksi Bakar Diri Sondang Hutagalung

Dilansir Liputan6.com dari Antara, Sondang Hutagalung, seorang mahasiswa Universitas Bung Karno melakukan aksi bakar diri di depan Istana Merdeka, Jakarta pada tanggal 7 Desember 2011. Aksi ini dilakukan oleh Sondang sebagai bentuk kekecewaannya terhadap pemerintahan Indonesia pada saat itu.

Sebelum melakukan aksi nekat tersebut, sondang sempat menuliskan pesan di buku catatan harian milik kekasihnya. Dalam pesan yang ia tulis, sondang mengungkapkan kesedihannya atas ketidakpedulian pemerintah Indonesia.

"Terkutuklah buat ketidakadilan, terkutuklah buat ketidakpedulian, terkutuklah buat kemiskinan, terkutuklah buat rasa sakit dan sedih, terkutuklah buat para penguasa jahat, terkutuklah buat para penjahat, setelah aku tidak punya rasa lagi," demikian pesan yang ditulis Sondang dalam buku harian kekasihnya.

Usai melakukan aksi bakar diri, Sondang dikabarkan meninggal tiga hari kemudian, yakni pada tanggal 10 Desember 2011.

Sayangnya, setahun setelah kepergian Sondang belum terlihat ada perubahan dalam penanganan kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia. 

Kepergian Sondang menjadi pengingat untuk pemerintah Indonesia dalam menegakkan hukum untuk mengadili para pelaku kejahatan HAM di Indonesia. Pemerintah sebagai pemangku kuasa sudah selayaknya untuk memperhatikan kasus-kasus pelanggaran HAM.

Peringatan Invasi Indonesia ke Timor Leste

Berdasarkan catatan Liputan6.com, dini hari 7 Desember 1975, pasukan Indonesia melancarkan invasi besar-besaran ke bekas separuh pulau Timor, atau Timor Leste, yang terletak di dekat Australia di Laut Timor.

Penyerbuan dilakukan setelah kolonialis Portugis meninggalkan pulau itu pada Agustus 1975, untuk kemudian digantikan oleh pemerintahan pimpinan Fretilin.

Sejak itu, pasukan Indonesia mulai bergerak ke perbatasan Timor Leste dari Timor bagian barat bagian Indonesia, demikian seperti dikutip dari History.

Pada 28 November, pemerintah Timor Leste yang terpilih secara demokratis, khawatir akan invasi Indonesia yang akan segera terjadi, memproklamirkan Republik Demokratik Timor Leste.

Pada pagi hari tanggal 7 Desember, Indonesia merespons dengan menginisiasi pemboman angkatan laut ibu kota Dili, dilanjutkan dengan pendaratan pasukan terjun payung dari udara dan laut di pantai.

Pada 10 Desember, pasukan invasi kedua merebut kota terbesar kedua Timor Leste, Baucau. Selama titik puncaknya, ada sekitar 35.000 pasukan Indonesia, melawan sekitar 20.000 pasukan dan milisi Timor Leste.

Di tempat lain, perlawanan Timor Leste berlanjut, tetapi pada tahun 1978 pencaplokan Timor Leste oleh Indonesia pada dasarnya selesai, menjadikan wilayah itu salah satu provinsi Indonesia selama rezim Presiden Soeharto.

Selama tahun-tahun awal invasi dan pendudukan Indonesia, lebih dari 100.000 - 180.000 warga Timor Leste meninggal, terluka, ditangkap, atau tercerabut dari tempat tinggalnya, sebagai akibat langsung dari konflik tersebut, CAVR melaporkan.

Sebagian besar yang tewas adalah warga sipil yang dibunuh oleh militer atau mati kelaparan di kamp-kamp interniran, atau saat bersembunyi di perbukitan dari militer Indonesia.

Kelompok-kelompok kecil gerilyawan Timor Leste melanjutkan perlawanan mereka selama beberapa dekade.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6