Tak Sekadar Pasar, Indonesia Jadi Mitra Penting AS

Indonesia dan Amerika Serikat terus memperkuat kemitraan industri dengan menitikberatkan pada peningkatan investasi.

Diterbitkan 27 Juni 2026, 21:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia dan Amerika Serikat terus memperkuat kemitraan industri dengan menitikberatkan pada peningkatan investasi, penguatan rantai pasok global, serta pengembangan ekosistem manufaktur dan teknologi.

Hal tersebut menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan antara US Chamber of Commerce, AmCham Indonesia, dan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo bersama jajaran KBRI Washington DC.

Pertemuan juga dihadiri Vice President US Chamber of Commerce untuk US-ASEAN Business Committee John Goyer, Donna Pribadi dari AmCham Indonesia, Indra Duivenvoorde dari Boeing Indonesia, perwakilan Nike, Hamilton Beach, serta Freeport-McMoRan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Door Knock Meeting American Chamber of Commerce Asia Pacific yang bertujuan memperkuat jejaring bisnis lintas negara.

Pertemuan menegaskan posisi Indonesia bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai mitra produksi yang memiliki peluang besar untuk semakin terintegrasi dalam rantai pasok industri maju Amerika Serikat.

Di sektor penerbangan, Boeing memaparkan besarnya peluang bagi industri nasional untuk masuk ke dalam rantai pasok global. Satu pesawat Boeing 737 terdiri dari sekitar 2 juta komponen, sementara Boeing 777 membutuhkan hingga 3 juta komponen. Kerja sama Boeing dengan PT Dirgantara Indonesia menjadi salah satu contoh kolaborasi yang telah berjalan.

Hubungan Boeing dengan Indonesia telah terjalin selama 78 tahun, sejak pembelian pesawat RI 001 Seulawah jenis DC-3 Dakota pada 1948. Ke depan, Indonesia diproyeksikan menjadi pasar penumpang pesawat terbesar keempat di dunia pada 2036.

Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa dan tingkat ketersediaan kursi pesawat yang baru mencapai sekitar 28 persen, Indonesia diperkirakan membutuhkan sedikitnya 600 pesawat baru sekelas Boeing 737.

Selain mendukung pengembangan industri penerbangan, Boeing juga berkontribusi pada pengembangan sumber daya manusia melalui kerja sama Boeing–ITB University Leadership Development serta menjalin kolaborasi dengan Pertamina dalam pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku minyak nabati sebagai campuran avtur yang lebih ramah lingkungan.

 

Sektor Manufaktur

Di sektor manufaktur, Nike menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis produksi utama sepatu dengan menyerap sekitar 500 ribu tenaga kerja, di mana sekitar 90 persen produksinya ditujukan untuk ekspor. Sementara itu, Hamilton Beach tengah membangun pabrik peralatan elektronik rumah tangga di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah, yang semakin memperkuat investasi manufaktur di Indonesia.

Pada sektor energi dan sumber daya alam, perusahaan Amerika seperti ExxonMobil dan Freeport-McMoRan tetap menjadi mitra strategis dalam kerja sama ekonomi bilateral.

Dalam pertemuan tersebut, para investor menegaskan bahwa Indonesia tetap menjadi salah satu negara prioritas tujuan investasi. Namun demikian, mereka juga menyoroti pentingnya kepastian regulasi, kemudahan berusaha, serta penyelesaian hambatan non-tarif agar Indonesia semakin kompetitif dibandingkan negara-negara tetangga.

John Goyer berharap US–Indonesia Investment Summit yang akan diselenggarakan di Jakarta pada Oktober 2026 dapat menghasilkan kerja sama konkret dan penandatanganan kontrak antara perusahaan Indonesia dan Amerika Serikat. Ia juga mengundang pelaku usaha Indonesia untuk berpartisipasi dalam forum B-20 di Washington DC pada 9–11 November 2026 yang akan berlangsung bersamaan dengan KTT G20.

 

 

Potensi Investasi

Pemerintah Indonesia turut menawarkan berbagai potensi investasi, mulai dari besarnya pasar domestik hingga pertumbuhan ekonomi digital yang meningkat dari US$ 82 miliar pada 2023 menjadi US$ 99 miliar pada 2025.

"Indonesia memiliki talenta-talenta yang menempuh pendidikan di Amerika Serikat dan siap berkontribusi dalam mendukung investasi serta transfer pengetahuan. Pemerintah juga terus melakukan pembenahan regulasi, antara lain melalui PP Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko serta penyediaan Blue Book Bappenas yang memuat daftar proyek prioritas bagi investor asing, termasuk dari Amerika Serikat," ujar Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo.

Secara keseluruhan, hubungan ekonomi Indonesia–Amerika Serikat terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data US Trade Representative, nilai perdagangan kedua negara pada 2025 mencapai US$ 45,7 miliar.

Capaian tersebut mencerminkan semakin kuatnya hubungan bilateral yang tidak hanya didorong oleh perdagangan, tetapi juga investasi, teknologi, dan pembangunan ekosistem industri masa depan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6