Liputan6.com, Jakarta - Ular laut selama ini lebih sering dibayangkan sebagai penghuni perairan dangkal yang berenang di sekitar terumbu karang, pesisir, atau dasar laut yang masih mendapat cukup cahaya. Namun, anggapan tersebut ternyata belum menggambarkan seluruh kemampuan reptil laut ini. Sebuah rekaman dari perairan Australia Barat menunjukkan seekor ular laut mampu berenang hingga kedalaman sekitar 245 meter, angka yang terbilang mengejutkan karena hewan tersebut tetap bernapas menggunakan paru-paru dan harus kembali ke permukaan untuk mengambil udara.
Temuan itu bukan hanya menarik karena kedalamannya, tetapi juga karena memperlihatkan kemungkinan adanya aktivitas ular laut di lingkungan yang selama ini jarang diamati secara langsung. Rekaman menggunakan remotely operated vehicle (ROV) tersebut memperlihatkan ular laut dari kelompok Hydrophis berada jauh di bawah permukaan di Browse Basin, North West Shelf, Australia Barat. Pengamatan lain pada kedalaman sekitar 239 meter kemudian semakin memperkuat dugaan bahwa kemampuan mencapai perairan lebih dari 200 meter bukan sekadar kejadian tunggal.
Ular Laut yang Menyelam hingga Kedalaman 245 Meter
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2772547/original/042534600_1554713149-ular_laut.jpg)
Ular laut yang menjadi perhatian dalam penelitian tersebut terekam sedang berenang pada kedalaman sekitar 245 meter di Browse Basin, wilayah North West Shelf, Australia Barat. Rekaman ini diperoleh menggunakan ROV, yaitu kendaraan bawah air yang dikendalikan dari permukaan dan dapat digunakan untuk mengamati lingkungan laut yang sulit dijangkau manusia secara langsung. Menariknya, ROV yang merekam ular tersebut pada awalnya digunakan untuk kebutuhan industri minyak dan gas, tetapi rekamannya kemudian memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari keberadaan satwa di laut yang lebih dalam.
Identifikasi ular dalam rekaman tersebut belum dapat dilakukan sampai tingkat spesies karena kualitas dan kondisi pengamatan tidak memungkinkan peneliti memastikan jenisnya secara lebih spesifik. Meski demikian, berdasarkan karakteristik yang terlihat, individu tersebut dimasukkan ke dalam kelompok Hydrophis, salah satu kelompok ular laut. Hampir tiga tahun setelah rekaman pertama, ROV kembali menemukan ular laut di kawasan yang sama pada kedalaman sekitar 239 meter, sehingga terdapat setidaknya dua pengamatan yang menunjukkan bahwa ular laut dapat mencapai zona lebih dari 200 meter di bawah permukaan.
Kedalaman 245 meter menjadi semakin menarik karena wilayah tersebut sudah termasuk zona mesopelagik atau yang kerap disebut zona senja, yakni bagian laut yang secara umum berada pada kedalaman sekitar 200 hingga 1.000 meter. Di lingkungan seperti ini, cahaya matahari jauh lebih sedikit dibandingkan perairan permukaan, sementara tekanan air juga meningkat seiring bertambahnya kedalaman. Bagi ular laut yang bernapas menggunakan paru-paru, kemampuan mencapai lingkungan tersebut menunjukkan bahwa batas kemampuan menyelam kelompok reptil ini mungkin lebih jauh daripada yang sebelumnya diperkirakan.
Lalu, apakah temuan tersebut berarti ular laut memang hidup di laut dalam? Belum tentu. Rekaman pada kedalaman 245 meter dan sekitar 239 meter menunjukkan bahwa ular laut mampu mencapai kedalaman tersebut dan bahkan melakukan aktivitas yang kemungkinan berkaitan dengan mencari makanan, tetapi dua pengamatan saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa hewan ini secara permanen tinggal di laut dalam. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui apakah penyelaman sedalam itu merupakan perilaku yang rutin, hanya dilakukan oleh individu tertentu, atau berkaitan dengan kondisi tertentu seperti ketersediaan makanan. Peneliti dalam studi tersebut juga menekankan perlunya pengamatan menggunakan pelacakan hewan dan ROV untuk memahami perilaku ini secara lebih menyeluruh.
Advertisement
Rekor Sebelumnya Lebih Dangkal
Sebelum adanya pengamatan pada kedalaman 245 meter, catatan kedalaman ular laut yang diketahui berada di sekitar 133 meter. Perbandingan tersebut menunjukkan betapa besar perubahan pemahaman mengenai kemampuan menyelam reptil laut ini. Jika sebelumnya ular laut dianggap umumnya menyelam pada kedalaman sekitar 50 hingga 100 meter, temuan baru tersebut memperlihatkan bahwa setidaknya sebagian individu mampu mencapai lebih dari dua kali lipat kedalaman yang selama ini sering diasosiasikan dengan aktivitas mereka.
Rekaman kedua pada sekitar 239 meter juga menjadi bagian penting dalam temuan tersebut. Keberadaan dua ular laut pada kedalaman yang hampir sama, meskipun diamati pada tahun yang berbeda, memberikan alasan lebih kuat untuk mempertimbangkan bahwa penyelaman hingga zona mesopelagik bukan sekadar kesalahan pengamatan atau kejadian yang sangat mustahil. Kendati demikian, para peneliti tetap berhati-hati karena jumlah pengamatan masih terbatas dan belum bisa digunakan untuk menentukan seberapa sering perilaku tersebut dilakukan oleh ular laut secara umum.
Dengan demikian, angka 245 meter bukan berarti seluruh ular laut memiliki kemampuan menyelam hingga kedalaman tersebut setiap saat. Rekor itu lebih tepat dipahami sebagai bukti bahwa setidaknya ada ular laut yang mampu mencapai kedalaman ekstrem tersebut. Penemuan ini sekaligus menantang anggapan lama mengenai batas perilaku, fisiologi, dan ekologi ular laut, serta membuka peluang penelitian baru mengenai bagaimana reptil tersebut memanfaatkan lingkungan yang jauh lebih dalam daripada habitat yang selama ini paling sering diamati.
Bagaimana Ular Laut Bisa Menyelam Sedalam Itu?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3550454/original/069297600_1629865670-Sea_snake.jpg)
Salah satu hal yang membuat kemampuan ini terasa luar biasa adalah cara ular laut bernapas. Berbeda dengan ikan yang mengambil oksigen dari air menggunakan insang, ular laut merupakan reptil yang menggunakan paru-paru sehingga harus menghirup udara dari permukaan. Ketika menyelam hingga ratusan meter, ular tidak dapat mengambil oksigen secara langsung dari air, sehingga kemampuan mengatur penggunaan oksigen selama berada di bawah permukaan menjadi sangat penting. Semakin dalam penyelaman dilakukan, semakin jauh pula perjalanan yang harus ditempuh untuk kembali ke permukaan.
Kondisi lingkungan di kedalaman tersebut juga berbeda drastis dari perairan dangkal yang lebih umum dikaitkan dengan ular laut. Pada zona mesopelagik, cahaya yang tersedia jauh lebih terbatas, suhu dapat lebih rendah, dan tekanan air meningkat dibandingkan kondisi di dekat permukaan. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat penyelaman hingga lebih dari 200 meter menjadi kemampuan yang menarik dari sisi fisiologi dan perilaku. Para peneliti bahkan menyebut temuan ini membuka pertanyaan mengenai toleransi suhu, fisiologi penyelaman, serta kebutuhan ekologis ular laut yang masih belum sepenuhnya diketahui.
Menariknya, kemampuan menyelam tersebut tampaknya tidak hanya digunakan untuk berpindah tempat. Dalam rekaman pada 2017, ular laut terlihat berada dekat dasar laut berpasir dan berulang kali memasukkan kepalanya ke lubang-lubang pada sedimen. Peneliti menafsirkan perilaku tersebut sebagai indikasi bahwa ular sedang mencari makanan, kemungkinan ikan atau invertebrata kecil yang bersembunyi di dasar laut. Namun, jenis mangsa yang sebenarnya dicari belum diketahui secara pasti, begitu pula bagaimana ular tersebut mendeteksi mangsa dalam kondisi cahaya yang sangat minim.
Advertisement
Penemuan Ini Bukan Terjadi pada 2026
Meskipun kembali diberitakan pada 2026, pengamatan ular laut hingga kedalaman 245 meter sebenarnya terjadi jauh sebelumnya. Rekaman pertama dibuat pada 16 November 2014 ketika seekor ular laut terlihat berenang pada kedalaman sekitar 245 meter. Data tersebut kemudian menjadi bagian dari penelitian yang menganalisis rekaman ROV dari wilayah North West Shelf, Australia.
Pengamatan berikutnya terjadi pada 18 Juli 2017 ketika seekor ular laut kembali terekam pada kedalaman sekitar 239 meter. Kali ini, rekaman tersebut tidak hanya memperlihatkan ular berenang di kedalaman ekstrem, tetapi juga menunjukkan perilaku yang diduga sebagai aktivitas mencari makan di dasar laut. Kedua pengamatan tersebut kemudian dianalisis oleh Jenna M. Crowe-Riddell dan tim peneliti dari Australia serta Denmark.
Hasil penelitian tersebut diterbitkan pada 2019 dalam jurnal Austral Ecology dengan judul First records of sea snakes (Elapidae: Hydrophiinae) diving to the mesopelagic zone (>200 m). Jadi, kabar mengenai ular laut yang menyelam hingga 245 meter bukanlah penemuan baru pada 2026, melainkan pengangkatan kembali temuan ilmiah yang menunjukkan betapa masih terbatasnya pengetahuan manusia mengenai kehidupan ular laut di kedalaman. Penelitian tersebut juga menekankan perlunya pengamatan lanjutan untuk mengetahui apakah penyelaman ekstrem seperti ini merupakan perilaku yang umum atau hanya dilakukan dalam kondisi tertentu.
Pertanyaan dan Jawaban tentang Ular Laut yang Bisa Menyelam 245 Meter
1. Seberapa dalam ular laut bisa menyelam?
Salah satu catatan terdalam yang terdokumentasi menunjukkan ular laut mampu mencapai kedalaman sekitar 245 meter.
2. Apakah ular laut bernapas menggunakan insang?
Tidak. Ular laut bernapas menggunakan paru-paru sehingga harus kembali ke permukaan untuk mengambil udara.
3. Apa yang dilakukan ular laut pada kedalaman 245 meter?
Rekaman menunjukkan ular berada dekat dasar laut dan diduga sedang mencari makanan di dalam lubang atau sedimen.
4. Apakah ular laut hidup permanen di kedalaman 245 meter?
Belum dapat dipastikan. Dua pengamatan belum cukup membuktikan bahwa ular laut rutin atau permanen hidup pada kedalaman tersebut.
5. Apa kelompok ular laut yang ditemukan?
Ular dalam rekaman tersebut dimasukkan ke dalam kelompok Hydrophis, tetapi identifikasi hingga tingkat spesies belum dapat dipastikan.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308116/original/010825900_1785129339-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-27T121435.797.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321375/original/053314000_1786440887-cek_fakta_-_cpns_menpan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312818/original/023895500_1785560927-WhatsApp_Image_2026-08-01_at_12.01.08.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5134529/original/089698800_1739622825-20250215-Prabowo-AFP_6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321704/original/021069900_1786498076-ChatGPT_Image_12_Agu_2026__08.27.17.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321687/original/042009100_1786492170-hl.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321500/original/002729400_1786444448-jonathan-borba-RWgE9_lKj_Y-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4570833/original/042949300_1694414623-Ilustrasi_pasangan_bertengkar__cuek.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4728632/original/071373600_1706465868-aleksandrs-karevs-9PZePvYSM4U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3312006/original/067440700_1606803761-sharon-mccutcheon-rItGZ4vquWk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2919997/original/011276400_1569298270-phuong-tran-DdpxVpcHMiw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300995/original/077514800_1784432867-Inspirasi_Carport_Berlantai_Grass_Block_yang_Cocok_untuk_Rumah_Modern_Minimalis_Model_Kanopi_dengan_Rangka_Besi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321519/original/047035700_1786446636-dd4cc71a-becb-467f-943f-648f24b9f4b1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321475/original/054654100_1786442887-333d1ef9-6d16-4ae5-a85e-89f94d516e6a.jpeg)