Liputan6.com, Jakarta - Di tengah keluhan masyarakat atas lonjakan harga telur ayam di sejumlah wilayah, para peternak justru menegaskan bahwa harga di tingkat kandang tetap stabil. Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, menyebut harga jual saat ini masih berada di koridor aman sesuai acuan pemerintah, yakni Rp24.000–Rp26.500 per kilogram.
“Saat ini kami menjual dalam koridor Kisman Rp24.000–Rp26.500. Tidak pernah naik. Jadi kalau harga di pasar melonjak, ya pertanyaannya, siapa yang bermain?” ujar Yudianto saat menghadiri Rapat Koordinasi Stabilisasi Harga Telur Ayam Ras di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Ia menyebut produksi nasional masih dalam kondisi surplus dengan kisaran output 6,4 hingga 6,5 juta ton. Dengan kondisi tersebut, tidak ada alasan kekurangan pasokan dijadikan kambing hitam lonjakan harga di pasar.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5417945/original/081742000_1763554084-58976b26-fdd9-464a-8356-e420bc38c05d.jpeg)
Yudianto juga menyampaikan apresiasi terhadap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman atas dukungan terhadap sektor peternakan. Kebijakan bantuan jagung lewat SPHP disebut sangat membantu menekan biaya pakan yang merupakan komponen terbesar dalam produksi telur.
“Pak Menteri hadir ketika kami kesulitan. SPHP jagung sangat membantu dan kami berharap berlanjut untuk menjaga stabilitas di Desember dan Januari,” tambahnya.
Terkait rencana program Makan Bergizi Gratis (MBG), Yudianto menegaskan kesiapan peternak dalam mendukung produksi tambahan hingga 700 ribu ton secara bertahap.
“Produksi aman, surplus ada. Tidak ada kekhawatiran pasokan. Kami siap mendukung program nasional,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Ketua Koperasi Berkah Telur Blitar, Yesi. Ia menegaskan bahwa harga tinggi di pasar bukan berasal dari peternak. Bahkan, harga telur di kandang Blitar juga tetap di kisaran Rp24.000–Rp26.500.
“Kami tidak pernah menjual di harga tinggi. Jadi kalau di pasar sampai Rp35.000, itu bukan dari kami. Ada middleman yang memainkan. Kami juga tidak punya kedaulatan menaikkan harga, kami patuh dengan pemerintah,” ujar Yesi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5417946/original/018987800_1763554085-5046419f-c12c-485d-bba5-af41d3bb9a3d.jpeg)
Ia menjelaskan bahwa mayoritas atau lebih dari 95% distribusi telur masih melalui middleman. Artinya, peternak hanya bisa mengikuti harga yang ditetapkan oleh rantai perantara.
“Kami selalu dituduh penyumbang inflasi. Padahal harga di kandang rendah. Yang harus diawasi itu middleman. Margin mereka kadang tidak wajar, itu yang bikin harga sampai meledak di ujung,” ungkapnya.
Yesi juga mengungkapkan bahwa belum ada “wasit” dalam rantai distribusi yang bisa mengawasi permainan harga para perantara. Ia berharap pemerintah turun tangan lebih tegas dalam mengawasi distribusi.
“Kalau middleman mencari laba secara wajar, harga di end user tidak akan mahal. Tapi kalau ada satu saja rantai yang mengambil keuntungan tidak wajar, dampaknya membuat harga di konsumen melambung. Ini yang selalu kami minta untuk dipantau, dikendalikan, mohon perdagangan juga mengawasi,” tandas Yesi.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran menyampaikan apresiasinya atas sikap solid para peternak. Ia menegaskan bahwa pihaknya sudah mengambil keputusan strategis usai bertemu Pinsar.
“Alhamdulillah hari ini kita rapat Pinsar seluruh Indonesia dan mengambil keputusan strategis. Saya bangga pada para pengusaha telur besar, menengah, kecil semua kompak mengikuti arahan pemerintah. Tidak perlu tanda tangan, semua sepakat,” kata Mentan Amran.
Terkait isu kenaikan harga, Mentan menyatakan bahwa lonjakan harga sebenarnya tidak signifikan dan berpotensi segera turun.
“Kenaikannya hanya sedikit, dan dalam waktu dekat insyaallah akan turun. Apalagi harga DOC sudah turun signifikan dari 14.000 menjadi Rp11.500,” tegasnya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316905/original/064384100_1785995980-cek_fakta_luhut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5560136/original/057890300_1776659894-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-20T113652.901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316841/original/059462500_1785991327-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-06T113319.126.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5417944/original/040792500_1763554084-43943cf8-c1d1-45e3-bf64-5b19c65c60e7.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6495202/original/083620500_1779352339-wapres-jk-perjuangkan-kelapa-sawit-indonesia-di-forum-apec-manila.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7013733/original/010133700_1779786337-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6333899/original/090173300_1779208654-Direktur_Jenderal_Peternakan_dan_Kesehatan_Hewan_Kementerian_Pertanian__Agung_Suganda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6309029/original/092161000_1779183212-1000322700.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6309002/original/019892500_1779183173-1000322702.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5922998/original/066429500_1778821003-WhatsApp_Image_2026-05-15_at_11.35.19_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5922616/original/085632800_1778820676-WhatsApp_Image_2026-05-15_at_11.35.19_AM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5502785/original/075044200_1771042664-alat_pertanian_klaim.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5560777/original/066833900_1776682842-Media_Briefing_Harga_Pangan_dan_Swasembada_Beras-20_April_2026a.jpg)