Usai Insiden Turis Brasil Jatuh, Bagaimana Keamanan Pendaki di Gunung Rinjani?

Gunung Rinjani memang menawarkan keindahan alam luar biasa, namun juga menyimpan risiko yang besar.

Diperbarui 06 Juli 2025, 20:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tewasnya turis Brasil Juliana Marins di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB), jadi sorotan dunia. Kabar itu menyebar dengan cepat, menembus kabut, dan terjalnya medan pergunungan di Rinjani, hingga menjangkau ke 'Negeri Samba' yang jauh di seberang benua.

Juliana, awalnya dikabarkan hilang di Rinjani oleh pendampingnya pada Sabtu (21/6) pagi. Perempuan malang itu baru ditemukan 600 meter di bawah jalur pendakian, dengan posisi tertelungkup di dasar jurang berbatu, lima hari kemudian.

Gunung Rinjani memang menawarkan keindahan alam luar biasa, namun juga menyimpan risiko yang besar. Setiap musim pendakian, gunung setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut ini menyambut ribuan pendaki dari seluruh dunia. Jalurnya panjang, cuacanya tidak menentu, dan medannya menyimpan kejutan.

Pendaki Rinjani Sebagai Tim Puncak (Summit), Teddy, menceritakan pendakian di gunung ini memang sangat berat. Fisik dan mental harus benar-benar siap untuk menghadapi Summit.

"Menuju puncak itu kita enggak bisa sembarang jalan, kebanyakan pendaki itu membungkuk atau merangkak. Tujuannya biar enggak terbawa angin apabila berdiri, terus biar bisa cepat menghindari batu juga kalau misalkan ada longsor. Kalau kita menunduk itu kita lebih bisa raih mudah bantuan tangan untuk pegangan, jadi gak cepat merosot," kata Teddy kepada Liputan6.com, Senin (30/6/2025).

Ia melanjutkan, puncak Rinjani juga cukup kecil, dan pendaki-pendaki lain harus antre untuk sekedar foto. "Mungkin cuma 2,5 meter diameternya untuk kita bisa jalan."

Ini belum ditambah suhu dingin di puncak Rinjani yang mencapai 10-15 derajat celcius. Di sana juga tidak ada ranger ataupun warga lokal.

Sementara Bram Toki, Pendaki Rinjani Sebagai Team Leader Pendakian mengatakan, berdasarkan pengalamannya, tidak ada tim medis yang standby di Rinjani.

"Hanya ada pendaki-pendaki lain yang berusaha saling bantu jika terjadi sesuatu. Tapi kalau yang tugasnya langsung sih, sepengalaman kita naik gunung, enggak ada yang jagain. Apalagi di pos-pos di atas," kata Bram kepada Liputan6.com, Senin (30/6/2025).

Ia menceritakan, awalnya dalam mendaki Rinjani termasuk mudah. Namun, menuju ke puncak banyak tantangan yang harus dilalui.

"Memang jalannya awal landai. Landainya tuh landai yang belum masuk hutan. Kan kita melewati ladang dulu, terus savana, ada rumput-rumput gitu dan masuk kita ke hutan. Hutannya tuh sudah mulai ada yang landai, ada yang curam juga. Karena jalur sembalun itu termasuk jalur yang bisa dibilang enaklah buat mendaki. Walaupun agak panjang, tapi jalurnya masih enak."

"Saya berjalan di belakang, walau team leader tapi saya yang nge-backup semua, memastikan semuanya aman," ucap dia.

 

Evaluasi Total Standar Pendakian Gunung

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan Basarnas menegaskan segera mengevaluasi secara total Standar Operasional Prosedur (SOP) kegiatan pendakian gunung guna meminimalkan risiko kecelakaan dan meningkatkan keselamatan para pendaki.

Wacana evaluasi SOP itu adalah respons pemerintah atas insiden pendaki asal Brasil, Juliana Marins (27), yang dilaporkan hilang di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (21/6). Setelah lima hari pencarian pendaki pemula tersebut baru berhasil ditemukan meninggal dunia di dasar jurang berbatu, sekitar 600 meter di bawah jalur pendakian.

Kepala Basarnas Mohammad Syafi'i saat ditemui di Jakarta, Senin (30/6), mengatakan mengatakan evaluasi itu perlu dilakukan secara cepat untuk memperkuat kemampuan tim SAR gabungan di seluruh wilayah, sehingga Basarnas akan melibatkan lebih banyak unsur dalam setiap pelatihan agar mereka memahami prosedur penanganan kedaruratan di medan pendakian.

"Ke depan yang kita mau tingkatkan adalah kemampuan potensi SAR. Kita sudah berjalan, sinergitas di lapangan cukup bagus, tapi perlu kolaborasi lebih baik lagi," kata Syafi'i seperti dilansir Antara.

Dia menilai kemampuan personel Basarnas telah teruji dalam berbagai operasi berskala internasional. Namun secara umum tantangan utama petugas dalam evakuasi pendaki terletak pada kondisi medan dan cuaca yang ekstrem, sebagaimana yang dihadapi saat evakuasi Juliana.

"Kemampuan kita standar internasional. Basarnas hadir di kejadian di Turki dan Myanmar, itu menjadi referensi. Setiap lima tahun kita di-currency oleh lembaga PBB, INSARAG," ujarnya.

Syafi'i juga menanggapi usulan pembangunan posko untuk menjadi tempat penyimpanan peralatan SAR di jalur-jalur pendakian untuk memperpendek waktu respons kegawatdaruratan.

Menurut dia, hal ini sebagai salah satu bahan evaluasi yang memerlukan kerja sama lintas Kementerian/Lembaga (K/L) mengingat Basarnas tidak mungkin menempatkan personel dan peralatan yang terbatas di seluruh kawasan Indonesia.

"Contoh kawasan wisata, itu harus mampu mulai dari komunikasi. Dengan komunikasi kita bisa asesmen potensi bahayanya, menyiapkan personel dan peralatannya. Harapan kita, dengan kemampuan yang terbatas ini bisa saling melengkapi," katanya.

Ia menegaskan prinsip utama operasi SAR adalah merasakan empati yang sama dengan korban, sehingga upaya penemuan dan penyelamatan dilakukan secepat mungkin.

"Semangat kita satu jiwa satu rasa. Apa yang dirasakan korban itu menjadi semangat kita untuk segera menemukan dan menyelamatkan. Mudah-mudahan setiap kedaruratan yang terjadi di wilayah NKRI ini bisa kita atasi dengan sesegera mungkin," ucapnya.

Menanggapi kritik soal lambannya distribusi informasi seputar proses evakuasi sehingga menuai perhatian publik, termasuk dari luar negeri, dalam peristiwa Juliana, Syafi'i memastikan hal itu juga menjadi bahan evaluasi.

"Kata-kata lambat atau cepat itu tergantung siapa yang melihat. Tapi yang pasti, potensi SAR sudah melaksanakan kegiatan sesuai standar. Kritik itu wajar dan setiap kejadian pasti kita evaluasi," ujarnya.

 

Kemenpar: Wisata Ekstrem Mengandung Risiko Serius

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menegaskan kembali pentingnya kepatuhan memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) pendakian menyusul musibah yang menewaskan wisatawan asal Brasil Juliana Marins (26) di Taman Nasional Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dengan tulus menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, sekaligus menegaskan kembali komitmen pemerintah dalam menjaga keselamatan wisatawan.

"Kami menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga Juliana Marins atas kehilangan tragis ini," kata Menteri Widiyanti dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu (28/6/2025) seperti dilansir Antara.

Menurut Widiyanti, insiden memilukan ini menjadi alarm keras bagi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia untuk menyerukan pentingnya kepatuhan terhadap Prosedur Operasional Standar (SOP) pendakian yang telah diatur dalam SK Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani Nomor 19 Tahun 2022.

Menteri Widiyanti menekankan, “Kepatuhan terhadap prosedur ini bukan sekadar formalitas, namun menjadi benteng utama dalam meminimalkan insiden fatal.”

Jenazah Juliana yang ditemukan setelah empat hari pencarian intensif di kedalaman 600 meter dan dievakuasi dalam kondisi medan ekstrem, semakin mempertegas urgensi penegakan SOP ini.

Menpar mengapresiasi kerja keras tim penyelamat dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, dan para relawan,

Tetapi ia pun mengeluarkan peringatan keras, menuntut tanggung jawab lebih dari pengelola destinasi wisata ekstrem.

Pengawasan, audit menyeluruh, serta pelatihan ulang wajib yang mencakup teknik keselamatan dan evakuasi darurat bagi operator, "porter", dan pemandu, menjadi prioritas utama, menurut Widiyanti.

Tujuannya, memastikan semua pihak memiliki sertifikasi sesuai standar otoritas terkait.

Edukasi publik, khususnya bagi wisatawan mancanegara, mengenai pentingnya menggunakan operator resmi dan kelengkapan keselamatan, dijanjikan terus digencarkan.

Kolaborasi lintas kementerian dan lembaga seperti Kementerian Kehutanan, Basarnas, TNI/Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Balai Taman Nasional, dan Dinas Pariwisata Daerah, terus diperkuat demi memastikan efektivitas SOP di lapangan.

Masyarakat dan wisatawan juga diimbau untuk berperan aktif: pilih operator bersertifikat, patuhi semua protokol keselamatan, dan laporkan setiap pelanggaran Prosedur Operasional Standar (SOP) pendakian melalui nomor WhatsApp 0811-895-6767.

"Insiden ini mengingatkan kita bahwa setiap destinasi wisata ekstrem mengandung risiko serius," kata Widiyanti.

Kepatuhan SOP pendakian harus menjadi panggilan jiwa setiap pihak untuk memperkuat budaya keselamatan secara nasional, memastikan keindahan alam Indonesia dapat terus dinikmati dengan aman dan bertanggung jawab.

 

Tragedi WNA Brasil Jadi Pelajaran Tata Wisata Lebih Nyaman

Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Baiq Isvie Rupaeda berharap tragedi kematian WNA Brasil Juliana Marins akibat terjatuh di Gunung Rinjani hendaknya menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk menata pariwisata setempat menjadi lebih aman dan nyaman.

"Semoga ini menjadi pembelajaran buat kita untuk menata lebih baik lagi tempat wisata yang kini menjadi perhatian masyarakat, baik nasional maupun internasional," kata Baiq Isvie Rupaeda di Mataram, Senin (30/6) seperti dilansir Antara.

Isvie menyampaikan dukacita mendalam atas insiden tersebut.

Ia mengapresiasi kinerja sejumlah pihak yang turut terlibat aktif untuk membantu pencarian dan evakuasi Juliana meski tim evakuasi sempat mengalami kendala adanya cuaca buruk, termasuk kabut tebal dan badai.

Kendati demikian, lokasi Juliana baru berhasil ditemukan pada hari Senin (23/6) di kedalaman sekitar 600 meter.

"Atas nama pimpinan DPRD NTB kami berterima kasih kepada tim SAR gabungan mulai Basarnas, TNI/Polri, Pemprov NTB, dokter forensik RS Bali Mandara Bali, serta dua pendaki profesional menggunakan helikopter dan drone thermal untuk mencari korban hingga diketemukan," katanya.

Isvie membenarkan bahwa selama pencarian, warganet Brasil mendesak pemerintah Indonesia untuk mempercepat upaya penyelamatan melalui media sosial, mengungkapkan kekhawatiran atas keselamatan Juliana.

Untuk itu, pihaknya menyampaikan permohonan maaf atas nama DPRD Provinsi NTB kepada Presiden dan pemerintah serta masyarakat Brasil atas insiden tersebut.

Atas kejadian tersebut, DPRD akan meminta Pemprov NTB untuk lebih meningkatkan upaya perlindungan dan keamanan bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke provinsi ini.

Selanjutnya, kata Isvie, keberadaan tim SAR yang terlatih yang terus siaga jika dibutuhkan dengan cepat.

Untuk wisatawan yang ke Gunung Rinjani, dia meminta agar lebih berhati-hati dan memperhatikan kondisi dan cuaca gunung tersebut setiap harinya.

"Jajaran pemprov dan pemkab juga harus berkolaborasi untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan wisatawan selama berada di NTB," katanya.

 

FPTI NTB Desak Pemerintah Evaluasi Pendakian Rinjani

Dewan Pembina Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Nusa Tenggara Barat, Ihwan mendesak pemerintah untuk mengevaluasi sistem pendakian di Gunung Rinjani sebagai bentuk upaya antisipasi dan pencegahan terjadinya kecelakaan seperti yang dialami pendaki asal Brasil, Juliana Marins.

"Kita tidak bisa terus-menerus hanya menjual kenikmatan tanpa menjamin keselamatan. Hal seperti ini tidak sehat. Kita harus berpikir ulang bagaimana sistem penanganan bencana di Rinjani," ujarnya seperti dilansir Antara.

Ia mengkritisi kurangnya koordinasi dan kesiapan dalam menghadapi situasi darurat di kawasan wisata alam seperti Rinjani. Menurutnya, mitigasi bencana harus menjadi prioritas dalam pengelolaan destinasi wisata alam, bukan sekadar mengejar pemasukan dari pariwisata.

Untuk itu, ia mengusulkan agar Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal segera duduk bersama pemerintah pusat dan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) untuk merumuskan formula mitigasi bencana yang komprehensif dan berkelanjutan. Sebab, kata dia, perlu ada kejelasan tentang siapa yang bertanggung jawab jika terjadi musibah di Rinjani.

"Harus ada pola koordinasi yang jelas. Siapa berbuat apa, bagaimana sarana dan prasarana disiapkan, jangan hanya fokus pada pendapatan," tegas Iwan Slank sapaan karibnya.

Ia juga menyinggung dana besar yang dikelola oleh BTNGR yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk memperkuat aspek keselamatan.

"Itu dana nyata, bukan daun mangga. Harus ada anggaran yang betul-betul digunakan untuk perlindungan dan keselamatan para pendaki," tegasnya.

Selain soal teknis mitigasi, Dewan Pembina FPTI NTB juga mengingatkan pentingnya menjaga kearifan lokal sebagai bagian dari pendekatan budaya dalam menjaga kelestarian Rinjani. Ia mencontohkan tradisi "nyembeq" yang bisa dijadikan pembelajaran bagi para pendaki agar menghormati alam dan adat istiadat setempat.

"Tradisi lokal seperti nyembeq harus tetap dilestarikan. Itu bisa memberi sugesti positif kepada para pendaki agar menjaga sopan santun dan tidak semena-mena saat berada di gunung," katanya.

Ia berharap insiden tragis yang menimpa pendaki Juliana Marins dan lainnya beberapa waktu lalu menjadi titik balik bagi semua pihak, baik pemerintah provinsi, kabupaten/kota, masyarakat adat, hingga relawan untuk bersama-sama mengevaluasi sistem pengelolaan dan penanganan bencana di kawasan Rinjani.

"Jika kita ingin Rinjani tetap menjadi primadona wisata, maka keselamatan harus menjadi hal utama," tandas Iwan Slenk.

Iwan Slenk juga memberikan apresiasi luar biasa kepada Agam Rinjani, relawan yang terlibat aktif dalam penanganan insiden Juliana Marins di Gunung Rinjani.

Menurutnya, pemerintah dan BTNGR perlu memberikan penghargaan atas dedikasi Agam dan relawan lainnya yang bekerja tanpa pamrih, di luar tanggung jawab institusi resmi.

"Yang tampil ke depan ini bukan pemerintah atau TNGR, tapi justru relawan. Ini harus diberikan apresiasi yang luar biasa. Pemerintah harus memberikan penghargaan kepada Agam Rinjani dan menjadikan ini momentum untuk membenahi sistem," katanya.

 

Pendaki Malaysia Juga Tergelincir di Gunung Rinjani

Beberapa hari setelah turis Brasil jatuh di Gunung Rinjani dan kemudian meninggal dunia, kini ada pendaki Malaysia yang mengalami insiden di kawasan yang sama. Pendaki warga negara asing (WNA) bernama Nazril asal Malaysia itu dikabarkan tergelincir saat melakukan pendakian di kawasan Gunung Rinjani, Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun kondisinya dikabarkan tidak terlalu parah.

"Korban mengalami kecelakaan dengan terpeleset saat akan menuju Danau Segara Anak Gunung Rinjani, setelah melakukan pendakian," kata Humas Polres Lombok Timur Iptu Nicolas Oesman di Lombok Timur, Sabtu (28/6/2025), dikutip dari Antara.

Akibat peristiwa itu, korban hanya mengalami luka ringan dan dibawa rekan sesama pendakinya dan porter, seseorang yang membantu membawa barang bawaan pendaki, yang menemaninya untuk turun ke bawah, Sabtu pagi, pendaki itu langsung dibawa ke Puskesmas Sembalun guna mendapatkan pertolongan.

Pendaki Malaysia itu telah dievakuasi dan sampai saat ini telah mendapatkan pertolongan medis. Sebelumnya, korban berangkat melakukan pendakian bersama 12 orang melalui pintu pendakian Kandang sapi Bawak Nao Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kamis , 26 Juni 2025.

Usai Turis Brasil, Pendaki Malaysia Tergelincir di Gunung Rinjani. (dok.Instagram @btn_gn_rinjani/https://www.instagram.com/p/DLcHYysTM8U/)Setelah selesai melakukan pendakian ke puncak Gunung Rinjani, korban bersama temannya melakukan perjalanan menuju ke Danau Segara Anak."Setelah itu korban terpeleset akibat menghindari porter yang cukup banyak melintas di jalur tersebut,” terang Iptu Nicolas.

Setelah itu porter dan teman korban dibawa turun dengan mengalami lebam sebelah kaki kanan, pinggul masih merasa sakit, luka gores di kepala. "Kondisi korban mengalami luka-luka dan sudah mendapatkan perawatan intensif," tutupnya.

Infografis Tips Aman Mendaki

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6