7 Fakta Terkait Kasus COVID-19 Meningkat di Beberapa Negara Asia, Kemenkes Sebut Indonesia Masih Terkendali

Belakangan ini, sejumlah negara tetangga Indonesia kembali mencatatkan peningkatan kasus COVID-19, terutama akibat kemunculan varian-varian baru seperti XEC dan JN.1.

Diterbitkan 21 Mei 2025, 10:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Meski dunia sudah tak lagi dalam status darurat pandemi, namun rupanya, COVID-19 belum sepenuhnya menghilang.

Belakangan ini, sejumlah negara tetangga Indonesia kembali mencatatkan peningkatan kasus COVID-19, terutama akibat kemunculan varian-varian baru seperti XEC dan JN.1.

Negara-negara seperti Singapura, Hong Kong, China, dan Thailand melaporkan peningkatan signifikan kasus baru, yang sebagian besar dipicu oleh penyebaran subvarian Omicron terbaru, termasuk JN.1 dan turunannya.

Tren kenaikan ini terjadi di tengah tingginya mobilitas masyarakat, salah satunya karena agenda internasional seperti konser Lady Gaga yang digelar mulai 18 Mei 2025 dan diperkirakan akan dihadiri banyak warga Indonesia.

Meski kasus melonjak di luar negeri, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memastikan, situasi di Tanah Air masih terkendali.

"Di tengah dinamika global, kami ingin menyampaikan bahwa kondisi di Indonesia tetap aman. Surveilans penyakit menular, termasuk COVID-19, terus kami perkuat, baik melalui sistem sentinel maupun pemantauan di pintu masuk negara," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman dalam keterangan pers, Senin 19 Mei 2025.

Di Singapura, lanjut Aji, peningkatan kasus COVID-19 masih berada dalam pola musiman yang biasa terjadi setiap tahun.

"Varian yang kini bersirkulasi merupakan turunan dari JN.1, yang menurut otoritas setempat tidak menyebabkan peningkatan keparahan gejala. Namun, lonjakan ini tetap perlu diwaspadai, terutama karena kekebalan populasi yang mulai menurun," papar Aji.

Menanggapi situasi tersebut, Aji menegaskan pemerintah Indonesia belum memberlakukan pembatasan perjalanan ke luar negeri. Namun, kata dia, pengawasan di pintu masuk internasional diperketat melalui sistem SatuSehat Health Pass (SSHP).

Berikut sederet fakta terkait meningkatnya kasus COVID-19 di Asia dihimpun Tim News Liputan6.com:

 

1. Kemenkes Sebut Indonesia Masih Terkendali

Peningkatan kasus COVID-19 di beberapa negara Asia seperti Singapura, Thailand, dan Hong Kong menjadi perhatian dunia, termasuk Indonesia.

Tren kenaikan ini terjadi di tengah tingginya mobilitas masyarakat, salah satunya karena agenda internasional seperti konser Lady Gaga yang digelar mulai 18 Mei 2025 dan diperkirakan akan dihadiri banyak warga Indonesia.

Meski kasus melonjak di luar negeri, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memastikan bahwa situasi di Tanah Air masih terkendali.

"Di tengah dinamika global, kami ingin menyampaikan bahwa kondisi di Indonesia tetap aman. Surveilans penyakit menular, termasuk COVID-19, terus kami perkuat, baik melalui sistem sentinel maupun pemantauan di pintu masuk negara," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman dalam keterangan pers, Senin 19 Mei 2025.

Di Singapura, peningkatan kasus COVID-19 masih berada dalam pola musiman yang biasa terjadi setiap tahun. Varian yang kini bersirkulasi merupakan turunan dari JN.1, yang menurut otoritas setempat tidak menyebabkan peningkatan keparahan gejala.

 

2. Varian Baru yang Tidak Lebih Parah, Belum Ada Larangan Bepergian tapi Tetap Waspada

Meski begitu, lonjakan kasus COVID-19 tetap perlu diwaspadai, terutama karena kekebalan populasi yang mulai menurun.

Menanggapi situasi tersebut, Aji menegaskan pemerintah Indonesia belum memberlakukan pembatasan perjalanan ke luar negeri. Namun, pengawasan di pintu masuk internasional diperketat melalui sistem SatuSehat Health Pass (SSHP).

"Hingga saat ini, belum ada larangan perjalanan ke luar negeri, namun masyarakat diimbau untuk lebih waspada, terutama jika berencana bepergian ke negara yang sedang mengalami lonjakan kasus," terang Aji.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengecek situasi di negara tujuan dan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku.

"Kami mendorong masyarakat untuk mengikuti perkembangan situasi di negara tujuan, mematuhi protokol kesehatan yang berlaku di sana, dan menunda perjalanan apabila sedang kurang sehat," ucap Aji.

Kementerian Kesehatan terus mengingatkan masyarakat agar tetap menjalankan protokol kesehatan dasar, seperti:

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir,
  • Menggunakan masker saat batuk atau pilek,
  • Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala gangguan saluran napas.

Tak kalah penting, vaksinasi booster COVID-19 juga masih direkomendasikan, terutama untuk kelompok rentan seperti lansia dan penderita komorbid.

"Masyarakat tidak perlu panik, namun kewaspadaan tetap penting. Kami pastikan langkah-langkah deteksi dini, pelaporan, dan kesiapsiagaan terus kami jalankan untuk menjaga situasi nasional tetap aman," tutup Aji.

 

3. Kasus COVID-19 di Indonesia 2025, Tertinggi Minggu ke 19: 28 Kasus

Meski aman, Kemenkes RI terus melakukan penguatan surveilans (pengamatan sistematis) penyakit menular termasuk COVID-19 diperkuat. Baik lewat sistem sentinel maupun pemantauan di pintu masuk negara.

Bila melihat data, ada ratusan kasus COVID-19 yang dicatat oleh Kementerian Kesehatan sepanjang 2025. Dari 20 minggu yang tercatat sepanjang 2025, tren kenaikan kasus COVID-19 terlihat pada pekan ke 17 hingga 19.

Rinciannya yaitu pada minggu ke 17 ada 8 kasus, lalu naik menjadi 25, kemudian pekan berikutnya naik lagi menjadi 28 orang terkonfirmasi COVID-19.

"Pada minggu 17 sampai dengan minggu 19 terjadi kenaikan kasus pada provinsi Banten, Jakarta dan Jawa Timur," seperti tertulis dalam keterangan data Kemenkes per 19 Mei 2025 itu.

Dari grafik yang ditampilkan, kasus COVID-19 tertinggi selama 2025 berada pada pekan 19. Di pekan pertama Mei itu tercatat ada 28 orang terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia.

Untungnya, setelah terjadi kenaikan, terjadi penurunan kasus COVID-19 di Indonesia pada minggu ke 20. Pada pekan kedua Mei itu tercatat 'cuma' 3 kasus COVID-19.

"Pada M20, positivity rate menurun menjadi 0,59 persen artinya dari 100 orang yang diperiksa terdapat 1 orang dengan hasil positif COVID-19," tulis keterangan tersebut.

Positivity rate merupakan proporsi orang positif COVID-19 dari keseluruhan orang yang dites.

Hong Kong dan Thailand mencatat kasus kematian akibat COVID-19 pada 2025. Dimana dari 81 pasien dengan gejala berat di Hong Kong, 30 diantaranya meninggal dunia.

Lalu di Thailand dari 71 ribuan kasus yang meninggal 19 orang karena SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Bagaimana dengan Indonesia?Kemenkes RI mencatat tidak ada kematian akibat COVID-19 pada 2025 di Tanah Air.

"Tidak ada kematian," jawab Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman lewat pesan singkat kepada Liputan6.com pada Selasa 20 Mei 2025.

 

4. Kondisi Terkini di Negara Asia Lain

Lonjakan kasus COVID-19 kembali terjadi di sejumlah negara Asia, memicu kewaspadaan global akan kemungkinan gelombang baru infeksi. Negara-negara seperti Singapura, Hong Kong, China, dan Thailand melaporkan peningkatan signifikan kasus baru, yang sebagian besar dipicu oleh penyebaran subvarian Omicron terbaru, termasuk JN.1 dan turunannya.

Di Singapura, jumlah kasus COVID-19 melonjak tajam pada awal Mei 2025. Dari 11.100 kasus yang tercatat pada akhir April, angka itu melonjak menjadi lebih dari 14.000 kasus dalam sepekan. Okupansi rumah sakit pun mengalami peningkatan, meski jumlah pasien di unit perawatan intensif (ICU) justru sedikit menurun.

Otoritas kesehatan Singapura menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ditemukan bukti bahwa varian-varian baru ini lebih menular atau menyebabkan gejala lebih parah dibandingkan varian sebelumnya.

Namun, para pakar menduga lonjakan ini berkaitan dengan menurunnya imunitas populasi serta siklus gelombang infeksi yang memang terjadi secara berkala.

"Varian yang saat ini dominan adalah LF.7 dan NB.1.8, yang merupakan turunan dari varian JN.1. Keduanya mencakup lebih dari dua pertiga kasus yang telah diurutkan," tulis laporan resmi dari Kementerian Kesehatan Singapura.

Sementara itu di India, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga mencatat hanya 93 kasus aktif per 19 Mei 2025. Di Mumbai, para dokter melaporkan peningkatan ringan kasus COVID-19, terutama di kalangan anak muda.

Meski demikian, belum ada indikasi gelombang baru. Pihak berwenang tetap mengimbau kewaspadaan, mengingat lonjakan terjadi di negara-negara tetangga, dilansir News18.

 

5. Varian JN.1 Picu Lonjakan COVID-19 di Asia

Beberapa negara di Asia melaporkan tren peningkatan kasus COVID-19. Negara tetangga Singapura dan Hong Kong menyebut varian JN.1 yang mendominasi kasus COVID-19 di sana.

Bila melihat data, kenaikan kasus COVID-19 di Singapura mencapai belasan ribu. Dalam sepekan (27 April - 3 Mei 2025) ada 14.200 kasus di Negeri Singa. Angka ini naik banyak dari pekan sebelumnya 11.100 kasus COVID-19 terkonfirmasi.

Sementara itu, Hong Kong melaporkan ada 81 kasus COVID-19 yang parah dengan 30 kematian. Pada kasus kematian hampir semuanya terjadi pada orang lanjut usia dengan penyakit penyerta (komorbid).

"COVID-19 menjadi lebih aktif pada pertengahan April tahun ini (yaitu sekitar empat minggu lalu)," kata Pusat Perlindungan Hong Kong mengutip Independent, Selasa 20 Mei 2025.

JN.1 Pertama Kali Terdeteksi Agustus 2023

JN.1 pertama kali terdeteksi di Amerika Serikat pada bulan Agustus 2023. JN.1 merupakan subvarian Omicron. JN.1 merupakan kerabat dekat dari BA.2.86 atau disebut informal sebagai Pirola yang merupakan garis keturunan varian Omicron.

Lalu, pada Desember 2023, World Health Organization (WHO) mengklasifikasikan sebagai Variant of Interest (VOI).

WHO mengklasifikasikan SARS-CoV-2 sebagai VOI jika virus penyebab COVID-19 memiliki karakteristik sebagai berikut:

Memiliki mutasi yang diduga atau diketahui menyebabkan perubahan signifikan dari strain aslinya.

Menyebar luas di banyak tempat atau banyak negara.

Pada April 2024 varian ini sudah menyebar ke 120 negara dan menyebabkan 94 persen kasus COVID-19.

"Varian ini bahkan telah berevolusi dengan mutasi tambahan yang mungkin membuatnya menyebar lebih cepat daripada pendahulunya," menurut Yale Medicine.

Di Indonesia, Kemenkes RI melaporkan pada 19 Desember 2023 telah ada 41 kasus COVID-19 subvarian Omicron JN.1.

Meskipun penyebarannya cepat, WHO menilai risiko kesehatan masyarakat global tambahan yang ditimbulkan oleh JN.1 rendah. Hal itu juga dinyatakan Direktur Medis Institute of Internal Medicine India, dokter Sandeep Budhiraja.

"Varian JN.1 saat ini tidak lebih parah daripada varian sebelumnya tetapi lebih mudah menular. Itulah sebabnya virus ini menimbulkan kekhawatiran di seluruh Asia," kata Sandeep Budhiraja.

Seseorang yang terinfeksi varian virus SARS-CoV-2 JN.1 memiliki gejala mirip dengan jenis COVID-19 sebelumnya:

  • batuk kering
  • demam
  • sakit tenggorokan kelelahan, dan
  • kehilangan indra perasa atau penciuman.

Beberapa laporan, seperti dari Johns Hopkins, menunjukkan varian tersebut mungkin lebih mungkin menyebabkan masalah gastrointestinal, khususnya diare.

 

6. Pencegahan Terinfeksi JN.1

Di tengah peningkatan kasus COVID-19 di Asia, epidemiolog Dicky Budiman mengingatkan kelompok rawan untuk melakukan vaksinasi booster.

Kelompok rawan yang dimaksud Dicky termasuk diantaranya orang lanjut usia (lansia) dengan penyakit penyerta atau komorbid.

"Kalau ingin meningkatkan proteksi kelompok yang sudah masuk kategori lansia yang punya komorbid apalagi yang sering bepergian, liburan, atau didatangi anak yang punya mobilitas tinggi, ya penting," kata Dicky kepada Health Liputan6.com pada Selasa, 20 Mei 2025.

Menurut Dicky, vaksinasi booster tidak perlu dilakukan setiap tahun. Bisa tiap dua tahun sekali untuk meningkatkan perlindungan terhadap virus penyebab COVID-19.

Dicky juga mengatakan meski terjadi kenaikan kasus COVID-19 di beberapa negara Asia, masyarakat Indonesia tidak perlu panik berlebihan. Terpenting untuk tetap waspada.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjalankan perilaku hidup sehat. Mulai dari mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang agar imunitas kuat.

Terapkan Kembali Protokol Kesehatan

Lalu, tak ketinggalan memakai masker di saat-saat penting seperti saat berada di kerumunan dalam ruangan atau ada orang batuk dalam ruangan tersebut.

Dicky juga mengingatkan untuk kembali rajin mencuci tangan memakai sabun di bawah air mengalir.

 

7. Apakah Vaksin COVID-19 yang Ada Saat Ini Bisa Mencegah Infeksi Varian JN.1?

Subvarian Omicron JN.1 beserta turunannya seperti LF.7 dan NB.1.8 ditengarai sebagai penyebab peningkatan kasus COVID-19 di sejumlah negara di Asia seperti Singapura, Hong Kong, China, dan Thailand.

Hasil pengurutan menunjukkan, ketiga subvarian Omicron itu ada pada dua pertiga kasus COVID-19 yang kini kembali meningkat di Asia.

Di Singapura, otoritas Kesehatan Singapura menyatakan, hingga kini tidak menemukan bukti bahwa varian-varian baru tesebut lebih menular atau menyebabkan gejala lebih parah dibandingkan varian yang ada sebelumnya.

Selain, adanya varian baru, para pakar menduga lonjakan kasus COVID-19 berkaitan dengan imunitas populasi yang menurun serta siklus gelombang infeksi yang terjadi secara berkala.

Varian JN.1 merupakan turunan dari garis keturunan Omicron BA.2.86 yang diidentifikasi pada bulan Agustus 2023. Varian ini diberi label sebagai Varian yang Diminati oleh WHO pada bulan Desember 2023.

Varian ini memiliki sekitar 30 mutasi yang bertujuan untuk menghindari kekebalan, lebih banyak daripada varian lain yang beredar saat itu. Namun, BA.2.86 tidak menjadi galur dominan di antara varian SARS-CoV-2 yang muncul pada akhir musim panas dan awal musim gugur tahun 2023.

JN.1, turunan BA.2.86, telah mengembangkan kemampuan untuk menularkan lebih efisien melalui satu atau dua mutasi tambahan. Meskipun masih memiliki karakteristik penghindaran kekebalan dari pendahulunya, JN.1 kini telah berevolusi untuk menyebar lebih efektif, menurut Universitas Johns Hopkins, universitas yang berbasis di Maryland yang menjadi salah satu sumber global paling tepercaya untuk data COVID-19 selama pandemi.

Varian JN.1 tetap menjadi varian SARS-CoV-2 yang paling umum di keempat kawasan WHO selama minggu epidemiologi ke-12, dengan pangsa urutan sebesar 93,9% di kawasan Pasifik Barat (WPR), 85,7% di kawasan Asia Tenggara (SEAR), 94,7% di kawasan Eropa (EUR), dan 93,2% di kawasan Amerika (AMR).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa varian JN.1 lebih sulit dinetralkan oleh sistem imun. Penelitian yang melibatkan virus hidup dan pseudovirus yang dibuat di laboratorium telah menunjukkan bahwa antibodi dari individu yang divaksinasi atau pernah terinfeksi kurang efektif dalam memblokir JN.1 dibandingkan dengan varian sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa JN.1 sebagian dapat menghindari pertahanan imun tubuh yang ada.

Penguat monovalen XBB.1.5, vaksin COVID-19 yang secara khusus dirancang untuk menargetkan subvarian XBB.1.5 dari Omicron, telah terbukti dalam beberapa penelitian dapat meningkatkan perlindungan terhadap varian JN.1, kata WHO.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6