Virus Nipah Kecil Risiko Pandemi, Tapi Potensi Wabah Tetap Besar

Virus Nipah dinilai kecil risiko pandemi, namun berpotensi sebabkan wabah lokal. Kenali bahaya, cara penularan, dan langkah pencegahannya.

Diterbitkan 31 Januari 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Virus Nipah kembali menjadi perhatian global seiring meningkatnya kasus di India. Meski hingga kini belum ditemukan kasus infeksi virus Nipah pada manusia di Indonesia, para pakar menegaskan kewaspadaan tetap mutlak diperlukan. Sebab, reservoir alami virus Nipah, yakni kelelawar buah, hidup dan tersebar luas di Indonesia.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Prof Dr dr Dominicus Husada SpA Subsp IPT menekankan bahwa virus Nipah tidak boleh dianggap sepele. Meski jumlah kasus manusia di dunia tercatat sekitar 800 sejak 1998, virus ini memiliki karakteristik yang sangat berbahaya.

"Kita tidak bisa menganggap remeh virus ini. Banyak bukti ilmiah yang menunjukkan peran kelelawar dalam penularan penyakit, termasuk virus Nipah. Kelelawar juga berperan dalam mutasi virus," ujar Dominicus dalam webinar bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Kamis, 29 Januari 2026.

Virus Nipah ditakuti karena tingkat kematiannya sangat tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 75 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19 yang memiliki fatalitas sekitar 1 persen.

Hingga kini, belum tersedia antivirus maupun pengobatan spesifik untuk virus Nipah. Penanganan medis yang dilakukan masih bersifat suportif, bergantung pada kecepatan diagnosis dan perawatan.

Meski demikian, Dominicus menjelaskan bahwa risiko virus Nipah menjadi pandemi global relatif kecil. Hal ini karena cara penularannya tidak semudah virus pernapasan seperti SARS-CoV-2.

"Virus Nipah menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh seperti urine, feses, atau air liur. Untuk menjadi pandemi global, penularannya harus cepat dan mudah lewat saluran napas," katanya.

Namun, rendahnya risiko pandemi bukan berarti ancamannya kecil. Virus Nipah justru memiliki potensi besar menyebabkan wabah lokal atau regional, terutama di wilayah dengan interaksi manusia dan satwa liar yang tinggi. Wabah bisa terjadi di tingkat kota, provinsi, atau negara jika kewaspadaan menurun.

 

Kelompok Paling Rentan Terhadap Virus Nipah

Kelompok paling rentan terhadap infeksi virus Nipah adalah anak-anak. Dominicus mencatat bahwa kasus manusia termuda yang terinfeksi virus Nipah berusia sekitar enam bulan. Pada anak usia dini, risiko kematian lebih tinggi karena sistem kekebalan tubuh yang belum matang.

"Semakin muda usia anak, semakin besar risikonya bila terpapar virus Nipah," katanya.

Untuk menekan risiko penularan, masyarakat diimbau menerapkan langkah pencegahan sederhana namun krusial. Di antaranya tidak mengonsumsi nira atau air aren langsung dari pohon karena berpotensi terkontaminasi kelelawar.

Cegah Virus Nipah, Cuci Buah Sebelum Makan

Nira wajib dimasak sebelum dikonsumsi. Selain itu, buah harus dicuci dan dikupas dengan bersih, serta dibuang jika terdapat bekas gigitan kelelawar.

Masyarakat juga disarankan menghindari kontak langsung dengan hewan ternak yang berpotensi terinfeksi, seperti babi atau kuda. Jika kontak tidak dapat dihindari, penggunaan alat pelindung diri (APD) menjadi keharusan.

Meski risiko pandemi dinilai kecil, Dominicus mengingatkan bahwa mutasi virus selalu mungkin terjadi. Oleh karena itu, kewaspadaan sejak dini menjadi kunci utama untuk mencegah virus Nipah berkembang menjadi wabah yang lebih luas.

"Risikonya memang kecil, tapi bukan nol. Justru sekarang saat yang tepat untuk waspada," pungkasnya.