Liputan6.com, Jakarta - Varian COVID-19 yang punya julukan Cicada atau BA.3.2 kini tengah jadi perhatian global setelah kembali menyebar ke berbagai negara sejak akhir tahun 2025.
Varian yang merupakan turunan dari Omicron yang memiliki jumlah mutasi yang sangat tinggi yakni 70-75 mutasi. Kondisi ini memiliki kemungkinan Cicida mampu menghindari kekebalan dari vaksinasi atau infeksi sebelumnya.
"Ini bukan lebih mematikan tapi kayak belut lah, licin gitu ya secara imunologi," tutur epidemiolog dari Griffith University Australia, dokter Dicky Budiman dalam pesan suara ke Health Liputan6.com.
Advertisement
Saat Cicada menginfeksi seseorang, gejala yang muncul tidak berbeda signifikan dengan Omicron secara umum. Diantaranya ada gejala nyeri tenggorokan berat. Kemudian demam, batuk kering, kelelahan dan kongesti hidung atau hidung tersumbat.
Lalu, berdasarkan data yang sudah ada terkait orang terinfeksi Cicada, kebanyakan bisa sembuh sendiri kurang dari sepekan.
"Sebetulnya dalam konteks sistem kesehatan tidak berpotensi menjadi lonjakan kasus besar karena umumnya bisa pulih sendiri dalam 3-5 hari," tutur Dicky.
Sejauh ini belum ditemukan indikasi bahwa varian ini menyebabkan kondisi yang lebih parah.
"Tapi belum ada bukti peningkatan pneumonia berat maupun peningkatan case fatality rate-nya atau kematian," tutur pria yang mengambil PhD di bidang global health security ini.
Mengenal Lebih Dekat Varian COVID-19 Cicada
Kemunculan varian Cicada sebenarnya sudah terdeteksi sejak tahun 2024 di Afrika Selatan. Namun, peredarannya terbatas dan hampir tidak terlihat.
Fenomena ini dalam epidemiologi dikenal sebagai cryptic circulation, yakni virus tetap beredar tetapi dalam tingkat rendah sehingga tidak terpantau signifikan.
"Lalu, muncul kembali dan mulai menyebar global sebetulnya sejak akhir 2025," kata Dicky.
Nama Cicada bukanlah istilah resmi dari WHO. Penamaan ini diambil dari serangga cicada alias tonggeret yang bisa bersembunyi lama di bawah tanah sebelum muncul dalam jumlah besar.
Karakter hewan ini, kata Dicky, dianggap mirip dengan BA.3.2 yang “diam” lalu kembali muncul dan mulai menyebar.
Status Cicada saat ini variant under monitoring oleh WHO. Ini artinya para ahli kesehatan global terus memantau perkembangannya secara cermat untuk menilai risiko yang mungkin ditimbulkan.
"Artinya ya belum terbukti lebih berbahaya atau parah tapi punya potensi epidemiologis yang signifikan," kata Dicky.
Advertisement
Siapa yang Mesti Waspada?
Meskipun memiliki jumlah mutasi yang tinggi, Dicky Budiman menegaskan bahwa varian Cicada tidak terbukti lebih mematikan dibandingkan varian COVID-19 sebelumnya. Meski begitu kelompok rentan diminta waspada .
Kelompok rentan yang dimaksud adalah ibu hamil, orang dengan komorbid (diabetes, hipertensi, penyakit jantung), orang dengan gangguan imunitas
"Kemampuan varian BA.3.2 ini dalam imun escape ya, lolos dari deteksi imunitas, jadi akan lebih mudah reinfeksi atau menginfeksi ulang kelompok rawan ini," kata Dicky.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5124885/original/086799300_1738907998-sick-woman-with-cough-throat-infection-bed-covering-his-face-while-coughing.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3649699/original/032371100_1638355256-065305300_1637920721-pexels-cdc-3992933.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8593999/original/023505700_1782562806-ekuador.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776135/original/014006000_1782843284-063_2284049459.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776134/original/059322300_1782843171-000_B8UA24W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3299157/original/094356500_1605660408-AP20322768020969.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8505254/original/095572100_1782426499-063_2283328466.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710453/original/039368100_1782790641-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8378845/original/006458400_1782257129-England_s_Harry_Kane.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5165103/original/078817000_1742183663-8c4278ca1293a18e3e71517700b35407.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3334658/original/040696600_1609125218-martin-sanchez-Tzoe6VCvQYg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2946131/original/060487800_1571730222-20191022-Potret-Warga-Jakarta-Saat-Dilanda-Suhu-Panas-9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5348669/original/005877200_1757846984-c37326c2-35f0-4a6c-ba78-726fa3123815.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542768/original/035973400_1774954768-Diskusi_bersama_Perhimpunan_Dokter_Spesialis_Penyakit_Dalam_Indonesia__PAPDI__bertajuk_Campak_pada_Dewasa_Tanda_Bahaya_dan_Penanganan_yang_Tepat_serta_Peran_Vaksinasi_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4901623/original/079731200_1721957299-fotor-ai-2024072682334.jpg)
![[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: 75 Mutasi Varian Baru COVID-19 Cicada](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/reSd7PVafZjUwHScr4SWjBnOLrk=/200x113/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542694/original/067258800_1774950743-WhatsApp_Image_2026-03-31_at_3.38.47_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4954605/original/057962200_1727420009-fotor-ai-20240927133637.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5462969/original/054285900_1767596358-tirachardz.jpg)