Campak pada Dewasa Makin Disorot, Apa Penyebabnya?

Mengapa campak bisa menyerang dewasa? Ini penjelasan dokter dan pentingnya cek status vaksinasi sejak dini.

Diterbitkan 31 Maret 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kasus campak pada dewasa kini semakin menjadi perhatian publik, terutama setelah mencuatnya kabar seorang dokter internship meninggal dunia akibat campak di Cianjur, Jawa Barat.

Selama ini, campak kerap dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang anak-anak. Namun, faktanya penyakit ini juga dapat menyerang orang dewasa, bahkan berisiko menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik.

Munculnya kasus tersebut pun memicu banyak pertanyaan di masyarakat. Mengapa campak kini bisa terjadi pada orang dewasa? Apakah ini merupakan fenomena baru, atau ada faktor lain yang memengaruhinya?

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi, Dr. dr. Adityo Susilo, Sp.PD, Subsp. PTI (K), FINASIM menegaskan bahwa campak bukanlah penyakit baru.

"Kalau kita melihat dari sejarah, sebenarnya campak itu penyakit yang sudah lama, bahkan sudah dikenal sejak abad ke-9," katanya kepada Health Liputan6.com di sela-sela diskusi bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) 'Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi' pada Selasa, 31 Maret 2026.

Menurutnya, campak pada orang dewasa tidak bisa dilepaskan dari riwayat kesehatan saat masa kanak-kanak, terutama terkait imunisasi.

"Kalau kita berbicara infeksi campak pada dewasa, kita tidak bisa lepas dari bagaimana riwayatnya saat masa anak-anak," ujarnya.

Perubahan Pola Sejak Era Vaksinasi

Salah satu penyebab meningkatnya perhatian terhadap campak pada orang dewasa adalah perubahan pola penularan sejak ditemukannya vaksin.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, menjelaskan bahwa sebelum era vaksinasi, hampir semua anak pasti terinfeksi campak.

"Sebelum tahun 1960-an, campak adalah penyakit universal. Lebih dari 50 persen anak terkena sebelum usia 6 tahun, dan lebih dari 90 persen sebelum usia 15 tahun," ujarnya.

Kondisi ini membuat sebagian besar orang dewasa pada masa itu sudah memiliki kekebalan alami karena pernah terinfeksi saat kecil.

Namun, setelah vaksinasi dilakukan secara luas, situasi berubah. Sirkulasi virus alami di masyarakat menurun drastis, sehingga paparan alami terhadap virus juga berkurang.

"Ketika vaksinasi massal dimulai, sirkulasi virus alami berkurang drastis. Generasi setelah itu tidak lagi mendapat 'booster alami'," kata Sukamto.

 

Risiko Campak pada Orang Dewasa yang Tidak Terlindungi

Akibatnya, lanjut Sukamto, orang dewasa yang tidak mendapatkan vaksinasi lengkap atau tidak pernah terpapar virus saat kecil menjadi kelompok yang rentan.

Hal ini menjelaskan mengapa kasus campak pada orang dewasa kini mulai terlihat dan menjadi sorotan.

Selain itu, satu dosis vaksin ternyata tidak selalu cukup memberikan perlindungan optimal. Oleh sebab itu, muncul rekomendasi pemberian dua dosis vaksin MMR (measles, mumps, rubella).

"Ini menjadi sinyal bahwa satu dosis vaksin tidak cukup," tambah Sukamto.

Di Indonesia, cakupan vaksinasi yang belum merata juga turut berperan. Masih ada kelompok masyarakat yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, sehingga menciptakan 'celah' bagi virus untuk tetap menyebar.

Pentingnya Mengetahui Status Vaksinasi

Adityo menekankan bahwa salah satu langkah penting yang perlu dilakukan adalah mengetahui status imunisasi sejak kecil.

Jika seseorang yakin telah mendapatkan vaksinasi lengkap, umumnya tidak diperlukan vaksin tambahan. Namun, jika statusnya tidak jelas, maka perlu dipertimbangkan untuk vaksinasi ulang.

"Kalau ragu dengan status vaksinasi sebelumnya, itu yang perlu menjadi perhatian," ujarnya.

Meski demikian, vaksin campak termasuk vaksin dengan virus hidup yang dilemahkan, sehingga penggunaannya harus memperhatikan kondisi tertentu, terutama pada kelompok rentan.

 

Vaksinasi untuk Cegah Campak

Di tengah maraknya informasi yang beredar di media sosial, tidak sedikit orang dewasa yang masih ragu terhadap vaksinasi. Padahal, campak bukan penyakit ringan, terutama pada usia dewasa yang berisiko mengalami komplikasi lebih berat.

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap campak, terutama karena sifatnya yang sangat mudah menular.

"Campak adalah infeksi virus yang sangat menular dan bisa menyebabkan komplikasi serius, terutama pada individu dengan daya tahan tubuh lemah," kata Ketua Umum PP PAPDI, Dr. dr. Eka Ginanjar, Sp.PD, K-Kv, FINASIM, FACP, FICA, MARSH, SH.

Gejala awal campak sering kali menyerupai flu biasa. Penderitanya dapat mengalami demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah. Setelah itu, akan muncul ruam kemerahan yang menyebar ke seluruh tubuh.

Penularan terjadi melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Hal ini membuat penyebaran campak sangat cepat, terutama di lingkungan yang padat.

Untuk menekan risiko penularan dan komplikasi, langkah pencegahan menjadi kunci utama. PAPDI merekomendasikan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat, yaitu:

  • Melengkapi imunisasi campak sesuai jadwal
  • Menjaga kebersihan tangan dan lingkungan
  • Menghindari kontak dengan penderita campak
  • Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala

Eka menegaskan bahwa imunisasi merupakan cara paling efektif untuk mencegah campak. Vaksinasi bahkan dapat membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity hingga 95 persen.

Pada orang dewasa, pemberian vaksin campak sebanyak dua dosis terbukti dapat menurunkan risiko rawat inap hingga 71 s.d 83 persen.

"Selain itu, vaksin juga membantu mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi berat," pungkasnya.