Varian JN.1 Picu Lonjakan COVID-19 di Asia: Ini Fakta Penularan, Gejala dan Fatalitasnya

Negara tetangga Singapura dan Hong Kong menyebut varian JN.1 yang mendominasi kasus COVID-19 di sana.

Diterbitkan 20 Mei 2025, 19:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Beberapa negara di Asia melaporkan tren peningkatan kasus COVID-19. Negara tetangga Singapura dan Hong Kong menyebut varian JN.1 yang mendominasi kasus COVID-19 di sana.

“Varian yang saat ini dominan adalah LF.7 dan NB.1.8, yang merupakan turunan dari varian JN.1. Keduanya mencakup lebih dari dua pertiga kasus yang telah diurutkan,” tulis laporan resmi dari Kementerian Kesehatan Singapura.

Bila melihat data, kenaikan kasus COVID-19 di Singapura mencapai belasan ribu. Dalam sepekan (27 April - 3 Mei 2025) ada 14.200 kasus di Negeri Singa. Angka ini naik banyak dari pekan sebelumnya 11.100 kasus COVID-19 terkonfirmasi.

Sementara itu, Hong Kong melaporkan ada 81 kasus COVID-19 yang parah dengan 30 kematian. Pada kasus kematian hampir semuanya terjadi pada orang lanjut usia dengan penyakit penyerta (komorbid).

“COVID-19 menjadi lebih aktif pada pertengahan April tahun ini (yaitu sekitar empat minggu lalu),” kata Pusat Perlindungan Hong Kong mengutip Independent, Selasa, 20 Mei 2025.

Fakta tentang JN.1, Benarkah Lebih Ganas dari Varian Sebelumnya?

JN.1 Pertama Kali Terdeteksi Agustus 2023

JN.1 pertama kali terdeteksi di Amerika Serikat pada bulan Agustus 2023. JN.1 merupakan subvarian Omicron. JN.1 merupakan kerabat dekat dari BA.2.86 atau disebut informal sebagai Pirola yang merupakan garis keturunan varian Omicron.

Lalu, pada Desember 2023, World Health Organization (WHO) mengklasifikasikan sebagai Variant of Interest (VOI).

WHO mengklasifikasikan SARS-CoV-2 sebagai VOI jika virus penyebab COVID-19 memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Memiliki mutasi yang diduga atau diketahui menyebabkan perubahan signifikan dari strain aslinya.
  • Menyebar luas di banyak tempat atau banyak negara.

JN.1 Penyebaran Cepat

Pada April 2024 varian ini sudah menyebar ke 120 negara dan menyebabkan 94 persen kasus COVID-19.

"Varian ini bahkan telah berevolusi dengan mutasi tambahan yang mungkin membuatnya menyebar lebih cepat daripada pendahulunya," menurut Yale Medicine.

Di Indonesia, Kemenkes RI melaporkan pada 19 Desember 2023 telah ada 41 kasus COVID-19 subvarian Omicron JN.1.

Tidak Lebih Parah dari Varian Sebelumnya

Meskipun penyebarannya cepat, WHO menilai risiko kesehatan masyarakat global tambahan yang ditimbulkan oleh JN.1 rendah.

Hal itu juga dinyatakan Direktur Medis Institute of Internal Medicine India, dokter Sandeep Budhiraja.

"Varian JN.1 saat ini tidak lebih parah daripada varian sebelumnya tetapi lebih mudah menular. Itulah sebabnya virus ini menimbulkan kekhawatiran di seluruh Asia," kata Sandeep Budhiraja.

 

Gejala JN.1, Pada Beberapa Laporan Ada Diare

Seseorang yang terinfeksi varian virus SARS-CoV-2 JN.1 memiliki gejala mirip dengan jenis COVID-19 sebelumnya:

  • batuk kering
  • demam
  • sakit tenggorokan kelelahan, dan
  • kehilangan indra perasa atau penciuman.
  • Beberapa laporan, seperti dari Johns Hopkins, menunjukkan varian tersebut mungkin lebih mungkin menyebabkan masalah gastrointestinal, khususnya diare.

Pencegahan Terinfeksi JN.1

Di tengah peningkatan kasus COVID-19 di Asia, epidemiolog Dicky Budiman mengingatkan kelompok rawan untuk melakukan vaksinasi booster.

Kelompok rawan yang dimaksud Dicky termasuk diantaranya orang lanjut usia (lansia) dengan penyakit penyerta atau komorbid.

"Kalau ingin meningkatkan proteksi kelompok yang sudah masuk kategori lansia yang punya komorbid apalagi yang sering bepergian, liburan, atau didatangi anak yang punya mobilitas tinggi, ya penting," kata Dicky kepada Health Liputan6.com pada Selasa, 20 Mei 2025.

Menurut Dicky, vaksinasi booster tidak perlu dilakukan setiap tahun. Bisa tiap dua tahun sekali untuk meningkatkan perlindungan terhadap virus penyebab COVID-19.

Dicky juga mengatakan meski terjadi kenaikan kasus COVID-19 di beberapa negara Asia, masyarakat Indonesia tidak perlu panik berlebihan. Terpenting untuk tetap waspada.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjalankan perilaku hidup sehat. Mulai dari mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang agar imunitas kuat.

Terapkan Kembali Protokol Kesehatan

Lalu, tak ketinggalan memakai masker di saat-saat penting seperti saat berada di kerumunan dalam ruangan atau ada orang batuk dalam ruangan tersebut.

Dicky juga mengingatkan untuk kembali rajin mencuci tangan memakai sabun di bawah air mengalir.