Liputan6.com, Banjarmasin: Meski jauh dari kampung halaman, orang-orang Bugis, Sulawesi Selatan, tetap eksis membuat pinisi. Keterampilan membuat kapal tradisional ini diwariskan secara turun-temurun oleh sebagian besar suku Bugis. Adapun lokasi yang menjadi pilihan membuat kapal layar ini terletak di Desa Tanah Merah, Kecamatan Batu Licin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Timur. Atau tepatnya terletak sekitar tujuh jam perjalanan dari Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Pembuatan pinisi bisa memakan waktu delapan bulan hingga satu tahun. Saat memulai membuat kapal, pemasangan papan kulit bisa memakan waktu sampai tiga bulan. Papan kulit yang dimaksud adalah bagian samping kapal. Selanjutnya bagian yang mesti diselesaikan adalah pemasangan gading yang berfungsi untuk menggabungkan semua papan tersebut.
Untuk bahan bakunya, pembuatan pinisi menggunakan kayu ulin yang dikenal kuat dan tahan lama. Karenanya tak heran umur kapal memakan waktu cukup lama yakni mencapai 12 sampai 20 tahun. Adapun para peminat kapal layar tersebut tak pernah sepi. Pembelinya datang dari seluruh pelosok Nusantara hingga mancanegara.
Setelah jadi, barulah pinisi siap untuk dijajal kemampuannya. Namun sebelum dilepas ke perairan, digelar upacara khusus terlebih dahulu untuk mengiringi kapal ke laut. Kambing dan sapi menjadi hewan yang dipotong dalam upacara tersebut. Itu pun tergantung berat kapal yang siap diluncurkan. Bila bobot kapal di bawah 100 ton, maka yang dikorbankan adalah kambing. Sedangkan jika di atas 100 ton, sapi yang dikorbankan.
Ketika berada di Desa Tanah Merah, selanjutnya anda dapat mampir ke Pulau Sewangi yang berada tak jauh dari lokasi pembuatan kapal. Dengan menaiki speed boat, Pulau Sewangi dapat dicapai dalam waktu sekitar 20 menit. Sedikit orang dapat berkunjung ke pulau itu.
Umumnya pengunjung yang datang tak lain untuk membeli air. Pulau ini memang memiliki mata air yang jernih dan tidak pernah kering. Setiap hari bisa dihasilkan sepuluh hingga 50 ton. Untuk memperolehnya cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp 3.000 buat 2.000 liter atau satu drum air.
Muhamad Saleng adalah pemilik mata air tersebut. Ia juga merupakan generasi ketujuh penjaga mata air yang dicari banyak orang itu. Uniknya, bila saat musim kemarau tiba, air tetap saja mengalir. "Bisa jadi mengeluarkan 50 drum setiap hari," ujar Saleng.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Pulau Kembang. Di sana banyak ditemukan ratusan monyet liar. Untuk mencapainya dari Pelabuhan Alalak perjalanan dilanjutkan dengan menumpangi kelotok (kapal bermesin). Lama waktu perjalanan menghabiskan sekitar 20 menit. Tarif pulang pergi ke Pulau Kembang dipatok sebesar Rp 30 ribu per kelotok.
Untuk masuk ke kawasan wisata cukup dengan membayar tiket masuk Rp 1.000 per orang. Di dalam, setiap pengunjung bebas menjelajahi pulau sambil mengamati tingkah laku para monyet. Tak ada yang mengetahui asal muasal datangnya monyet tersebut. Warga cuma mengetahui para kera sudah ada sejak dahulu kala.
Ratusan monyet berkeliaran seakan menyapa setiap orang yang lewat di hadapan mereka. Sejumlah orang tak jarang memberi monyet-monyet itu makan. Bila ingin memberi makan kepada monyet-monyet, anda cukup memanggil dengan raungan panjang "uuuuuuh". Itulah kebiasaan yang umum dilakukan para pengunjung.
Kera-kera tersebut hidup dalam kelompok kekuasaannya masing-masing. Maka dari itu tak segan-segan bila datang monyet dari wilayah lain maka sang tuan rumah akan menghukumnya. Caranya yaitu menceburkan monyet asing itu ke dalam air. Monyet yang kepergok masuk ke kawasan yang bukan wilayahnya tak akan diizinkan naik lagi ke darat.(AIS/Grace Natalie)
Pembuatan pinisi bisa memakan waktu delapan bulan hingga satu tahun. Saat memulai membuat kapal, pemasangan papan kulit bisa memakan waktu sampai tiga bulan. Papan kulit yang dimaksud adalah bagian samping kapal. Selanjutnya bagian yang mesti diselesaikan adalah pemasangan gading yang berfungsi untuk menggabungkan semua papan tersebut.
Untuk bahan bakunya, pembuatan pinisi menggunakan kayu ulin yang dikenal kuat dan tahan lama. Karenanya tak heran umur kapal memakan waktu cukup lama yakni mencapai 12 sampai 20 tahun. Adapun para peminat kapal layar tersebut tak pernah sepi. Pembelinya datang dari seluruh pelosok Nusantara hingga mancanegara.
Setelah jadi, barulah pinisi siap untuk dijajal kemampuannya. Namun sebelum dilepas ke perairan, digelar upacara khusus terlebih dahulu untuk mengiringi kapal ke laut. Kambing dan sapi menjadi hewan yang dipotong dalam upacara tersebut. Itu pun tergantung berat kapal yang siap diluncurkan. Bila bobot kapal di bawah 100 ton, maka yang dikorbankan adalah kambing. Sedangkan jika di atas 100 ton, sapi yang dikorbankan.
Ketika berada di Desa Tanah Merah, selanjutnya anda dapat mampir ke Pulau Sewangi yang berada tak jauh dari lokasi pembuatan kapal. Dengan menaiki speed boat, Pulau Sewangi dapat dicapai dalam waktu sekitar 20 menit. Sedikit orang dapat berkunjung ke pulau itu.
Umumnya pengunjung yang datang tak lain untuk membeli air. Pulau ini memang memiliki mata air yang jernih dan tidak pernah kering. Setiap hari bisa dihasilkan sepuluh hingga 50 ton. Untuk memperolehnya cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp 3.000 buat 2.000 liter atau satu drum air.
Muhamad Saleng adalah pemilik mata air tersebut. Ia juga merupakan generasi ketujuh penjaga mata air yang dicari banyak orang itu. Uniknya, bila saat musim kemarau tiba, air tetap saja mengalir. "Bisa jadi mengeluarkan 50 drum setiap hari," ujar Saleng.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Pulau Kembang. Di sana banyak ditemukan ratusan monyet liar. Untuk mencapainya dari Pelabuhan Alalak perjalanan dilanjutkan dengan menumpangi kelotok (kapal bermesin). Lama waktu perjalanan menghabiskan sekitar 20 menit. Tarif pulang pergi ke Pulau Kembang dipatok sebesar Rp 30 ribu per kelotok.
Untuk masuk ke kawasan wisata cukup dengan membayar tiket masuk Rp 1.000 per orang. Di dalam, setiap pengunjung bebas menjelajahi pulau sambil mengamati tingkah laku para monyet. Tak ada yang mengetahui asal muasal datangnya monyet tersebut. Warga cuma mengetahui para kera sudah ada sejak dahulu kala.
Ratusan monyet berkeliaran seakan menyapa setiap orang yang lewat di hadapan mereka. Sejumlah orang tak jarang memberi monyet-monyet itu makan. Bila ingin memberi makan kepada monyet-monyet, anda cukup memanggil dengan raungan panjang "uuuuuuh". Itulah kebiasaan yang umum dilakukan para pengunjung.
Kera-kera tersebut hidup dalam kelompok kekuasaannya masing-masing. Maka dari itu tak segan-segan bila datang monyet dari wilayah lain maka sang tuan rumah akan menghukumnya. Caranya yaitu menceburkan monyet asing itu ke dalam air. Monyet yang kepergok masuk ke kawasan yang bukan wilayahnya tak akan diizinkan naik lagi ke darat.(AIS/Grace Natalie)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5560136/original/057890300_1776659894-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-20T113652.901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291655/original/029171400_1783572083-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-09T113921.353.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287484/original/056615100_1783229292-bansos_pkh_bpnt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291533/original/094652600_1783567822-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-09T102907.971.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/442790/original/300705aJalan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259009/original/093710600_1781434062-gabriel_magalhaes_ismael_saibari_brasil_maroko_ap_matt_slocum.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5339733/original/047775700_1757121903-MAROKO_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710894/original/015901700_1782791233-000_B8QK288.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288075/original/063090000_1783298243-nor2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261560/original/020942400_1781744954-AP26168812020257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288083/original/090522600_1783298244-nor10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290414/original/058282700_1783480422-ko2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290474/original/094848300_1783482268-063_2285093246.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3490249/original/064386300_1624409252-000_9CW8AD.jpg)