Liputan6.com, Jakarta - Memotong bawang merah kerap membuat mata terasa panas, pedih, hingga mengeluarkan air mata. Melansir dari American Academy of Ophthalmology (AAO), bawang melepaskan senyawa yang dapat mengiritasi mata ketika jaringan di dalamnya rusak saat dipotong.Â
Kabar baiknya, rasa perih itu bisa dikurangi dengan cara sederhana tanpa harus mengorbankan rasa bawang dalam masakan. Penelitian Zixuan Wu dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2025 menunjukkan pisau yang lebih tajam dan gerakan memotong yang lebih lembut menghasilkan lebih sedikit percikan cairan dari bawang.Â
Memahami penyebab mata berair juga membantu menentukan trik yang masuk akal dan menghindari cara yang sekadar menjadi mitos dapur. Berikut adalah cara memotong bawang merah tanpa bikin mata perih dan menangis dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (30/9/2026).
Advertisement
Mengapa Memotong Bawang Merah Bisa Membuat Mata Perih?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362213/original/086535300_1790762282-pexels-karola-g-6028521.jpg)
Rasa pedih bukan terjadi karena bawang mempunyai cairan yang sejak awal mengandung zat seperti gas air mata. Reaksi tersebut muncul setelah sel bawang rusak akibat sayatan pisau.
Dalam penelitian S. Imai dan kolega berjudul Plant Biochemistry: An Onion Enzyme That Makes the Eyes Water (2002), para peneliti menjelaskan keberadaan enzim lachrymatory-factor synthase atau LFS. Enzim ini berperan dalam pembentukan senyawa penyebab mata berair yang dikenal sebagai propanethial S-oxide. Penelitian tersebut diterbitkan di jurnal Nature.Â
Ketika bawang dipotong, enzim dan prekursor senyawa sulfur yang sebelumnya berada dalam bagian sel berbeda menjadi bercampur. Reaksi tersebut menghasilkan senyawa volatil yang kemudian mencapai permukaan mata dan memicu respons iritasi serta keluarnya air mata.Â
Penelitian Mette Marie Løkke, Merete Edelenbos, Erik Larsen, dan Anders Feilberg berjudul Investigation of Volatiles Emitted from Freshly Cut Onions (Allium cepa L.) by Real Time Proton-Transfer Reaction-Mass Spectrometry (2012) juga menemukan bahwa senyawa sulfur yang sangat reaktif mendominasi udara di sekitar bawang pada beberapa menit pertama setelah dipotong. Propanethial S-oxide dan produk penguraiannya menjadi bagian penting dari senyawa volatil tersebut.Â
Artinya, ada dua hal yang dapat dikendalikan saat memasak. Pertama, kurangi kerusakan sel dan percikan ketika pisau menembus bawang. Kedua, kurangi jumlah senyawa yang mencapai wajah dan mata.
Advertisement
1. Gunakan Pisau yang Benar-Benar Tajam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362214/original/098390700_1790762282-pexels-rdne-10432435.jpg)
Cara memotong bawang merah tanpa bikin mata perih dan menangis yang paling masuk akal untuk dijadikan langkah utama adalah memakai pisau tajam.
Pisau tumpul membutuhkan tekanan lebih besar untuk menembus bawang. Tekanan tersebut membuat lapisan bawang lebih banyak tertekan sebelum akhirnya pecah.
Temuan ini diperkuat penelitian Zixuan Wu, Alireza Hooshanginejad, Weilun Wang, Chung-Yuen Hui, dan Sunghwan Jung dalam Droplet Outbursts from Onion Cutting (2025). Penelitian tersebut menggunakan kamera berkecepatan tinggi untuk melihat bagaimana cairan bawang keluar ketika dipotong. Hasilnya menunjukkan pisau yang lebih tumpul menghasilkan jumlah dan energi percikan yang lebih besar.Â
Pisau tajam dapat membuat sayatan lebih bersih sehingga tekanan pada jaringan bawang lebih kecil. Kondisi itu bukan hanya membantu mengurangi percikan, tetapi juga membuat proses memotong lebih mudah dikendalikan.
Gunakan pisau koki atau pisau dapur yang nyaman digenggam. Pastikan papan pemotong berada di permukaan datar dan tidak mudah bergeser.
2. Potong Perlahan, Jangan Menghantam Bawang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362215/original/011324400_1790762283-pexels-rdne-10432426.jpg)
Pisau tajam bukan berarti bawang harus dipotong secepat mungkin. Justru penelitian terbaru menunjukkan kecepatan potong yang lebih tinggi dapat meningkatkan jumlah percikan cairan.
Dalam eksperimen Wu dan kolega, jumlah tetesan yang keluar meningkat sekitar empat kali ketika kecepatan pemotongan dinaikkan dari sekitar 0,44 menjadi 2,03 meter per detik. Penelitian itu juga menemukan bilah yang lebih tumpul menghasilkan tetesan lebih banyak dan bergerak lebih cepat.Â
Temuan tersebut menjelaskan mengapa gerakan mencincang dengan hentakan kuat dapat membuat mata lebih cepat terasa pedih. Tekanan besar pada satu titik memberi kesempatan pada jaringan bawang untuk menyimpan tekanan sebelum lapisannya pecah.
Gunakan gerakan yang stabil dan terkontrol. Biarkan mata pisau melakukan pekerjaan tanpa menekan terlalu kuat ke talenan.
Cara sederhana ini juga membuat potongan lebih rapi. Jari tangan yang menahan bawang sebaiknya ditekuk seperti cakar agar tidak berada tepat di depan mata pisau.
Panduan keamanan penggunaan pisau dari University of Illinois Extension juga menyarankan menggunakan talenan yang tidak licin, menjauhkan pisau dari tubuh, serta menjaga jari tetap melengkung ketika memegang bahan makanan.Â
Advertisement
3. Jaga Wajah Tidak Terlalu Dekat dengan Talenan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362216/original/018525800_1790762283-1.jpg)
Posisi tubuh ternyata juga penting. Ketika wajah berada sangat dekat dengan bawang yang baru dipotong, senyawa iritan yang keluar memiliki jarak lebih pendek untuk mencapai mata.
Penelitian PNAS 2025 menemukan bahwa cairan dari bawang dapat keluar dalam bentuk tetesan dan percikan berkecepatan tinggi ketika lapisan bawang pecah. Peneliti mencatat tetesan paling cepat keluar pada tahap awal kerusakan lapisan.Â
Karena itu, jangan membungkuk terlalu dekat ketika mencincang. Berdirilah dengan posisi tubuh nyaman dan beri sedikit jarak antara wajah dan talenan.
Trik ini tampak sederhana, tetapi berguna terutama ketika bawang yang dipotong cukup banyak. Mata yang mulai berair juga dapat membuat pandangan kabur sehingga konsentrasi saat menggunakan pisau menurun.
4. Arahkan Aliran Udara Menjauh dari Wajah
Cara memotong bawang merah tanpa bikin mata perih dan menangis berikutnya adalah mengatur sirkulasi udara.
Melansir dari American Academy of Ophthalmology, jendela yang terbuka, kipas dapur, atau cooker hood dapat membantu membersihkan udara dari kabut atau senyawa iritan yang naik dari bawang.Â
Posisi aliran udara perlu diperhatikan. Kipas yang justru meniup udara dari arah bawang ke wajah dapat membuat iritan lebih cepat sampai ke mata.
Letakkan talenan di area yang memiliki sirkulasi udara baik. Nyalakan cooker hood atau gunakan kipas dengan arah yang membantu membawa udara menjauh dari posisi memasak.
Cara ini tidak menghentikan bawang membentuk senyawa iritan. Tujuannya adalah mengurangi paparan langsung di sekitar wajah.
5. Sisakan Pangkal Bawang untuk Bagian Terakhir
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362217/original/031981000_1790762283-pexels-aditya-bhatia-264152318-27209245.jpg)
Ada teknik lain yang sudah lama digunakan dalam memasak, yakni membiarkan bagian pangkal atau ujung akar tetap utuh selama proses pemotongan.
University of Nebraska-Lincoln, melalui UNL Food, menyebut rekomendasi National Onion Association untuk mendinginkan bawang, memotong bagian atas, kemudian mengupasnya sambil membiarkan ujung akar tetap utuh. Sumber tersebut menjelaskan teknik itu sebagai salah satu cara untuk mengurangi air mata saat memotong bawang.Â
Teknik ini dapat digunakan sebagai tambahan, bukan satu-satunya cara yang diandalkan. Bukti mekanistik terbaru mengenai percikan lebih kuat mendukung penggunaan pisau tajam dan pemotongan lembut.
Untuk mempraktikkannya, potong bagian atas bawang terlebih dahulu. Kupas kulit luarnya, belah atau iris bawang sesuai kebutuhan, lalu potong bagian pangkal pada tahap paling akhir.
Cara tersebut juga membantu menjaga bawang tetap stabil ketika membuat potongan memanjang atau cincangan kecil.
Advertisement
6. Coba Dinginkan Bawang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362218/original/039050400_1790762283-2.jpg)
Mendinginkan bawang sebelum dipotong merupakan salah satu cara yang paling sering direkomendasikan. AAO menyebut bawang dapat didinginkan beberapa menit di lemari es atau freezer sebelum dipotong untuk membantu mengurangi senyawa iritan yang mudah menguap.Â
University of Nebraska-Lincoln juga mencantumkan pendinginan sekitar 30 menit sebagai rekomendasi yang bersumber dari National Onion Association.Â
Namun, ada catatan penting dari penelitian terbaru. Wu dan kolega mendinginkan bawang pada suhu sekitar 1 derajat Celsius selama 12 jam lalu membandingkannya dengan bawang pada suhu ruang. Kecepatan tetesan tidak berbeda secara signifikan, tetapi volume tetesan yang keluar justru terlihat lebih besar pada sampel yang didinginkan.Â
Temuan tersebut menunjukkan bahwa manfaat pendinginan tidak sesederhana anggapan bahwa bawang dingin pasti tidak membuat mata berair. Penelitian PNAS tersebut memang berfokus pada mekanisme percikan dan bukan pengujian langsung jumlah air mata manusia.
Karena itu, pendinginan dapat dipandang sebagai trik tambahan yang hasilnya bisa berbeda-beda. Pisau tajam dan gerakan potong yang lembut tetap lebih layak dijadikan prioritas.
7. Gunakan Kacamata Pelindung Bila Mata Sangat Sensitif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362219/original/050043200_1790762283-3.jpg)
Bagi orang yang sangat mudah menangis saat memotong bawang, penghalang fisik pada mata dapat menjadi solusi yang praktis.
AAO menyebut onion goggles atau kacamata khusus bawang dapat membantu mencegah senyawa iritan mencapai mata. Prinsipnya sederhana, yaitu menciptakan penghalang antara permukaan mata dan udara di sekitar bawang.Â
Cara ini tidak memengaruhi reaksi kimia di dalam bawang. Mata tetap aman karena paparan langsung dikurangi.
Gunakan kacamata yang menutup area sekitar mata dengan baik. Jangan memilih perlengkapan yang membuat pandangan terhadap pisau menjadi terganggu.
8. Potong Bawang Tepat Sebelum Digunakan
Memotong bawang beberapa saat sebelum dimasak berarti memberi kesempatan lebih lama bagi senyawa volatil untuk berada di lingkungan dapur.
Penelitian Løkke dan kolega pada 2012 menunjukkan perubahan komposisi udara terjadi cepat setelah bawang dipotong. Sinyal yang berkaitan dengan propanethial S-oxide dan produk penguraiannya sangat menonjol pada 0–10 menit pertama setelah pemotongan.
Temuan tersebut mendukung kebiasaan memotong bawang mendekati waktu penggunaannya. Tujuannya bukan untuk menghilangkan senyawa penyebab air mata, melainkan mengurangi waktu tubuh terpapar senyawa volatil di udara.
Setelah bawang selesai dipotong, segera masukkan ke masakan atau tempatkan dalam wadah yang sesuai. Jangan membiarkan bawang cincang terbuka di dekat wajah dalam waktu lama.
Bagaimana dengan Memotong Bawang di Dalam Air?
Memotong bawang di bawah air sering muncul sebagai trik rumahan. Cara tersebut masuk akal secara teori karena air dapat mengubah pergerakan senyawa yang keluar dari bahan makanan, tetapi tidak ada alasan untuk menganggap metode ini sebagai solusi yang pasti.
Poison Control mencatat merendam atau memotong bawang di dalam air termasuk cara yang sering disarankan, tetapi juga menegaskan bahwa tidak ada metode yang benar-benar menjamin bebas air mata.Â
Ada pertimbangan praktis lain. Pisau yang digunakan pada permukaan atau lingkungan sangat basah dapat terasa lebih sulit dikendalikan. Karena itu, menggunakan pisau tajam, talenan stabil, ventilasi baik, serta posisi tubuh yang aman lebih mudah diterapkan sehari-hari.
Benarkah Memotong Bawang dengan Pisau Tumpul Lebih Baik?
Anggapan tersebut tidak didukung penelitian terbaru.
Pisau tumpul justru dapat menekan jaringan bawang lebih kuat sebelum lapisannya pecah. Studi PNAS yang menggunakan pencitraan berkecepatan tinggi menemukan bahwa semakin tumpul bilah, semakin besar ukuran dan kecepatan tetesan pada tahap tertentu.Â
Selain mengurangi kenyamanan, menggunakan pisau tumpul juga kurang aman. University of Illinois Extension menjelaskan bahwa pisau tumpul membutuhkan tenaga lebih besar sehingga pengguna lebih berisiko kehilangan kendali saat memotong.Â
Apakah Ada Bawang yang Lebih Jarang Membuat Mata Menangis?
Ada jenis bawang yang cenderung lebih ringan aromanya dan lebih kecil kemungkinan menimbulkan rasa perih. AAO menyebut bawang daun dan varietas bawang manis sebagai pilihan yang dapat lebih ringan bagi mata.Â
Perbedaan tersebut berkaitan dengan komposisi senyawa sulfur di dalam bawang. Harold McGee dalam On Food and Cooking: The Science and Lore of the Kitchen (2004) juga membahas bagaimana variasi bawang, terutama tingkat kandungan senyawa sulfur, memengaruhi karakter rasa dan tingkat kepedasannya. Buku tersebut diterbitkan oleh Scribner dan merupakan edisi revisi yang diperluas dari karya McGee.Â
Pemilihan jenis bawang tetap harus menyesuaikan masakan. Bawang yang lebih ringan belum tentu memberikan rasa yang sama dengan bawang merah yang biasa digunakan dalam sambal, tumisan, bumbu dasar, atau masakan Indonesia.
Â
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Teknik Memotong Bawang
1. Apa penyebab mata perih saat memotong bawang?
Bawang membentuk senyawa volatil bernama propanethial S-oxide setelah selnya rusak. Senyawa ini mengiritasi mata dan memicu keluarnya air mata.Â
2. Apakah pisau tajam benar-benar membantu?
Ya. Penelitian PNAS 2025 menunjukkan pisau yang lebih tajam menghasilkan lebih sedikit dan lebih lambat tetesan cairan saat bawang dipotong.
3. Apakah bawang perlu dimasukkan ke kulkas?
Pendinginan masih direkomendasikan oleh AAO dan beberapa sumber pendidikan kuliner, tetapi penelitian terbaru menunjukkan pendinginan tidak otomatis mengurangi percikan.Â
4. Apakah memotong bawang di bawah air bisa mencegah menangis?
Metode ini sering disarankan, tetapi tidak menjamin mata bebas air mata. Poison Control menyebut tidak ada metode yang benar-benar foolproof.Â
5. Apa trik paling sederhana untuk mengurangi mata perih?
Gunakan pisau yang tajam, potong dengan gerakan lembut, dan pastikan udara di sekitar talenan mengalir menjauh dari wajah.Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353576/original/002126400_1789969776-cek_fakta_-_papua.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579570/original/015916200_1778057243-Menteri_Keuangan__Menkeu__Purbaya_Yudhi_Sadewa-6_Mei_2026c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361902/original/027437400_1790753188-HOAX__27_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362040/original/020203500_1790756057-Cek_fakta_gubernur_papua.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362212/original/074423900_1790762282-pexels-mali-244395.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5498955/original/025034100_1770731352-unsplash-photo.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5412539/original/085412700_1763094987-Tanam_Bawang_Merah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4713027/original/075320000_1704964958-20240111-Bawang-Merah-Brebes-Faizal-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5467755/original/033887700_1767929593-Menanam_Bawang_Merah_di_Galon_Bekas.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329587/original/026849100_1787285439-aPwbq9h34ODkljE7Fceks4CnJlNsSbwzr7GioCcb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340261/original/040239900_1788497672-IMG_20260904_115246.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331477/original/036464700_1787545728-IMG_20260824_112629.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329663/original/007202800_1787288259-66967580-3020-49b4-ad9c-a0f063a41190.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300340/original/041793800_1784347501-aceh4.jpg)