8 Cara Memperbesar Batang Bawang Merah agar Umbinya Lebih Besar dan Berisi

Cara memperbesar batang bawang merah agar umbinya lebih besar dan berisi bisa dimulai dari pemilihan bibit, pemupukan, penyiraman, hingga pengaturan jarak tanam

Liputan6.com, Jakarta - Cara memperbesar batang bawang merah sering dicari oleh orang yang ingin mendapatkan hasil panen dengan umbi besar, padat, dan tidak mudah menyusut. Tanaman bawang merah memang terlihat sederhana, tetapi hasil panennya dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari kualitas bibit, kondisi tanah, pemupukan, hingga penyiraman.

Menurut informasi budidaya dari Kementerian Pertanian, pertumbuhan bawang merah membutuhkan tanah dengan drainase yang baik, sinar matahari cukup, pemupukan sesuai kebutuhan, serta penyiraman yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman. Perawatan tersebut membantu tanaman tumbuh optimal dan mendukung pembentukan umbi.

Lantas, bagaimana cara merawat bawang merah agar umbinya lebih besar dan berisi? Berikut Liputan6.com ulas beberapa langkah yang bisa diterapkan saat menanam bumbu dapur satu ini.

1. Pilih Bibit Bawang Merah yang Sehat dan Berkualitas

Langkah pertama dalam cara memperbesar batang bawang merah adalah memilih bibit yang tepat. Bibit yang sehat membantu tanaman tumbuh lebih seragam sehingga perawatannya lebih mudah dilakukan.

Pilih umbi bibit yang sehat, padat, tidak busuk, tidak keriput berlebihan, serta bebas dari tanda serangan hama dan penyakit. Sebaiknya gunakan bibit dari varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan tempat menanam.

Jangan hanya memilih bibit berdasarkan ukurannya. Kondisi umbi, varietas, dan kualitas bahan tanam juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi pertumbuhan dan hasil panen.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Agroswagati mengenai bobot bibit dan pupuk kalium pada bawang merah varietas Bima menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan bobot bibit dan kalium memengaruhi sejumlah parameter pertumbuhan serta hasil tanaman.

2. Gunakan Media Tanam yang Gembur dan Tidak Becek

Kondisi tanah turut menentukan perkembangan akar dan pembentukan umbi bawang merah. Tanah yang terlalu padat dapat menghambat perkembangan bagian bawah tanaman, sedangkan genangan air meningkatkan risiko pembusukan.

Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa bawang merah membutuhkan tanah berstruktur remah, memiliki aerasi dan drainase yang baik, serta mengandung bahan organik yang cukup.

Jika menanam di pekarangan, gunakan campuran tanah dan bahan organik matang yang tidak terlalu padat. Pastikan pot atau polybag memiliki lubang drainase agar kelebihan air dapat keluar.

Sementara itu, untuk penanaman di lahan, bedengan dapat membantu memperlancar aliran air, terutama ketika hujan turun cukup sering.

3. Berikan Pupuk Sesuai Kebutuhan Tanaman

Pupuk agar umbi bawang merah besar tidak harus diberikan dalam jumlah banyak. Hal terpenting adalah memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman secara seimbang.

Nitrogen, fosfor, dan kalium memiliki fungsi yang berbeda dalam pertumbuhan tanaman. Nitrogen mendukung pertumbuhan daun, fosfor berperan dalam proses metabolisme dan perkembangan akar, sedangkan kalium terlibat dalam pengaturan air, aktivitas enzim, dan berbagai proses fisiologis tanaman.

Kalium juga menjadi salah satu unsur yang banyak diteliti dalam kaitannya dengan pertumbuhan dan hasil bawang merah.

Penelitian Cece Mulyana yang diterbitkan dalam jurnal AgroSainTa pada 2019 membahas pengaruh dosis pupuk kalium dan jarak tanam terhadap pertumbuhan serta hasil bawang merah. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa respons tanaman dapat berbeda menurut parameter yang diamati dan perlakuan yang diberikan.

Karena itu, gunakan pupuk sesuai rekomendasi budidaya, kondisi tanah, dan petunjuk pada kemasan. Jangan langsung menambah dosis pupuk kalium atau NPK hanya karena umbi terlihat kecil.

4. Atur Jarak Tanam agar Tanaman Tidak Berebut Nutrisi

Tanaman bawang merah yang ditanam terlalu rapat dapat bersaing mendapatkan cahaya, air, dan unsur hara. Akibatnya, pertumbuhan tanaman dan perkembangan umbi bisa kurang optimal.

Sebaliknya, jarak tanam yang terlalu lebar juga belum tentu menghasilkan umbi yang lebih besar. Hasilnya bergantung pada varietas, kesuburan tanah, kondisi lingkungan, dan teknik pemeliharaan.

Panduan Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa jarak tanam dapat disesuaikan dengan varietas dan musim tanam. Sebagai contoh, jarak sekitar 15 × 15 cm dapat digunakan pada musim kemarau, sedangkan pola 20 × 10 cm atau 25 × 10 cm dapat dipertimbangkan pada musim hujan sesuai panduan tersebut.

Angka ini bukan patokan mutlak untuk semua kondisi. Jika menanam di pot atau polybag, sesuaikan jumlah tanaman dengan ukuran wadah agar setiap tanaman memperoleh ruang tumbuh yang cukup.

5. Jaga Penyiraman saat Umbi Mulai Terbentuk

Salah satu hal penting dalam cara memperbesar batang bawang merah adalah mengatur penyiraman sesuai fase pertumbuhan. Tanaman yang kekurangan air dapat mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi media yang terus-menerus basah juga berisiko menyebabkan pembusukan.

Dalam panduan budidaya bawang merah yang diterbitkan Kementerian Pertanian, fase pembentukan umbi sekitar 36–50 hari setelah tanam (HST) memerlukan perhatian khusus terhadap penyiraman. Kebutuhan air tetap perlu disesuaikan dengan cuaca dan kondisi tanah.

Jika menanam di pekarangan, periksa kelembapan media sebelum menyiram. Saat cuaca panas dan media cepat kering, tanaman mungkin memerlukan penyiraman lebih sering. Namun, jika hujan turun atau media masih basah, kurangi penyiraman.

Jangan hanya berpatokan pada jadwal. Pastikan air dapat meresap dengan baik dan tidak menggenang di sekitar pangkal tanaman.

6. Pastikan Bawang Merah Mendapatkan Sinar Matahari Cukup

Bawang merah membutuhkan cahaya matahari untuk mendukung fotosintesis, yaitu proses tanaman menghasilkan energi untuk pertumbuhan.

Jika ditanam di tempat yang terlalu teduh, tanaman bisa tumbuh kurang optimal. Daunnya mungkin tetap memanjang, tetapi kondisi tersebut tidak otomatis membuat umbinya lebih besar.

Untuk penanaman di pekarangan, letakkan pot atau polybag di area terbuka yang mendapatkan sinar matahari cukup. Hindari menempatkannya terus-menerus di bawah naungan yang terlalu rapat.

Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian juga menyarankan penempatan bawang merah dalam polybag di lokasi terbuka dengan paparan sinar matahari yang memadai.

7. Bersihkan Gulma dan Kendalikan Hama Sejak Dini

Gulma atau tanaman liar di sekitar bawang merah dapat bersaing mendapatkan air, cahaya, dan unsur hara. Karena itu, bersihkan gulma secara berkala tanpa merusak akar dan umbi.

Perhatikan juga perubahan pada daun, seperti bercak, ujung mengering, lubang bekas gigitan, atau daun yang tampak layu. Gejala tersebut bisa berkaitan dengan serangan hama, penyakit, maupun masalah lingkungan sehingga penyebabnya perlu diperiksa terlebih dahulu.

Kementerian Pertanian mencatat sejumlah organisme pengganggu tanaman yang dapat menyerang bawang merah, termasuk trips, ulat bawang, dan penyakit yang disebabkan oleh jamur.

Pengendalian sejak dini membantu mengurangi gangguan pada pertumbuhan tanaman. Dengan daun yang sehat, proses fotosintesis dapat berlangsung lebih baik dan mendukung perkembangan umbi.

8. Perhatikan Waktu Panen agar Umbi Berkembang Optimal

Umbi bawang merah tidak akan terus membesar dengan hasil yang sama jika dipanen melewati waktu yang tepat. Karena itu, perhatikan umur tanaman sekaligus tanda kematangannya.

Pada banyak praktik budidaya, bawang merah dapat dipanen sekitar 55–60 hari setelah tanam, meskipun waktu panen bisa berbeda menurut varietas dan kondisi pertumbuhan.

Beberapa tanda tanaman mendekati panen antara lain daun mulai menguning, sebagian besar daun rebah, dan leher tanaman tampak melunak. Pastikan tanda-tanda tersebut sesuai dengan karakter varietas yang ditanam.

Jangan terburu-buru mencabut bawang merah hanya karena daunnya sudah panjang. Tinggi daun bukan satu-satunya penentu ukuran umbi. Sebaliknya, jangan pula membiarkan tanaman terlalu lama di tanah setelah matang karena kondisi lingkungan dapat memengaruhi kualitas hasil panen.

Mengapa Umbi Bawang Merah Tetap Kecil?

Meski sudah dirawat, umbi bawang merah terkadang tetap kecil atau kurang berisi. Kondisi ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya:

  • Bibit kurang berkualitas: umbi bibit yang tidak sehat atau tidak sesuai varietas dapat memengaruhi pertumbuhan.
  • Kekurangan unsur hara: kebutuhan nutrisi yang tidak terpenuhi dapat menghambat pertumbuhan dan pembentukan umbi.
  • Penyiraman tidak tepat: kekurangan air maupun media yang terlalu basah bisa mengganggu perkembangan tanaman.
  • Kurang sinar matahari: cahaya yang tidak memadai dapat menghambat fotosintesis.
  • Jarak tanam tidak sesuai: persaingan antartanaman dapat mengurangi ketersediaan sumber daya.
  • Serangan hama dan penyakit: kerusakan daun, akar, atau pangkal tanaman dapat mengganggu pertumbuhan.

Jika menemukan umbi yang kecil, periksa kondisi tanaman secara menyeluruh sebelum menambah pupuk. Langkah ini membantu mengetahui apakah masalahnya berasal dari nutrisi, air, cahaya, bibit, atau gangguan organisme pengganggu tanaman.

Pertanyaan Seputar Cara Memperbesar Batang Bawang Merah

1. Pupuk apa yang bisa membantu memperbesar umbi bawang merah?

Pupuk NPK dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan beberapa unsur hara sekaligus, sedangkan pupuk kalium dapat membantu memenuhi kebutuhan kalium tanaman. Pemilihan jenis dan dosis pupuk sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tanah, fase pertumbuhan, dan rekomendasi budidaya.

2. Apakah bawang merah harus sering disiram agar umbinya besar?

Tidak selalu. Bawang merah membutuhkan air yang cukup, terutama saat pembentukan umbi, tetapi penyiraman berlebihan dapat membuat media terlalu basah dan meningkatkan risiko pembusukan. Sesuaikan frekuensi penyiraman dengan cuaca dan kelembapan tanah.

3. Berapa lama bawang merah membutuhkan waktu untuk menghasilkan umbi besar?

Bawang merah umumnya dapat dipanen sekitar 55–60 hari setelah tanam, tetapi waktunya bergantung pada varietas, kondisi lingkungan, dan pemeliharaan. Ukuran umbi juga dipengaruhi kualitas bibit, ketersediaan nutrisi, serta kesehatan tanaman.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6