Hujan Bulan Juni Jadi Koleksi Fashion Playful Rama Dauhan X Benang Jarum, dari Puisi ke Busana

Koleksi "Hujan Bulan Juni" Rama Dauhan X Benang Jarum terbagi dalam tiga babak.

Diterbitkan 29 Juli 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ada puisi yang selesai ketika titik terakhir diletakkan. Ada pula puisi yang justru menemukan kehidupan baru ketika dibaca dengan cara berbeda. Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono menjadi salah satunya. Larik-larik tentang rindu, cinta yang tak terucap, dan perasaan yang disimpan dalam diam kini menemukan bentuk lain melalui busana.

Rama Dauhan bersama Benang Jarum menerjemahkan karya sastra tersebut menjadi koleksi "Hujan Bulan Juni" yang ekspresif, feminin, sekaligus playful. "'Hujan Bulan Juni' bagi saya adalah karya yang sederhana, tapi punya rasa yang dalam,' kata Rama melalui rilis pada Lifestyle Liputan6.com, Senin, 27 Juli 2026.

"Ada sesuatu yang tertahan, ada rindu, ada perjalanan, dan ada perasaan yang tidak selalu harus diucapkan secara langsung," imbuhnya. Interpretasi itu tidak berhenti pada upaya memindahkan kisah puisi ke dalam motif rangkaian mode.

Rama membawa perasaan yang tersimpan di balik karya Sapardi ke dalam bahasa fashion yang lebih ringan dan dekat dengan keseharian. Koleksi ready-to-wear tersebut terasa seperti perjalanan emosional yang perlahan berubah menjadi pakaian dengan karakter kuat.

Koleksi ini terbagi dalam tiga babak, yakni loving, meeting, dan finding. Ketiganya menggambarkan perjalanan seseorang ketika mencari sesuatu dalam hidup, mulai dari mengenali rasa cinta, bertemu dengan sesuatu yang mengubah arah, hingga menemukan hal yang terasa paling dekat dengan dirinya.

Permainan Visual

Benang Jarum dan Rama Dauhan kemudian menerjemahkan perjalanan itu melalui permainan visual yang terasa hidup. Wavy stripes hadir dengan karakter playful, sementara motif floral tampil dalam bentuk yang lebih quirky. Monogram Benang Jarum turut menjadi bagian dari komposisi, menciptakan identitas yang menyatukan bahasa desain kedua pihak.

"Melalui kolaborasi ini, Benang Jarum ingin menghadirkan koleksi yang lebih eksploratif, mulai dari permainan motif, warna, hingga siluet. Ada dua identitas yang menyatu di dalamnya, yaitu karakter elegan Benang Jarum dan bahasa desain Rama Dauhan yang ekspresif," kata Mifthahul Jannah, Creative Director Benang Jarum.

Pertemuan dua karakter tersebut membuat koleksi "Hujan Bulan Juni" tidak terasa seperti busana yang hanya mengejar kesan artistik. Siluet santai dan potongan flowy memberi ruang bagi motif untuk bergerak, sementara desain yang mudah dipadukan membuat koleksi ini tetap relevan untuk gaya sehari-hari.

 

Bahasa Desain Ekspresif

Pilihan tersebut juga memperluas daya pakai koleksi untuk laki-laki dan perempuan modern. Busana tidak menuntut pemakainya tampil terlalu formal atau penuh perhitungan. Karakternya justru muncul melalui cara setiap orang memadukan potongan, motif, dan siluet sesuai dengan gaya personal.

Rama sendiri membawa pengalaman lebih dari dua dekade di industri fashion Indonesia ke dalam kolaborasi tersebut. Desainer dengan karakter visual yang kuat itu dikenal lewat eksplorasi cutting, motif, serta detail yang berani.

Bahasa desainnya yang eksploratif bertemu dengan karakter feminin dan elegan Benang Jarum, menciptakan interpretasi baru terhadap karya sastra yang sudah begitu akrab di ingatan masyarakat Indonesia.

"Proses kolaborasi ini sangat menyenangkan karena saya bisa membawa cara pandang saya ke dalam DNA Benang Jarum," tutur Rama. Ia memilih membawa "Hujan Bulan Juni" ke arah yang lebih playful melalui komposisi pattern yang tetap dapat dikenakan dalam keseharian.

 

Sastra dan Fashion

Koleksi "Hujan Bulan Juni" akhirnya menawarkan cara baru untuk melihat hubungan antara sastra dan fashion. Sebuah puisi yang berbicara tentang sesuatu yang tidak selalu diucapkan kini hadir melalui busana yang justru memungkinkan pemakainya mengekspresikan diri.

Rama Dauhan dan Benang Jarum mempertemukan dua dunia yang memiliki bahasa berbeda, lalu menemukan titik temu di antara keduanya. Hasilnya bukan sekadar koleksi yang mengambil nama dari karya Sapardi, melainkan interpretasi fashion yang membawa rasa cinta, perjalanan, pencarian, dan keberanian untuk menemukan karakter diri.

Hujan Bulan Juni pun tidak lagi hanya turun sebagai hujan dalam puisi, tapi hadir sebagai sesuatu yang bisa dikenakan, dipadukan, dan dimaknai dengan cara masing-masing.