Sukses

Kuliner Malam Jumat: Nongkrong Asyik dengan Berpiring-piring Gultik Bulungan Mas Tondo

Liputan6.com, Jakarta - Jakarta punya banyak tempat makan legendaris yang mampu bertahan lama. Salah satunya ada di kawasan Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yaitu Gultik. Berada di Jalan Mahakam dan Jalan Bulungan, Gultik yang merupakan singkatan dari gulai tikungan sudah ada sejak awal 1980an.

Dinamakan gulai tikungan karena banyak pedagang gulai yang mangkal di tikungan jalan tersebut. Rasa dari gulai yang mereka jajakan pun tidak jauh berbeda. Walaupun tergolong kuliner kaki lima, gultik selalu ramai pengunjung.

Sejak pagi bahkan sampai malam hari, mereka membuka lapak. Bahkan pada malam hari, kawasan tersebut justru makin ramai, terkadang sampai menjelang pagi. Mulai yang bermobil sampai pejalan kaki tak segan makan di sini. Mulai dari anak sekolah, remaja, pekerja kantoran, keluarga sampai orangtua.

Beberapa dari pedagang gultik sudah berjualan sejak puluhan tahun lalu, termasusk Mas Tondo. Ia sudah berjualan bersama pamannya, Ardi, sejak 1984. Awalnya, Tondo yang waktu itu masih sekolah hanya sekadar membantu.

Ia kemudian ikut berjualan sampai menggantikan sang paman yang kini sudah pensiun. "Dulu paman saya jualan nasi gulai berkeliling, setelah itu temannya ada yang ngajak jualan di daerah Bulungan ini. Dulu katanya baru ada tujuh penjual gultik, dan tempatnya dari awal memang sudah di sini," ucap Tondo pada Liputan6.com.

Kedai Mas Tondo terletak di belakang pusat perbelanjaan Blok M Plaza dan di seberang kedai Ayam Bakar Ganthari. "Dulu sempat nggak yakin bisa ramai, tapi ternyata banyak yang suka dan makin lama daerah sekitar sini makin ramai, ya akhirnya kita terus jualan di tempat ini sampai sekarang," terang Tondo yang terkadang dibantu salah seorang kerabatnya untuk melayani pembeli.

Setiap hari, gultik Mas Tondo biasanya terjual sampai 100 porsi, dan bisa mencapai 200 porsi lebih saat akhir pekan. Bahkan, pernah mencapai 300 porsi meski hanya sesekali.

Yang menarik dari gultik di kawasan Bulungan ini, mereka tetap ramai meski sekarang sudah ada sekitar 20 penjual gultik yang tersebar di kawasan tersebut. Apa ada kiat atau resep khusus yang membuat dagangan mereka selalu laris?

2 dari 3 halaman

Rasa Sama tapi Beda

"Yah, tiap penjual kan punya resep masing-masing. Rasanya memang hampir sama, tapi ya tiap penjual pasti beda masaknya," ujar Tondo yang mengaku punya bumbu rahasia yang diturunkan dari pamannya.

Gulai yang dijual di kawasan ini merupakan gulai sapi. Pedagang biasanya menggunakan beberapa bagian sapi seperti urat, tetelan, lemak, sampai jeroan. Gulai dengan kuah santan yang tidak begitu kental dan rasanya yang gurih disiramkan diatas sepiring nasi, ditambah taburan bawang goreng, kecap, dan kerupuk.

Untuk yang menyukai pedas, Anda bisa meminta sambal pada pedagang. Rasanya memang sederhana tapi tetap menggugah selera, bahkan bisa dibilang bikin ketagihan.

Kalau Anda lagi lapar berat atau terbiasa makan dalam porsi besar, biasanya satu porsi atau satu piring pasti terasa kurang. Anda tinggal menambah satu porsi atau mungkin sampai tiga porsi kalau merasa belum kenyang.

Soal harga tak usah khawatir karena satu porsi harganya termasuk terjangkau dan murah meriah yaitu Rp 10 ribu. Meski tetap laris dengan menjual satu menu saja, bukan berarti para pedagang gultik tidak berinovasi.

"Sekarang ini kita menyajikan krupuk terpisah dengan nasi, jadi kita taruh krupuk di piring tersendiri. Terus sudah beberapa tahun ini kita menyajikan sate usus, ati dan ampela sama telur puyuh, biar ada variasinya," tutur Tondo. Untuk satu buah sate, ada yang harganya Rp 4 ribu dan ada yang Rp 5 ribu.

3 dari 3 halaman

Semakin Malam Makin Ramai

Inovasi lainnya adalah bangku plastik yang ditata menjadi seperti meja. Menurut Tondo, para pedagang gultik sudah pernah menyediakan meja kecil untuk pengunjung, tapi kemudian dilarang pihak pengelola. Mereka tak kehabisan akal. 

Dengan begitu pengunjung yang biasaya makan gultik sambil memegang piring, kini bisa menaruhnya di bangku yang dibentuk seperti meja. Gultik Bulungan termasuk kedai mas Tondo, buka setiap hari dari pukul 5 sore sampai pukul 4 pagi.

"Dulu kita bisa jualan 24 jam, tapi sekarang di dekat Blok M Plaza ini cuma boleh buka mulai sore. Kalau yang di daerah Mahakam ada yang jualan dari pagi sampai sore, tapi orangnya beda. Terus nanti diterusin lagi sama pemilik yang lain mulai dari sore sampai pagi," jelas Tondo. 

Biasanya semakin malam, kawasan Bulungan semakin ramai terutama di malam Sabtu dan malam Minggu. Para pedagang gultik, termasuk Mas Tondo pun diserbu para pengunjung yang ingin menikmati kuliner legendaris Jakarta ini. Terkadang setelah makan mereka nongkrong dan mengobrol cukup lama untuk menikmati dinginnya malam sebelum pulang untuk menyambut datangnya mentari pagi.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Pemerintah Uji Coba Kartu Prakerja di Jakarta dan Bandung
Artikel Selanjutnya
Masuk Daftar 100 Kota Berbahaya di Dunia, Jakarta Masih Lebih Aman dari Kuala Lumpur