Seduhan Kopi dan Mimpi Besar Santri Gontor di Lereng Merapi

Kesuksesan tidak datang secara instan. Seperti halnya kopi yang harus melalui proses roasting dan brewing, keberhasilan juga lahir dari proses panjang yang ditempa melalui pengalaman.

Diterbitkan 06 Maret 2026, 07:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di bawah sejuknya udara lereng Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Gadingsari, Desa Mangunsari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, sebuah inisiatif pendidikan yang unik tengah tumbuh di lingkungan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 5 Darul Qiyam.

Selama bulan suci Ramadan, sebuah coffee shop di lingkungan pesantren ini tidak sekadar menjadi tempat menikmati secangkir kopi hangat. Di tangan para santri, tempat tersebut menjelma menjadi laboratorium pembelajaran yang menanamkan jiwa kewirausahaan sekaligus nilai-nilai kepesantrenan.

Program ini dirancang untuk mengisi momentum Ramadan dengan aktivitas produktif yang memadukan etos kerja, kemandirian, serta pembentukan karakter. Di tengah panorama pegunungan yang asri, para santri belajar mengelola usaha secara langsung, mulai dari pelayanan pelanggan, pengelolaan produk, hingga memahami sistem bisnis secara profesional.

Bagi para pembimbing, setiap proses yang dilakukan santri bukan sekadar praktik usaha, melainkan bagian dari pendidikan mental.

Ustadz Anggo, Pembimbing Coffee Shop Gontor 5, mengatakan bahwa setiap cangkir kopi yang disajikan santri merupakan bagian dari proses pembentukan karakter.

“Di lereng Merapi yang dingin ini, kami ingin menyalakan api semangat kemandirian dalam jiwa para santri. Coffee shop ini adalah kawah candradimuka bagi mereka. Saya selalu katakan, jangan hanya belajar cara menyeduh kopi, tetapi pelajari juga bagaimana membangun sistem,” ujar Ustadz Anggo dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, kesuksesan tidak datang secara instan. Seperti halnya kopi yang harus melalui proses roasting dan brewing, keberhasilan juga lahir dari proses panjang yang ditempa melalui pengalaman.

Ia menambahkan, mentalitas untuk menjadi “tangan di atas” mampu memberi manfaat bagi orang lain, perlu dipupuk sejak dini.

“Kami ingin mereka berani mencoba dan bahkan berani gagal di laboratorium ini. Jika hari ini mereka belajar teliti menimbang gramasi kopi, suatu saat mereka juga akan teliti dalam menjaga amanah umat,” tambahnya.

Inisiatif ini sejalan dengan falsafah pendidikan Gontor yang menekankan pentingnya kemandirian ekonomi sebagai bagian dari pembentukan karakter santri.

 

Visi Besar daripada Sekedar Bisnis Kopi

Wakil Pengasuh Gontor 5 Magelang, Ustadz Imam Haryadi, menyampaikan bahwa unit usaha tersebut memiliki visi yang lebih besar daripada sekadar bisnis kopi.

“Dunia saat ini membutuhkan Muslim yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga kuat secara ekonomi. Kita tidak sekadar membangun kedai kopi, kita sedang membangun harga diri umat,” ujarnya.

Ia berharap dari tempat sederhana di lereng Merapi ini kelak lahir generasi Muslim yang mampu berkontribusi besar bagi masyarakat.

“Saya ingin dari sini lahir pengusaha-pengusaha Muslim yang kuat, yang hartanya menjadi sarana dakwah, dan yang tangannya terbuka untuk membantu sesama,” kata Imam Haryadi.

Lebih jauh, ia mengingatkan para santri bahwa kewirausahaan juga merupakan bagian dari ibadah.

“Ingat, Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang sebelum diangkat menjadi Rasul. Dari situ kita belajar tentang sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah dalam menjalankan bisnis,” ujarnya.

Selama Ramadan, Coffee Shop Gontor 5 pun menjadi ruang interaksi yang tidak hanya menawarkan minuman hangat, tetapi juga pengalaman edukatif. Para pengunjung yang datang dapat menikmati kopi di tengah panorama Merapi sekaligus menyaksikan secara langsung para santri belajar menjadi wirausahawan muda.

Di balik aroma kopi yang mengepul, tersimpan proses panjang pembentukan generasi yang diharapkan kelak menjadi penggerak ekonomi umat—berintegritas, mandiri, dan berdaya saing.