Ayana Jihye Moon Ungkap Pertemuan dengan Profesor Hamid Choi, Tokoh Muslim Penting di Korea Selatan

Pertemuan Ayana Jihye Moon dengan Profesor Emeritus Hamid Choi bahkan membuahkan rencana kolaborasi.

Diterbitkan 06 Maret 2026, 04:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kedatangan bulan Ramadan membuat umat muslim berlomba-lomba untuk menjalankan kegiatan yang penuh makna. Begitu pula dengan Ayana Jihye Moon. Influencer asal Korea Selatan ini bersilaturahmi dengan seorang tokoh muslim penting di Negeri Ginseng, Profesor Emeritus Hamid Choi. 

Pertemuan ini ia abadikan dalam sebuah unggahan di Instagram yang ia bagikan baru-baru ini. Ia berfoto dengan sang profesor, bersama dengan tiga kitab Al-Qur'an dengan huruf Hangul di sampulnya. 

Ternyata, seperti dirinya, Profesor Emeritus Hamid Choi adalah seorang mualaf. "Hampir setengah abad (50 tahun) sejak Prof. Emeritus Hamid Choi memeluk Islam," tulis Ayana di caption. 

Ia menambahkan informasi pertemuan ini dan sosok Profesor Hamid Choi, yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam di Korea Selatan. 

"Sehari sebelum saya kembali ke #Indonesia setelah menyelesaikan berbagai agenda pekerjaan dan pertemuan riset di Korea, saya mendapat kehormatan menerima 3 versi Al-Qur’an berbeda yang diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Korea oleh Prof. Emeritus Hamid Choi (orang Korea pertama yang menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Korea)," tulisnya.

Kagum dengan Perjalanan Profesor Hamid Choi

Dalam pertemuan tersebut, Ayana banyak mendapat cerita mengenai perjalanan Profesor Hamid Choi dalam menemukan Islam, yang begitu menyentuh hatinya. 

"Lahir pada tahun 1949, Prof. Emeritus Hamid kini mendekati usia 80 tahun. Namun hingga hari ini, beliau tetap mendedikasikan waktunya setiap hari untuk belajar, melakukan penelitian demi Ummah, serta memberikan konsultasi terkait halal dan berbagai isu syariah," kata Ayana.

Kolaborasi Ayana - Profesor Hamid Choi

Dari pembicaraan mereka, Ayana dan Profesor Hamid Choi menemukan bahwa ternyata ada sejumlah kesamaan dalam perjalanan mereka, yang membuat mereka ingin berkolaborasi. 

"Saat kami saling berbagi kisah hijrah, kami menyadari betapa banyak kesamaan dalam perjalanan kami," tulis Ayana.

"Dari pertemuan tersebut, kami pun memutuskan untuk menulis sebuah buku bersama yang akan menceritakan perjalanan hijrah kami berdua. InsyaAllah, buku ini akan diterbitkan pada tahun 2026," kata dia lagi.

Terakhir, Ayana minta doa untuk kemudahan proyek ini. 

Perjalanan Profesor Hamid Choi

Dilansir dari pemberitaan Chosun Daily pada 1998 silam, sebelum Profesor Hamid Choi menerjemahkan Al-Qur'an secara langsung dari bahasa Arab ke Korea, kitab suci ini dialihbahasakan dari terjemahan bahasa Jepang. Disebutkan bahwa butuh 10 tahun untuk membuat terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Korea. 

Pada 2009, Profesor Hamid Choi mendapat  King Abdullah bin Abdulaziz International Award for Translation atas kontribusinya ini.Â