Liputan6.com, Jakarta - Dalam khazanah Islam, ada satu ibadah yang sering didengar namun jarang dilakukan, yaitu sholat safar. Sebagian masyarakat awam mungkin masih bertanya-tanya, shalat safar untuk apa?
Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, perjalanan (safar) menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas manusia, baik untuk bekerja, berwisata, menuntut ilmu, menjalin silaturahmi, maupun menunaikan ibadah haji dan umrah, bahkan perjalanan wisata sekalipun.
Untuk keperluan itu, seseorang sering kali harus meninggalkan rumah dan keluarganya untuk waktu tertentu. Umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan sholat safar. Dalam riwayat Anas bin Malik, disebutkan: "Sungguh, Nabi Muhammad SAW tidak tinggal di suatu tempat kecuali meninggalkan tempat tersebut dengan shalat dua rakaat." (HR Anas bin Malik).
Advertisement
Dalam perspektif Islam, perjalanan bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah momen yang penuh dengan tantangan sekaligus peluang spiritual. Seorang muslim diajarkan untuk tidak hanya mempersiapkan bekal fisik, tetapi juga bekal spiritual sebelum melangkahkan kaki meninggalkan rumah.
Merujuk ebook Panduan Musafir, Adab dan Hukum Safar karya Abdullah Haidir, Buku Tuntunan Shalat Musafir Plus Panduan Ibadah Musafir Lainnya, karya Aulia Fadhli, serta sumber relevan lain, artikel ini akan mengulas tujuan dan faidah sholat safar, hingga tata caranya.
Tujuan dan Makna di Balik Shalat Safar
Shalat safar adalah shalat sunnah dua rakaat yang dilakukan oleh seseorang ketika hendak melakukan perjalanan (safar). Amalan ini dikenal pula dengan sebutan shalat sunnah safar, yaitu shalat sunnah yang dikerjakan sebelum berangkat bepergian sebagai bentuk ikhtiar dan doa untuk memohon perlindungan serta keselamatan selama perjalanan.
Berikut ini adalah tujuan sekaligus faidah sholat Safar:
1. Wujud Permohonan Perlindungan dan Keselamatan
Tujuan utama shalat safar adalah sebagai wujud permohonan seorang hamba kepada Allah SWT agar diberikan hidayah, pertolongan, dan keselamatan selama perjalanan. Perjalanan, terutama perjalanan jauh, mengandung potensi kelelahan, bahaya, dan ujian yang tidak sedikit. Melalui shalat safar, seorang musafir menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan memohon perlindungan-Nya dari segala marabahaya.
2. Meneladani Sunnah Rasulullah SAW
Shalat safar merupakan amalan yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau tidak pernah meninggalkan sebuah tempat kecuali dengan shalat dua rakaat. Dengan melaksanakan shalat safar, seorang muslim menunjukkan kecintaan dan kepatuhan kepada sunnah Nabi, sekaligus meraih keberkahan yang terkandung di dalamnya.
3. Bekal Terbaik bagi Keluarga yang Ditinggal
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada sesuatu yang lebih utama untuk ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya, daripada dua rakaat yang dia kerjakan di tengah (tempat) mereka ketika hendak melakukan perjalanan." (HR ath-Thabrani)
Hadits ini menunjukkan bahwa shalat safar bukan hanya bermanfaat bagi pelakunya, tetapi juga menjadi benteng perlindungan bagi keluarga yang ditinggalkan. Sebelum menitipkan keluarga kepada sebab-sebab duniawi, seorang muslim terlebih dahulu menitipkan mereka kepada Allah melalui shalat dan doa.
4. Bentuk Adab dan Etika Sebelum Bepergian
Shalat safar bukan sekadar ibadah sunnah, melainkan bentuk adab dan etika sebelum bepergian. Amalan ini mengajarkan agar seorang muslim berangkat dengan hati yang bersih, niat yang lurus, serta kesadaran penuh bahwa perjalanan adalah bagian dari ujian dan ketundukan terhadap takdir Allah SWT.
5. Penghalang dari Keburukan
Rasulullah SAW bersabda: "Jika engkau keluar dari rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat, yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Dan jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah." (HR al-Baihaqi)
6. Permohonan Keberkahan dan Kelancaran
Shalat safar juga bertujuan memohon keberkahan dan kelancaran dalam setiap urusan perjalanan. Dengan memulai perjalanan dengan ibadah, seorang muslim berharap seluruh rangkaian perjalanan—mulai dari keberangkatan hingga kepulangan—mendapat keberkahan dari Allah SWT.
Hukum Shalat Safar
Berdasarkan dalil-dalil hadits yang sahih, shalat safar hukumnya sunnah (dianjurkan). Ini berarti amalan ini sangat dianjurkan untuk dikerjakan, namun tidak wajib. Kesunnahan ini berlaku bagi setiap muslim yang akan melakukan perjalanan, baik perjalanan dekat maupun jauh, dengan catatan perjalanan tersebut bertujuan baik dan tidak mengarah pada maksiat.
Kesunnahan ini berdasar pada sejumlah hadis Nabi SAW. Di antaranya riwayat Anas bin Malik.
"Sungguh, Nabi Muhammad SAW tidak tinggal di suatu tempat kecuali meninggalkan tempat tersebut dengan shalat dua rakaat." (HR Anas bin Malik)
Selain itu, terdapat hadis lain yang juga menunjukkan anjuran sholat Safar: "Tidak ada sesuatu yang lebih utama untuk ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya, daripada dua rakaat yang dia kerjakan di tengah (tempat) mereka ketika hendak melakukan perjalanan." (HR ath-Thabrani)
Rasulullah SAW memerintahkan umatnya sholat safar sebelum bepergian, "Jika engkau keluar dari rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat, yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah." (HR al-Baihaqi)
Sementara, dalam hadits riwayat Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad, terdapat doa safar: "Apabila Rasulullah SAW hendak keluar untuk suatu perjalanan, beliau mengerjakan shalat dua rakaat, lalu berkata: 'Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan takwa serta amal yang Engkau ridhai.'"
Pandangan Ulama
Imam Nawawi dalam kitab Majmu' Syarhil Muhadzdzab menjelaskan bahwa shalat safar hanya disunnahkan bagi orang-orang yang hendak bepergian, dan boleh dilakukan di waktu apa pun, baik malam maupun siang hari.
Imam Nawawi dalam kitab Al-Idhah fi Manasikil Hajj juga menyatakan bahwa jamaah haji dianjurkan melakukan shalat dua rakaat sebelum keluar rumah. Pada rakaat pertama dianjurkan membaca surat Al-Kafirun dan pada rakaat kedua membaca surat Al-Ikhlas.
Syekh Abdurrauf Al-Munawi (wafat 1031 H) dalam kitab Faidh al-Qadir Syarh al-Jami' as-Shagir menjelaskan bahwa hikmah shalat safar adalah sebagai penghalang dari berbagai keburukan yang mungkin menimpa seseorang di luar rumah, sekaligus sebagai penjaga agar keburukan tidak masuk ke dalam rumah.
Abdurrahman Al-Juzairi dalam kitab Al-Fiqh 'Ala Al-Madzahib Al-Arba'ah juga menjelaskan anjuran bagi orang yang hendak berangkat melakukan perjalanan jauh untuk melaksanakan shalat safar.
Agar lebih memahami sholat safar, berikut ini adalah tata caranya.
Tata Cara Shalat Safar
1. Niat
Shalat safar diawali dengan niat. Lafal niatnya adalah sebagai berikut:
Arab: أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Ushallî sunnatas safari rak'ataini lillâhi ta'âlâ
Artinya: "Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah Ta'âlâ."
2. Waktu Pelaksanaan
Shalat safar dapat dilaksanakan kapan saja, baik siang maupun malam hari, dengan catatan dikerjakan sebelum keberangkatan—yakni sebelum keluar dari rumah atau sebelum menaiki kendaraan.
Namun demikian, perlu diperhatikan waktu-waktu yang makruh untuk melaksanakan shalat sunnah, yaitu:
· Setelah shalat Subuh hingga terbit matahari
· Ketika matahari tepat di atas kepala (istiwa') hingga tergelincir
· Setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam
· Ketika matahari terbit
· Ketika matahari berwarna kekuning-kuningan hingga tenggelam
3. Pelaksanaan Shalat
· Shalat safar dikerjakan sebanyak dua rakaat dengan gerakan dan bacaan seperti shalat sunnah pada umumnya:
· Rakaat pertama: Setelah takbiratul ihram, doa iftitah, dan membaca Surat Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surat Al-Kafirun
· Rakaat kedua: Membaca Surat Al-Fatihah, lalu dianjurkan membaca Surat Al-Ikhlas
4. Setelah Shalat
Setelah salam, dianjurkan untuk:
· Membaca Ayat Kursi untuk menambah keamanan
· Membaca Surat Quraisy
· Membaca doa safar yang berisi pujian kepada Allah, shalawat kepada Nabi Muhammad, serta permohonan kemudahan dan perlindungan dalam perjalanan
Doa Setelah Shalat Safar
Setelah shalat safar, dianjurkan membaca doa berikut yang diriwayatkan oleh para ulama:
Arab: اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اَللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ
Latin: Allâhumma innâ nas-aluka fî safarinâ hâdzâ al-birra wat-taqwâ, wa minal 'amali mâ tardhâ. Allâhumma hawwin 'alainâ safaranâ hâdzâ wathwi 'annâ bu'dahu. Allâhumma antash shâhibu fis-safari, wal-khalîfatu fil-ahli. Allâhumma innî a'ûdzu bika min wa'tsâ-is-safari, wa ka-âbatil-manzhari, wa sû-il-munqalabi fil-mâli wal-ahli.
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah baginya kejauhan. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan pengganti (penjaga) bagi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan buruknya perubahan pada harta dan keluarga."
5 Hikmah Shalat Safar
1. Penghalang dari Keburukan dan Marabahaya
Shalat safar merupakan benteng spiritual yang melindungi seorang musafir dari keburukan yang mungkin menimpanya selama perjalanan. Rasulullah SAW menjanjikan bahwa dua rakaat shalat safar akan menghalangi seseorang dari kejelekan di luar rumah.
2. Wujud Tawakal dan Ketergantungan kepada Allah
Dengan melaksanakan shalat safar, seorang hamba menunjukkan ketergantungannya kepada Allah dalam setiap langkah. Ini mengajarkan bahwa keselamatan dan kelancaran perjalanan sepenuhnya berada di tangan Allah, bukan semata-mata pada kemampuan dan persiapan manusia.
3. Keberkahan dan Kelancaran Perjalanan
Shalat safar menjadi sarana untuk memohon keberkahan dalam setiap urusan perjalanan. Perjalanan yang diberkahi akan membawa manfaat tidak hanya bagi pelakunya, tetapi juga bagi orang-orang yang ditinggalkan di rumah.
4. Penguatan Niat dan Kesadaran Spiritual
Melalui shalat safar, seorang musafir menguatkan niatnya bahwa perjalanan yang ditempuh bukan sekadar mobilitas fisik, tetapi bagian dari ibadah menuju ridha Ilahi. Hal ini mengubah perjalanan yang bersifat mubah menjadi amalan yang bernilai ibadah.
5. Meneladani Sunnah Rasulullah SAW
Dengan melaksanakan shalat safar, seorang muslim meneladani kebiasaan Rasulullah SAW yang tidak pernah meninggalkan shalat sunnah sebelum bepergian. Mengikuti sunnah Nabi adalah bentuk kecintaan kepada beliau yang akan mendatangkan pahala yang besar.
Pertanyaan Seputar Sholat Safar
1. Apakah shalat safar wajib dilakukan?
Shalat safar hukumnya sunnah (dianjurkan), tidak wajib. Namun, karena Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya ketika hendak bepergian, maka sangat dianjurkan untuk diamalkan.
2. Kapan waktu terbaik melaksanakan shalat safar?
Waktu pelaksanaan shalat safar cukup fleksibel—bisa pagi, siang, sore, atau malam hari—selama dilakukan sebelum meninggalkan rumah atau sebelum menaiki kendaraan.
3. Berapa rakaat shalat safar?
Shalat safar dikerjakan sebanyak dua rakaat.
4. Surat apa yang dianjurkan dibaca dalam shalat safar?
Pada rakaat pertama dianjurkan membaca Surat Al-Kafirun setelah Al-Fatihah, dan pada rakaat kedua membaca Surat Al-Ikhlas.
5. Apakah shalat safar bisa dikerjakan secara berjamaah?
Shalat safar pada dasarnya dianjurkan untuk dikerjakan sendirian (munfarid) tanpa berjamaah sebelum meninggalkan rumah.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2559129/original/026504800_1546249540-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627383/original/048072800_1782622786-153948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5102744/original/034549900_1737446919-1737445609592_tata-cara-sholat-tahajud-2-rakaat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929510/original/065051700_1782959692-bos7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8920532/original/092816500_1782954338-AP26183030266108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262489/original/072589900_1781818934-Switzerland_s_Johan_Manzambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8888290/original/030850900_1782938816-Senegal_s_Habib_Diarra__21__scores_their_first_goal_against_Belgium_goalkeeper_Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8898171/original/047299800_1782942914-Belgium_s_Romelu_Lukaku_senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8896227/original/086707700_1782942096-Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782402/original/009814100_1782885154-belanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8901298/original/009057900_1782944367-Belgium_s_Youri_Tielemans__left__celebrates_with_Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263356/original/061813100_1781903816-AP26170714954300-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8899597/original/014754500_1782943656-Belgian_players_celebrate_youre_tieleman_s_goal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261500/original/047650500_1781713643-bosnia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263358/original/034169000_1781903942-063_2282397014.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8921337/original/094985200_1782954710-79038.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8918208/original/064873700_1782952771-IMG-20260701-WA0052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3430878/original/058976400_1618561327-20210416-Itikaf-Masjid-Kubah-Emas-4.jpg)