Puasa untuk Pasien Diabetes, Ini Syarat dan Gaya Hidup yang Perlu Dijalankan

Pasien diabetes secara umum bisa menjalankan puasa tapi ada beberapa kondisi yang perlu diketahui sebelum menjalankannya.

Diterbitkan 16 Februari 2026, 04:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasien diabetes kerap bertanya-tanya tentang boleh atau tidaknya berpuasa di bulan Ramadan. Secara umum pasien diabetes bisa menjalankan puasa di bulan Ramadhan seperti disampaikan dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi Octo Indradjadja.

"Sebetulnya kalau kita lihat sebagian besar pasien diabetes bisa berpuasa dan hanya pada sedikit orang mempunyai risiko. Terutama yang gula darahnya yang tidak terkendali, sekarang pasien-pasien kita kalau dilihat setiap musim buah-buahan pasti gulanya naik. Setiap musim boba-boaan, akhirnya naik juga gula darahnya," ujar Indradjadja dicuplik dari acara Bincang Sehat Asik RSUD Jawa Barat Welas Asih, ditulis Bandung, Minggu (15/2/2026).

Indradjadja menegaskan pasien diabetes harus disiplin saat menjalani gaya hidupnya. Jadwal diet, olahraga, mengkonsumsi obat, dan pemantauan gula mandiri menjadi kunci saat menjalankan ibadah puasa.

Indradjadja mengatakan selain disiplin dalam menjalani gaya hidup dan jadwal ketat yang harus dijalankan pasien diabetes, idealnya untuk mengetahui dapat beribadah puasa di Bulan Ramadhan harus dilakukan uji coba tiga bulan sebelumnya.

"Jadi latihannya pada tiga bulan sebelum berpuasa wajib, pasien itu harus menghindari makanan yang mengandung glukosa. Itu tidak boleh, mengurangi gula, banyak makan serat, terus dia harus memiliki kombinasi antara karbohidrat dan lemak yang seimbang," kata Indradjadja.

Keseimbangan menu makan pasien diabetes saat tiga bulan menjelang berpuasa dapat diukur dengan menggunakan telapak tangan. Porsi nasi hanya segenggam, proteinnya seluas telapak tangan, sayuran sebanyak dua raup tangan, dan minyaknya seujung kuku.

Indradjadja menegaskan pola menu makan dengan jurus porsi telapak tangan tidak hanya berlaku pada saat tiga bulan sebelum Bulan Ramadhan, namun berlaku harian bagi pasien diabetes.

"Banyak dipertanyakan oleh semua pasien. Tapi sayangnya pertanyaan itu menjelang puasa saja tapi kalo dia enggak puasa, enggak pernah ditanyakan bisa berpuasa atau tidak. Padahal harus mempersiapkan diri tiga bulan sebelum puasa, bagaimana bisa berpuasa dengan baik," terang Indradjadja.

 

Ciri Pasien Diabetes Bisa Berpuasa

Indradjadja menyebut beberapa ciri pasien diabetes bisa menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan, yakni memiliki kadar gula darah baik yang terkontrol.

Namun, jika memiliki penyakit penyerta sebelumnya seperti penyakit jantung, ginjal, liver, harus tetap berhati-hati apalagi pada pasien yang menggunakan insulin dosis tinggi.

"Karena ada yang disuntik pagi 30 (mililiter), siang 30, malam 30 itu agak susah ngaturnya karena dia bergantung pada insulin. Kalau pasien mau berpuasa, sebaiknya kadar gula darahnya setelah makan sekitar 200 (miligram per desiliter), dibawah 300 mg/dL lah. Nah itu baru bagus," jelas Indradjadja.

Jika kadar gula darah setelah makan diatas angka 300 mg/dL, disarankan pasien diabetes tidak menjalankan ibadah puasa. Pasalnya, nanti akan banyak kerugian bagi pasien diabetes jika menjalankannya dan diganti menebusnya dengan harta (fidyah).

Tapi kejadian yang sering ada adalah pasien diabetes memaksakan diri menjalani ibadah puasa sehingga kondisi berubah menjadi kegawatdaruratan.

"Jadi jangan memaksa, saya sering bilang ke pasien jangan berpuasa karena kadar gulanya tinggi. Diganti saja dengan bayar fidyah. Berpuasa untuk pasien diabetes apalagi yang menggunakan insulin dosis tinggi diharapkan dilakukan secara terukur," terang Indradjadja.

Porsi Sahur dan Buka Puasa

 

Pasien diabetes yang dapat menjalankan ibadah puasa, Indradjadja mengingatkan agar makan sahur porsinya 30-40 persen dari menu makan hari biasa.

Sementara untuk makan berbuka puasa 40-50 persen dari makan hari biasa, ditambah 10 persen makanan ringan yang dilakukan dua jadwal.

"Jadi pas waktu buka, kita jangan langsung makan tapi mengkonsumsi snack dulu yang 10 persen. Begitu azan (magrib) itu snack dulu, habis itu baru kita makan," jelas Indradjadja.

Indradjadja menyarankan mengonsumsi kurma saat berbuka bagi pasien diabetes, syaratnya tidak berlebihan. Jumlah kurma yang ideal dikonsumsi saat berbuka yaitu tiga biji dengan kondisi buahnya kering.

Indradjadja tidak menyarankan pasien diabetes mengkonsumsi gorengan, berbagai macam kolak dan sop buah karena dapat memicu lonjakan kadar gula darah yang tinggi.

"Jangan nanti ditambah kolak atau sup buah. Buahnya saja sudah gula tinggi apalagi sup (cairan manis). Selain mengandung gula, ada kolak yang mengandung tepung dan gula merah yang merupakan sumber karbohidrat yang tinggi. Jangan berpikir gula putih saja yang bermasalah," tutur Indradjadja.

 

Jenis Olahraga yang Diperbolehkan

Selain pola makan saat sahur dan berbuka puasa, pasien diabetes juga diperbolehkan untuk berolahraga. Olahraga yang dilakukan harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien dan waktu pelaksanaan yang tepat.

Indradjadja menganjurkan pada saat menjalankan ibadah puasa, sebaiknya berolahraga dilakukan setelah berbuka puasa.

"Jangan sehabis sahur atau mendekati jadwal berbuka. Karena saat mendekati jadwal berbuka, kadar gula dalam tubuh sudah sangat rendah sekali. Takutnya pingsan, jadi mendingan sehabis berbuka," ujar Indradjadja.

Salah satu olahraga yang dapat rutin dilakukan oleh pasien diabetes dan non diabetes adalah salat tarawih. Selain menjalankan ibadah, salat tarawih juga dapat membantu menstabilkan kembali kadar gula dalam tubuh usai berbuka puasa.

Indradjadja menegaskan selama menjalankan ibadah puasa, pemantauan kadar gula darah harus dilakukan secara ketat. Baik sebelum berpuasa dan sedang menjalani puasa.

"Kalau yang dianjurkan untuk pemeriksaan tujuh titik. Jadi sebelum sahur, dua jam setelah sahur, tengah hari, sore hari, sebelum berbuka, dua jam setelah buka, dan tengah malam," tutur Indradjadja.

Jika pasien diabetes merasakan kadar gula darah tinggi, maka segera melakukan pengecekan. Apabila hasil kadar gula darahnya diatas 300 mg/dL segera membatalkan puasanya.

Sama halnya bila kadar gula darah rendah yaitu kurang dari 70 mg/dL, Indradjadja menyarankan pasien diabetes segera berbuka puasa.

"Pengecekan ini dilihat pada tiga hari awal berpuasa. Kalau bagus nih, berarti kita tetap berpuasa. Kalau tetiba tubuh gemetar, keluar keringat dingin, merasakan lapar yang sangat itu siap-siap itu dibawah 70 mg/dL," jelas Indradjadja.

 

Risiko Pasien Diabetes Berpuasa

 

Saat menjalankan ibadah wajib berpuasa selama 30 hari penuh, pasien diabetes memiliki risiko yang harus diwaspadai. Indradjadja menyebut ada  risiko saat pasien diabetes berpuasa.

Pertama kondisi hipoglikemia yaitu kadar gula darah dibawah 70 mg/dL yang ditandai dengan keluar keringat dingin, menggigil, lapar berat, dan tubuh mulai oleng.

Kedua adalah hiperglikemia yaitu kadar gula darah diatas 300-400 mg/dL, saat pasien diabetes merasa cepat kecapean, haus dan kencing menerus, dan kemungkinan kehilangan kesadaran karena gula darahnya terlalu tinggi.

Ketiga adalah koma hiperglikemia dan keempat yaitu dehidrasi. Kondisi dehidrasi itu kerap terjadi saat menjalani ibadah puasa. Saat kondisi kadar gula tinggi akan menyerap air lebih banyak.

"Sehingga si pasiennya itu kencing terus, tiba-tiba dia dehidrasi. Makanya orang yang hiperglikemia itu tidak boleh puasa karena kencing terus dan dehidrasi. Jika dehidrasi terus berlangsung maka akan mempercepat stroke," jelas Indradjadja.

Agar pelaksanaan ibadah puasa bagi pasien diabetes lancar terkendali, disarankan sebelum menjalankannya berkonsultasi dahulu dengan dokter.